Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
35Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Karl Raimund Popper

Karl Raimund Popper

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 3,816 |Likes:
Published by asshater
Membangun epistemologi kritis
Membangun epistemologi kritis

More info:

Published by: asshater on Jun 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2013

pdf

text

original

 
Epistemologi Konjektur dan FalsifikasionismePopperdan Relevansinya bagi Ilmu-ilmu Keagamaan
oleh Sholahuddin Ashani, S. Fil.I
A. Latar Belakang, Permasalahan dan Tujuan
Permasalahan epistemologi tidak pernah berhenti sampai kapan pun,dikarenakan manusia hidup senantiasa berhajat kepada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan memberikan kita kemudahan dalam menghadapi semua tantangan dialam semesta, dan sampai hari ini telah banyak penemuan dalam berbagai bidangilmu yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sebut saja di bidangilmu-ilmu social, kedokteran, biologi, farmasi, psikologi dan lain sebagainya.Penemuan dan lahirnya displin ilmu diperuntukkan bagi kelangsungan hidupmanusia.
1
Akan tetapi sadarkah manusia bagaimana rancang bangun dari pemikirandan ilmu pengetahuan tersebut. Bagaimana kesinambungan satu teori dengan teorilainnya sehingga menjadikan pengetahuan yang lebih utuh. Setidaknya persoalanini telah mengilhami dan mewarnai kajian filsafat baik di dunia Barat mau pun didunia Islam sendiri. Pemikiran-pemikiran epitemologis telah membentuk tata cara berpikir dan melahirkan ilmu pengetahuan. Sehingga epistemology yang menjadititik tolak maju mundurnya laju ilmu pengetahuan.Pada abad ke-20, pengaruh positivisme dan neo-positivisme telahmempengaruhi secara luas metode ilmu pengetahuan (epistemology). Sehinggamenjadikan ilmu objek pragmatis, berorientasi pada manfaat semu semata danmengabaikan tingkatan-tingkatan yang dicapai oleh daya imajinatif dan rasiomanusia (metafisika, bahkan agama).Cara pandang manusia diarahkan kepada manfaat praktis dan sesaat saja, budaya konsumsi menjadikan manusia hanya mengutamakan diri sendiri.Menempatkan manusia sebagai satu-satunya makhluk yang hanya memiliki hak untuk hidup. Ringkasnya semua makhluk hanya diperuntukkan bagi kelansungan
1
Mohamad Muslih,
 Filsafat Ilmu: Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan KerangkaTeori Ilmu Pengetahuan
, cet. Ke-2 (Yogyakarta: Belukar, 2005), h. 15
1
 
hidup manusia, sehingga menafikan eksistensi dari makhluk lainnya. lihat sajamisalnya dalam perkembangan ilmu-ilmu alam, bagaimana eksploitasi terhadapalam dilakukan tanpa mengindahkan stabilitas dan susunan alam itu sendiri. Lihat juga dalam perkembangan ilmu-ilmu social, bagaiman prinsip-prinsip hidup bersama hanya untuk menaikkan satu golongan dan mendeskreditkan golonganlainnya. Pada dasarnya ini berawal dari persoalan epistemology yang mendasar wujud bangun dan rancang dari ilmu pengetahuan.Akan tetapi di awal abad ini muncul seorang Filosof, Karl RaimundPopper yang mengajukan kritik terhadap arus neo-positivisme yang bercorak deduktif-verifikatif. Dia mengemukakan solusi ilmu dengan epistemology yangdikenal dengan Konjektur dan Falsifikasi. Penulisan ini bertujuan untuk menjawab: (a) Bagaimanakah pandangan Popper terhadap pembentukan pengetahuan manusia (b) Bagaimanakah teori Konjektur dan Falsifikasimengkritisi budaya induksi dan neo-positivisme dan (c) Bagaimana relevansiepistemology Konjektur dan Falsifkasi terhadap ilmu-ilmu keagamaan.
B. Biografi Popper
Popper memiliki nama lengkap Karl Raimund Popper. Seorang filosof sains keturunan Inggris-Austria. Ia dilahirkan di Wina pada tanggal Juli 1902 dankemudian meninggal pada Agustus 1994. Dia anak ketiga dan kedua kakaknyaadalah perempuan, Bapaknya Simon Sigmund Carl Popper, adalah seorang doktor hukum dari University of Vienna, yang beragama yahudi. Ibunya Jenny Schiff adalah seorang ahli musik .
2
Dalam bidang pendidikan, Popper memiliki latar  belakang keilmuan yang cukup variatif dan terkesan menjadi seorang yang
 
