• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Risalah ini terdiri dari :
-
Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul
-
 Hadits-hadis Nabawi dalil tawassul dengan Nabi dan Wali Allah Semasa Hidup ataupun sesudah wafatnya.
-
Tawassul kepada Rasulallah saw. sesudah wafatnya:
-
Allah menjadikan Penolong-penolong bagi Orang Beriman
-
Muhammad Ibnu Abdul Wahhab (Imamnya madzhab Wahabi) tidak mengingkaritawassul
-
Para Nabi Hakikatnya Hidup didalam Kuburnya
-
Diantara dalil-dalil orang yang membantah serta jawabannya
esesatan Paham yang Menafikan Tawassul
Bertawassul dengan para Nabi dan orang-orang shalih (Wali Allah) baik ketika mereka sudahhidup maupun setelah wafatnya adalah amalan ummat muslim diseluruh dunia. Berikut ini kamiketengahkan dalil-dalil shahih yang dijadikan rujukan pada amalan sunnah ini. Sedangkan nashatau dalil yang melarang tawassul dengan Nabi atau Wali Allah semasa hidup atau wafatnya.
A. Ayat-ayat Al-qur’an dalil tawassul1. Dalam surat an-Nisa’ ayat 64, Allah swt. berfirman:
“Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.
 Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu
(Muhammadsaw.)
lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul 
(Muhammad saw.)
 pun memohonkanampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
 2. Dalam surat Al-Maidah ayat 35:
‘Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilahwashilah….”
1
 
Keterangan :
 Ibnu Taimiyyah disalah satu kitabnya Qa’idah Jalilah Fit-Tawassul Wal-Washilah dalam pembicaraannya mengenai tafsir ayat Al-Qur’an Al-Maidah: 35 menulis: ‘Hai orang-orang  yang beriman, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah dan carilah washilah….’ antara lainmengatakan:“Mencari washilah atau bertawassul untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhammad Rasulallah saw. dan mengikuti tuntunanagamanya. Tawassul dengan beriman dan taat kepada beliau saw. adalah wajib bagi setiaporang, lahir dan bathin, baik dikala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung dihadapan beliau sendiri atau pun tidak. Bagi setiap muslim, tawassul dengan iman dan taat kepada Rasulallah saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhoan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecualitawassul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia. Beliau saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Diantara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing. Muhammad Rasulallah saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah swt. berfirman, bahwa Ia mulia disisi Allah. Mengenai Nabi Isa a.s. Allah swt. juga berfirman bahwa Ia mulia didunia dan diakhirat,namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhammad Rasulallah saw.lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan do’a beliau pada hari kiamat hanyabermanfaat bagi orang yang bertawassul dengan iman dan taat kepada beliau saw. Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyyah mengenai tawassul. Dalam kitabnya Al-Fatawil-Kubra I :140 Ibnu Taimiyyah menjawab atas pertanyaan: Apakahtawassul dengan Nabi Muhammad saw. diperbolehkan atau tidak? Ia menjawab:“Alhamdulillah mengenai tawassul dengan mengimani, mencintai, mentaati Rasulallah saw. danlain sebagainya adalah amal perbuatan orang yang bersangkutan itu sendiri, sebagaimana yang di perintahkan Allah kepada segenap manusia. Tawassul sedemikian itu di- benarkan oleh syara’ dan dalam hal itu seluruh kaum muslimin sepen- dapat.”
3.
Dalam Surat
 Al-Baqarah :37, mengenai 
Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.
:
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya, sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha Penyayang ”.
 Keterangan :
2
 
Tawassul Nabi Adam as. pada Rasulallah saw.. Sebagaimana disebutkan
 pada firman Allah swt.(Al-Baqarah :37) diatas
 .
Menurut ahli tafsir kalimat-kalimat dari Allah yang diajarkan kepada Nabi Adam as. pada ayat diatas agar taubat Nabi Adam as. diterima ialah denganmenyebut dalam kalimat taubatnya bi-haqqi (demi kebenaran) Nabi Muhammad saw. dankeluarganya. Makna seperti ini bisa kita rujuk pada kitab: Manaqib Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili As-Syafi’i halaman 63, hadits ke 89; Yanabi’ul Mawaddah, oleh Al-Qundusui Al- Hanafi, halaman 97 dan 239 pada cet.Istanbul,. halaman 111, 112, 283 pada cet. Al- Haidariyah; Muntakhab Kanzul ‘Ummal, oleh Al-Muntaqi, Al-Hindi (catatan pinggir) Musnad  Ahmad bin Hanbal, jilid 1, halaman 419; Ad-Durrul Mantsur, oleh As-Suyuthi Asy-Syafi’i, jilid 1halaman 60; Al-Ghadir, oleh Al-Amini, jilid 7, halaman 300 dan Ihqagul Haqq, At-Tastari jilid 3halaman 76. Begitu juga pendapat Imam Jalaluddin Al-Suyuthi waktu menjelaskan makna surat  Al-Baqarah :37 dan meriwayatkan hadits tentang taubatnya nabi Adam as. dengan tawassul  pada Rasulallah saw.
 Nabi Adam as. ,manusia pertama, sudah diajarkan oleh Allah swt. agar taubatnya bisa diterimadengan bertawassul pada Habibullah Nabi Muhammad saw., yang mana beliau
belum dilahirkan
di alam wujud ini. Untuk mengkompliti makna ayat diatas tentang tawassulnya Nabi Adam as.ini, kami akan kutip berikut ini beberapa hadits Nabi saw. yang berkaitan dengan masalah itu:Al-Hakim dalam kitabnya
 Al-Mustadrak/Mustadrak Shahihain
jilid 11/651 mengetengahkanhadits yang berasal dari
Umar Ibnul Khattab ra
. (diriwayat- kan secara berangkai oleh Abu Sa’id‘Amr bin Muhammad bin Manshur Al-‘Adl, Abul Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Handzaly, Abul Harits Abdullah bin Muslim Al-Fihri, Ismail bin Maslamah, Abdurrahman binZain bin Aslam dan datuknya) sebagai berikut, Rasulallah saw.bersabda:
: ..:
 ,
,::,,,
.
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...