• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
Download
 
BERIMAN TANPA RASA TAKUT
Bab 1 - Kenapa Aku Menjadi Muslim Refusenik?
“Di kelas-kelas hari Sabtuku, aku didoktrin: Kalau kau orang yang beriman, kau janganberpikir. Kalau kau berpikir, maka kau bukan orang yang beriman.”
(Irshad Manji)
SEPERTI JUTAAN kaum muslim lainnya selama 40 tahun terakhir, keluargaku berimigrasi keBarat. Kami tiba di Richmond, daerah suburban kelas-menengah kota Vancouver, BritishColumbia, Kanada, pada tahun 1972. Saat itu umurku baru empat tahun. Antara tahun 1971 dan1973, ribuan muslim Asia Selatan melarikan diri dari Uganda setelah sang diktator militer,Jenderal Idi Amin Dada, menyatakan bahwa Afrika diperuntukkan hanya bagi warga kulit hitam.Dia memberi waktu kami yang berkulit cokelat beberapa minggu saja untuk pergi atau mati.Kaum muslim yang telah menghabiskan hidup mereka di Afrika Timur berterima kasih kepada pemerintah Inggris, yang telah membawa kami ke Asia Selatan untuk membantu pembuatan jalan kereta api di koloni-koloni Afrika mereka. Setelah beberapa generasi, banyak kaum muslimyang meningkat hidupnya dan menjadi pedagang yang makmur. Ayah dan saudara-saudaralelakinya, yang menjalankan bisnis
dealer 
Mercedes-Benz di dekat Kampala, memperolehkeuntungan dari mobilitas kelas sosial yang diwariskan oleh pemerintah Inggris kepada kami.Tetapi mobilitas kelas sosial itu tidak kami wariskan kepada orang kulit hitam, penduduk asliyang kami pekerjakan.Pada umumnya, kaum muslim di Afrika Timur memperlakukan orang kulit hitam seperti budak.Aku ingat ketika Ayah memukuli Tomasi, pelayan kami, dengan keras hingga menyebabkanlebam-lebam mengkilap di bagian-bagian tubuhnya yang legam. Meskipun aku, kedua saudara perempuanku, dan ibuku menyayangi Tomasi, tetapi kami akan ikut dihajar jika Ayah memergokikami mengobati luka-lukanya. Aku tahu, hal serupa juga terjadi di banyak rumah tangga muslimlainnya.Dan perbudakan tetap berlangsung setelah keluargaku pergi dari sana. Itulah sebabnya, saatmenginjak remaja, aku menolak jika diajak menjenguk keluarga jauhku di Afrika Timur. “Kalauaku pergi bersama Ibu,” aku mengingatkan ibuku, “Ibu tahu, kan, aku pasti bertanya pada bibi- bibi dan paman-pamanmu yang gendut-gendut itu: Kenapa mereka memperlakukan pembantumereka seperti budak?” Ibu bermaksud menjadikan perjalanan itu sebagai ucapan selamat tinggalkepada hubungan keluarga yang mulai menua. Bukan sebagai kampanye hak asasi manusia.Khawatir keikutsertaanku mempermalukan Ibu, maka aku tetap tinggal di rumah.Saat Ibu pergi, aku berpikir lebih dalam lagi tentang makna “rumah”. Aku sampai pada pemikiran bahwa rumah adalah tempat tinggal martabatku, bukan semata-mata tempat nenek moyangku berasal. Saat itu adalah awal ketika aku menyadari mengapa demam poskolonial pan-Afrikanisme—“Afrika untuk orang kulit hitam”—menyapu benua tempatku dilahirkan. Banyak kaum muslim kurang menghargai martabat orang yang kulitnya lebih gelap daripada kulit kami.Tanpa perasaan, kami mengeksploitasi penduduk Afrika asli. Dan, tolong jangan katakan bahwa
 