antiterhadap kemapanan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi yaitu;
 Pertama,
 pada usia 16 tahun Popper meninggalkan sekolahnya
(Realgumnasium)
karena pelajaran-pelajaran yang disajikan sangat membosankan.
 Kedua,
menjadi pendengar bebas pada universitas Wina dan empat tahun kemudian ia diterimasebagai mahasiswa di universitas tersebut.
 Ketiga,
Popper memilih mata kuliah
2
Sumedi,
 Ibn Taymiyah (1262-1328) dan Karl Raimund Popper (1902-1994): Analisis Perbandingan Epistimologi dan Implikasinya pada Pendidikan Islam
, Disertasi, (Yogyakarta: UINSunan Kalijaga, 2007), h.43-44 (tidak diterbitkan)
2
 
matematika dan fisika teoritis. Dalam pandangannya dengan matematika ia akandapat mengetahui standar-standar kebenaran
3
. Ketika menjadi mahasiswa, Popper bukan saja mempelajari paham-pahamsosialisme, tetapi juga komunisme, bahkan pernah mengidentikkan dirinyasebagai pengikut paham komunis. Tepatnya di saat ia berusia 17 tahun.Sebagaimana dijelaskan oleh Popper dalam autobiografinya, pada awalnya iasangat tertarik pada Marxisme. Namun, kemudian ia menyadari betapa bahayanya paham tersebut bahkan dipandang sangat tidak bertanggung jawab terhadapkebaikan massa
4
. Hal ini menyebabkan ia kecewa dan menjadi seorang yang antikomunis dan marxisme. Dalam kemajuan semacam itu, Popper terinspirasi olehucapan Socrates “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”. Inspirasi inilah yangkemudian membangkitkan obsesi untuk membangun pengetahuan ilmiah yangkritis. Dengan semangat keilmuannya itu, maka Popper bukan saja berhasilmemiliki ijazah untuk mengajar matematika, fisika, dan kimia, tetapi berhasil pulamemperoleh gelar “doctor filsafat” (Ph.D) pada tahun 1928 dengan disertasitentang
 Zur Methodenfrage der Denpsychologie
(Masalah metodologi dalam psikologi pemikiran)
5
. Setelah masa itu, perkenalannya Popper dengan Albert Einstein dan KarlBuhler mampu membuka cakrawala baru bagi dirinya untuk membangun teorikritis. Tema-tema sentral yang menjadi bahan diskusi diantaranya masalahindeterminisme, problem-problem operasionalisme, positivisme dengan induksidan verifikasinya. Bersamaan dengan itu, Popper berusaha merumuskan teori-teori kritisnya baik mengenai deduksi dengan objektifismenya, maupun demarkasidengan falsifikasinya. Upayanya itu bukan saja dikumandangkan di Wina, tetapi juga di Inggris antara tahun 1935-1936, kemudian di Selandia Baru (tahun 1936-1945), dan di Amerika, yaitu mulai tahun 1950 ketika Popper memberikanserangkaian kuliah di Harvard.
3
Diunduh dari Priyanto,
 Falsificationism Karl Popper 
,http://insancita.4t.compada17/04/2009.
4
Wiliam Berkson & Jhon Wettersten,
 Psikologi Belajar dan Filsafat Ilmu Karl Popper 
,terj. Ali Noer Zaman (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2003), h. 30.
5
Muslih,
 Filsafat Ilmu
…, h, 105.
3

Activity (35)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Rio Rian Asmoro liked this
Chintia Diah liked this
darurat liked this
Septira Po'nya liked this
Alfajri Doank liked this
Herti Srd liked this
wheiinhy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->