Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
141Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
[M9] Momen Inersia

[M9] Momen Inersia

Ratings:

1.0

(1)
|Views: 23,413|Likes:
Published by bat.laugh
Momen inersia,dasar teori dan penurunan rumusnya
Momen inersia,dasar teori dan penurunan rumusnya

More info:

Published by: bat.laugh on Jun 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/30/2013

pdf

text

original

 
Bab IPendahuluan
1.1
Latar Belakang
Setiap benda pastilah memiliki titik pusat massa yang merupakan tempat diamana massa benda bertumpu, dengan perngertian ini maka dapat dipastikan bahwa setiap benda pasti juga memiliki momen inersia yang besarnya tergantung dari jarak pusat massa ke sumbu putar. Namun pusat massa setiap benda tidaklah samameskipun memiliki bentuk fisik yang hampir sama seperti bola pejal dengan bola berongga, sehingga momen inersiaantara bola pejal dengan bola berongga jugalah tidak sama. Untuk mencari momen inersia benda yang memiliki bentuk atau wujud tertentu seperti silinder pejal, bola dan lain-lain sangatlah mudah. Namun untuk benda yang berwujud tidak beraturan sangatlah sulit, atas dasar pertimbangan ini maka percobaan tentang momen inersia dengankode percobaan M9 dilakukan untuk memberikan solusi dalam mencari momen inersia bagi benda yang berwujudtidak beraturan seperti yang digunakaan pada percobaan ini adalah mencari momen inersia roda yang berjari-jari R.1.2
Tujuan Praktikum
 Adapun tujuan dari percobaan tentang Momen Inersia dengan kode percobaan M9 adalah sebagai berikut :1.Memperkenalkan penggunaan hukum Newton II pada gerak rotasi.2.Menentukan momen inersia sistem benda berwujud (tidak beraturan) roda sepeda.
1.3
 
Permasalahan
.Permasalahan yang timbul selama percobaan dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian besar yaitukesalahan yang ditimbulkan oleh alat yang digunakan dalam praktikum seperti terjadinya selip antara tali denganroda sebelum beban yang tergantung pada tali mengalami proses jatuh bebas, tersangkutnya tali pada plat rodasehinga gerak dari tali menjadi terhenti, terjadi kerusakan pada alat pengukur waktu sehingga harus menunggu pergantian alat dan kesalahan yang ditimbulkan oleh praktikan seperti keterlambatan dalam pencatatan waktusehingga waktu yang diperoleh tidak sama dalam satu percobaan, kekurangan tepat dalam melakukan pengukuran panjang tali yang digunakan untuk menggantung beban dikarenakan sewaktu tali sudah diukur panjangnya terjadiselip anatara tali dengan roda sebelum terjadi gerak jatuh bebas seperti yang diharapkan.1.4
Sistematika Laporan.
Laporan ini disusun dengan menggunakan sistematika sebagai berikut halaman judul, abstrak, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel, daftar grafik, bab pertama berupa pendahuluan yang terdiri dari empat sub bab yaitulatar belakang, tujuan praktikum, permasalahan, sistematika laporan, bab kedua berupa dasar teori. Bab ketiga peralatan dan cara kerja yang terdiri dari dua sub bab yaitu peralatan, cara kerja, bab keempat berupa analisis datadan pembahasan yang terdiri dari dua sub bab yaitu analisis data, pembahasan, bab kelima berupa kesimpulan yangdidapat dari hasil percobaan, daftar pustaka, dan yang terakhir lampiran berupa data yang diperoleh dari percobaanyang telah dilakukan
1
 
Bab IIDasar Teori
Dinamika benda kaku dapat dipecahkan dengan membahas gerak translasi titik pusat massanya dan gerak rotasi benda tersebut terhadap titik pusat massa ini. Untuk membahas dinamika kita perlu bertolok ukur pada Hukum Newton II untuk  benda berotasi dan perlu diperkenalkan besaran baru seperti momentum sudut dan momen inersia. Untuk paham tentangmomen inersia terlebih dahulu kita harus paham tentang momentum sudut terlebih dahulu untuk lebih mempermudahkan pemahaman kita.Kita tinjau dahulu tentang gerak rotasi benda kaku yang melalui suatu sumbu atau dapat juga digunakan titik pusatmassa sebagai titik acuan atau pusat rotasi benda seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1. Jika benda tegar berputar terhadapsumbu melalui O (pusat massa) yang tegak lurus pada bidang gambar dengan kecepatan sudut
ω
, maka kecepatan partikel ke-iadalah vi =
ω
. ri , mengingat besaran-besaran kecepatan (kecepatan sudut ) dan posisi merupakan besaran vektor maka dapatdituliskan sebagai berikut :vi =
ω
x riMengingat bahwa partikel yang bergerak dengan kecepatan vi maka momentum linier yang dipunyai oleh tiap partikel adalahPi = mi vi 
V
1m1r1Om2 r2r3v2 v3m3Gb 2.1 Sistem tiga partikel yang membentuk benda tegar dengan kecepatan masing-masing vi.Selanjutnya momentum sudut didefinisikan sebagai perkalian silang antara vektor posisi r dengan momentum linier  p, sehingga momentum sudut yang dipunyai tiap partikel adalah :Li = ri x pi = m ri x vi ………….. (1Dari hukum kedua Newton didapatkan :
 