kami mempelajari kekejaman ini dari orang Inggris, sebab itu akan memunculkan pertanyaan:Kenapa kami tidak mempelajari cara memberi ruang gerak bagi orang kulit hitam yang berbakatwirausaha sebagaimana halnya orang Inggris telah memberikannya kepada kami?Di sini aku tidak minta maaf karena terserang oleh fakta bahwa aku pernah memiliki seorangTomasi. Aku yakin, kebanyakan dari Anda pun menentang perbudakan. Namun, bukan Islamyang membantu mengembangkan keyakinanku bahwa setiap manusia memiliki martabat.Lingkungan demokratis tempat keluargaku bermigrasilah yang membuatku meyakini hal itu.Richmond adalah tempat di mana bahkan seorang gadis kecil muslim pun dapat merasa terikat—  bukan terikat dalam arti pernikahan. Simaklah penjelasanku berikut ini.Beberapa tahun setelah keluargaku sedikit mapan, Ayah menemukan layanan penjagaan bayigratis di Gereja Baptis Rose of Sharon. (Ucapkan “gratis” pada seorang imigran, makaketerikatannya pada agamanya akan pudar oleh tawaran murah yang sangat dibutuhkan saat itu).Saban minggu, ketika Ibu meninggalkan rumah untuk menjajakan produk-produk Avon darirumah ke rumah, Ayah, yang kurang akrab dengan anak-anak, akan ”meninggalkan” anak-anaknya di gereja itu. Di sana, seorang perempuan Asia Selatan yang mengawasi studi Injilmenunjukkan padaku dan kakakku kesabaran yang sama seperti yang dia tunjukkan kepada anak lelakinya sendiri. Dia membikinku percaya bahwa pertanyaan-pertanyaanku cukup berhargauntuk dikatakan. Jelas, pertanyaan-pertanyaan yang kuajukan sebagai anak berumur tujuh tahunsederhana saja: Dari mana Yesus berasal? Kapan dia hidup? Apa pekerjaannya? Siapa yang dianikahi? Rentetan pertanyaan ini tentu tidak meyusahkan siapa pun. Tapi, yang kumaksudkan disini adalah, tindakan bertanya—dan bertanya lebih banyak lagi—selalu disambut dengansenyuman yang sangat hangat.Mungkin itulah yang memotivasiku, di umur delapan tahun, untuk memenangkan penghargaansebagai Orang Kristen Paling Menjanjikan Tahun Ini. Aku dikasih hadiah edisi
101 Kisah Injil 
yang berilustrasi warna-warna cemerlang. Aku mengenang kembali saat itu dan berterima kasihkepada Allah karena aku berada dalam dunia di mana Al-Quran tidak harus menjadi buku pertama dan satu-satunya yang boleh kumiliki, seolah-olah kitab itu adalah kekayaan tunggalyang diberikan kehidupan kepada orang-orang beriman. Lagi pula,
101 Kisah Injil 
membuatkuterpana karena gambar-gambarnya. Seperti apa kiranya penampilan buku
101 Kisah Al-Quran
?Saat itu, aku belum pernah melihat buku dan gambar seindah itu. Saat ini, banyak sekali bukuanak-anak tentang Islam, termasuk 
 A untuk Allah
, karya Yusuf Islam (seorang mualaf Barat yangnama aslinya Cat Stevens). Masyarakat yang bebas ternyata memungkinkan adanya penemuan-kembali diri sendiri dan terjadinya evolusi keimanan.Tak lama setelah aku meraih gelar sebagai Orang Kristen Paling Menjanjikan Tahun Ini, Ayahmerenggutku dari gereja itu. Sebuah
madrasah
(sekolah Islam) akan segera dibangun. Si kecil initak sabar lagi menanti. Jika pengalaman sekolah Minggu-ku menjadi ukuran, maka dengan luguaku beranggapan bahwa madrasah tentunya juga akan menyenangkan, atau samamenyenangkannya seperti gereja.Sementara itu, dunia baruku ikut tumbuh bersamaku. Sebuah mal yang begitu luas, yang akanmenjadi sangat penting dalam pendidikanku sebagai seorang muslim, Landsowne Centre,dibuka. Nama pendiri Richmond (orang-orang berdarah Skotlandia) yang menghiasi papan-
 
