berdebat dengan orang yang beridealisme tinggi ini. Umumnya ketika oranglain tidak bisa berkata apa-apa lagi, mereka akan mengatakan sesuatu yangmengarah pada menyalahkan kita karena terlalu keras kepala, kita harus lebihfleksibel dengan pendapat orang lain, atau bahkan semakin ngotot memaksakanidealisme mereka. Intinya, mereka akan menganggap bahwa apa yang kita ide-alismekan adalah salah, dan kita tidak boleh menganggap idealisme kita yangpaling benar. Padahal, dengan berbicara seperti itu mereka sendiri telah menga-takan secara tidak langsung bahwa idealisme merekalah yang paling benar.Biasanya kita melihat sosok yang paling memiliki idealisme yang tinggiadalah para aktivis. Namun, sebenarnya idealisme mereka sendiri telah ”run-tuh” karena ”aksi” (baca:demonstrasi) yang mereka adakan sendiri. Makaberikut ini akan saya paparkan alasan-alasan yang menyatakan bahwa paraaktivis sebenarnya adalah orang yang beridealisme rendah. Dengan catatansaya tidak menyangkal bahwa tetap ada orang-orang yang beridealisme tinggidiantara para aktivis tersebut.Ketika seorang mahasiswa menjadi aktivis, dan dengan bangganya mela-kukan aksi demo, mereka mengatasnamakan tindakan mereka sebagai bentuktuntutan rakyat. Namun, sudah banyak orang yang melakukan sesuatu denganalasan ”berdasarkan tuntutan”. Yang lebih berat lagi, mereka mengatasna-makan ”untuk rakyat” demi melegalkan tindakan mereka. Disini kita melihat”seakan-akan” idelisme mereka sangat tinggi. Nyatanya, rakyat yang ”dibela”ini merupakan ”rakyat” yang mana? Tentunya yang mendapatkan manfaatdari aktivitas mahasiswa ini bukan rakyat Indonesia keseluruhan. Namun hanyasegelintir orang yang memang memanfaatkan dan mengompori demi keuntunganpribadi. Faktanya, saat saya mengikuti satu acara BEM fakultas (dalam hal iniBEM FMIPA), ada satu bagian acara yang mana kelompok saya mendapatbagian acara untuk mewawancarai warga sekitar mengenai pendapat merekaterhadap pemerintah. Hal pertama yang saya bingungkan, kenapa acara darifakultas saya (MIPA) malah menanyakan sesuatu yang tidak ada hubungan-nya dengan sains? Malah menjerumus ke arah politik? Lucunya, tanpa di-minta, warga tersebut mengatakan bahwa mereka tidak menyukai aksi demon-strasi yang dilakukan oleh mahasiswa. Mereka bahkan mengatakan alasannyadengan jelas. Mulai dari mengganggu ketertiban, membuat suasana menjaditidak aman, hingga tidak terasa manfaatnya untuk masyarakat. Karena ini-lah terjadi perdebatan halus antara warga dan anggota kelompok saya, dansaya hanya bisa tertawa dalam hati. Yang membuat lebih lucu lagi, pada aksitahun ini, disampaikan tugu rakyat (tujuh gugatan rakyat). Memang tulisan-nya gugatan rakyat, tapi tahukah anda bahwa yang merumuskan hal tersebutsebenarnya dari pihak mahasiswa sendiri. Jadi seharusnya namanya tujuh gu-gatan mahasiswa. Jelas sekali sebenarnya mahasiswa melakukan aksi bukansemata-mata karena rakyat, tapi mereka ”memaksakan diri” ikut aksi karenarakyat.Yang lebih menyedihkan, yang turut aksi-aksi vital seperti itu adalah ma-hasiswa. Memang mahasiswa adalah orang yang berintelektual tinggi. Na-mun apakah mahasiswa yang ikut aksi tidak bisa melakukan sesuatu yang”lebih intelek”? Menyampaikan aspirasi dengan cara seperti itu hanya akan2
Add a Comment