Fi = mi ai = d pi ……………… (2d tApabila kita subsitusikan persamaan pertama dengan persamaan kedua maka kita dapatkan persamaan tunggal :r x F = d Ld tSedangkan besar momen gaya adalah
τ
= r F sin
θ
, dengan
θ
adalah sudut yang dibentuk oleh r dengan F,sedangkan arahnya tegak lurus bidang melalui r dan F. Arahnya dapat ditentukan dengan kaidah tangan kanan bagi perkalianvektor anatara dua vektor yaitu ayunkan r ke arah F melalui sudut terkecil diantaranya dengan jalan mengepalkan jari-jemaritangan kanan sedangkan arahnya dapat ditunjukkan dengan ibu jari yang ditegakkan, ini menyatakan arah r.Momentum linear sangat bermanfaat dalam menanganigerak translasi partikel tunggal maupun sistem partikel(termasuk benda tegar). Apabila ada sebuah partikel bermassa m dan memiliki momentum linear p pada posisi r relatif terhadaptitik asal O dari suatu kerangka acuan inersial seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.2. Momentum-sudut partikel I terhadapatitik asal O didefinisikan sebagai berikut :I = r x psedangkan momentum-sudut adalah vektor yang besarnya adalah sebagai berikut :I = rp sin
θ
 
2
 
 
I z  po P
x
θ
 z mGb 2.2
dengan
θ
adalah sudut antara r dan p yang arahnya tegak lurus kepada bidang yang dibentuk oleh r dan p. Arah yangditunjukkan diberikan oleh kaidah tangan kanan yaitu ayunkanlah r kearah p melalui sudut terkecil di antaranya dengan jalanmengepalkan jari-jemari tangan kanan. Besar I dapat dituliskan baik sebagai :I = (r sin
θ
) p = pr atau sebagai I = r(p sin
θ
) = rpdengan r 
(r sin
θ
) adalah komponen r yang tegak lurus kepada garis kerja p dan p
(p sin
θ
) adalah komponen p yang tegak lurus kepada r. Momentum sudut sering juga disebut momen-momentum (linear) dan r 
dalam persamaan diatas disebutlengan momen. Diatas juga telah dinyatakan bahwa komponen p yang tegak lurus r yang memberikan sumbangan kepadamomentum sudut. Jika sudut
θ
anatar r dan p adalah 0 atau 180
°
maka tidak ada komponen tegak lurusnya p
= sin
θ
= 0sehingga garis kerja p melalui titik asal dan r 
sama dengan nol maka momentum sudut I sama dengan nol.Sedangkan hubungan antara torka dengan momentum sudut inilah yang kita jadikan dasar untuk mencari besarnyamomen inersia benda, dimana hubungannya dinyatakan sebagai berikut :r x F = r x dpdttetapi r x F tidak lain merupakan torka atau momen gaya terhadap O, oleh karena itu dapat dituliskan :
τ
= r x d pd tselanjutnya diferensialkan menjadi :d I = d (r x p)d t d tselanjutnya dapat kita dapatkan rumus dasar torka yang dinyatakan sebagai :
τ
= d
I /
dtyang menyatakan bahwa kecepatan perubahan momentum-sudut partikel terhadap waktu sama dengan torka yang bekerja pada partikel tersebut. Hasil ini adalah analog dengan rotasi yang menyatakan bahwa kecepatan perubahan momentum linear partikelsema dengna gaya yang bekerja padanya yaitu :
F
= d
p
/ dtDengan adanya analog torka dengan gaya maka selanjutnya dapat dicari momen inersia yang di definisikan sebagai besaran yang dimiliki sistem / benda untuk menentang gerak rotasinya atau dapat juga dinyatakan sebagai besaran yang analogdengan massa pada gerak translasi. Dengan demikian sebuah benda yang berputar terhadap sumbu berusaha tetap berputar mengelilingi sumbu yang sama kecuali dipengaruhi torsi dari luar. Untuk dapat mencari berapa besarnya momen inersia dapatdigunakan Hukum Newton II yang dinyatakan sebagai berikut :
Σ
F = m . adimana hubungan antara F dengan
τ
dapat dinyatakan sebagai berikut :
τ
= F . maka dapat dilihat pada gambar 2.3 dimana roda sepeda dengan jari-jariR, massa yang tergantung pada roda sebesar m1 danmomen inersia I diletakkan pada sumbu statip, sedangkan massa tali yang mengikat beban dapat diabaikan, sehinggamemberikan torsi pada sumbu sebesar :
τ
= I
α
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->