 papan petunjuk di luar mal—Brighouse, McNair, Burnett, Steveston—segera berdesak-desakanmenarik perhatian, bersaing dengan kata-kata dalam bahasa Hindi, Punjab, Urdu, Mandarin,Kanton, Korea, dan Jepang. Bahasa-bahasa ini menyelimuti interior Aberdeen Centre, yangdibangun beberapa tahun kemudian dan dijuluki sebagai “plaza belanja ala Asia terbesar diAmerika Utara”.Jauh sebelum itu, aku sudah menyadari bahwa tempat seperti Richmond dapat mengakomodasisiapa saja yang mau mengekspresikan isi hatinya. Di kelas sepuluh, aku berkampanye untuk menjadi ketua OSIS di J.N. Burnett Junior Secondary School. Tahun sebelumnya, aku sudahkalah dalam pemilihan di tingkat kelas. Aku kalah gara-gara ada seorang anak menjengkelkanyang tidak ingin seorang “Paki” (orang Pakistan— 
 Peny.
) mewakili kelasnya. Setahun kemudian,sebagian besar murid di sekolah membuat si Paki ini menjadi ketua terpilih mereka. DiRichmond, rasisme tidak harus menghalangi ambisi-ambisiku.Beberapa bulan kemudian, setelah aku menjadi ketua OSIS, wakil kepala sekolah tengah berjalanmelewati lokerku dan berhenti mematung ketika dia melihat selintas poster para pejuang revolusiIran yang kutempelkan di pintu loker. Dikirimkan oleh seorang pamanku di Prancis, poster itumemuat gambar perempuan-perempuan bercadar hitam yang menghancurkan sayap pesawatterbang. Sayap kiri pesawat bergambar palu-arit (gambar bendera Uni Soviet), sementara sayapkanan bergambar bintang dan garis-garis (gambar bendera Amerika Serikat).“Ini tidak pantas,” dia memberiku peringatan. “Turunkan poster itu.”Aku menunjuk ke loker sebelah yang di pintunya tergantung bendera Amerika. Aku lalu bertanya, “Kalau dia bisa mengungkapkan opininya secara terbuka, kenapa saya tidak?”“Karena kamu kurang menghargai nilai-nilai demokratis kita. Sebagai ketua OSIS, harusnyakamu jauh lebih tahu tentang hal itu.”Kuakui, aku tidak menyadari bahwa rezim Ayatollah Khomeini melahirkan totalitarianisme. Aku belum mengerjakan “PR”-ku. Sebagian tergoda oleh propaganda dan sebagian lagi olehkebanggaan hidup di masyarakat bebas, aku ingin membela perbedaan opini agar ”BenderaAmerika” tidak membunuh pandangan-pandangan lain. Aku pun berani mendebat wakil kepalasekolah itu.“Saya kurang menghargai demokrasi? Bagaimana mungkin Anda menyatakan diri Andamendukung demokrasi, sementara Anda melarang saya mengekspresikan diri saya, tetapi,”seraya menuding bendera Amerika di pintu loker lain, “orang lain bisa?”Kami saling menatap. “Kau memberi contoh buruk,” katanya. Dia menegakkan punggungnyadan berjalan menjauh.Anda harus memberinya hormat karena dia telah membiarkan perbedaan opini tetap hidup diBurnett Junior High. Yang bahkan lebih mengagumkan lagi adalah: Dia penganut KristenEvangelis. Dia tidak menutup-nutupi keyakinan pribadinya, tapi dia juga tidak menghasut parasiswa—bahkan ketika ketua OSIS memperlihatkan dukungan terhadap teokrasinya Imam
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

Assalamu’alaikum Wr. Wb. mohon dengan hormat, kami dikirimi alamat kantor pusat WAMY Indonesia. Karena kami sudah lama mencarinya melalui google akan tetapi kami belum juga mendapatkannya...kami sangat membutuhkannya,jazakalloh atas kerjasamanya... Assalamu’alaikum Wr. Wb. FATHUDDIN, DA'I DDII TUBAN JATIM EMAIL : AFAQZUHAIRI@YAHOO.CO.ID HP : 081 334 595 813

02 / 07 / 2010This doucment made it onto the Rising List!
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...