Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ARTIKEL IPTEK

ARTIKEL IPTEK

Ratings: (0)|Views: 7,365 |Likes:
Published by phytri

More info:

Published by: phytri on Jun 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
ARTIKEL IPTEK 
PR Pascakebijakan Baru Kedelai
Senin,21 Januari 2008 14:24
Carunia Mulya FirdausyDeputi Menristek Bidang Dinamika Masyarakat
Belum lagi selesai mengatasi masalah kenaikan harga minyak  bumi yang pernah menembus di atas US0 per barel awal 2008,kita kembali didera masalah meroketnya harga kedelai. Hargakedelai eceran yang tadinya Rp3.450 perkilogram, kini dua kalilipat menjadi Rp7.500 per kilogramnya.Di pasaran dunia, harga kedelai di awal 2007 hanya US0 per ton,namun kemudian meningkat 100% menjadi US0 per ton di awal 2008. Akibatnya, ratusan pembuat tahu dan tempe, tidak jelas siapa komandonya, berunjuk rasa di depan lstanaMerdeka, Jakarta, untuk mengadukan masalah itu dan meminta perlindungan kepada pemerintah.Lebih parah lagi, harian ini dalam editorialnya, 15 Januari lalu, bukan memberikan solusiatas krisis ini, melainkan memanas-manasi keadaan itu dengan menyatakan antara lainrepublik ini adalah negara agraris yang memble. Bahkan lebih tajam lagi, negara inidikatakan tidak memiliki politik pertanian yang jelas dan tidak punya arah ke mananegara hendak dibawa sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangan pokok.Bukti sederhananya yang dikatakan dalam editorial tersebut dapat dilihat dari kenyataannegara membiarkan dan merestui sawah yang terbaik untuk padi digusur oleh realestatdan kawasan industri. Negara kita juga dinyatakan lebih memilih mengekspor gas denganmengorbankan pabrik pupuk dalam negeri sehingga kelengar dan mampus.Singkat kata, pernyataan dan analisis dalam editorial ini sungguh sangat lugas dan tegastanpa tedeng aling-aling dalam menyikapi krisis tempe ini. Mungkin itulah yang disebut bad news is a good news.
Tidak sederhana?
Lantas, sudah seburuk itukah pemerintah negeri ini? Tentu jawabnya tidak, bukan?Argumentasinya, karena krisis kedelai tidak sesederhana untuk disamakan dengan krisis beras atau krisis minyak bumi.Pasalnya, karena kedelai bukan komoditas yang dapat dengan mudah ditanam di negeriini. Komoditas tersebut dapat tumbuh subur di negara subtropis sehingga tidak mudahuntuk ditanam di negeri ini yang memiliki iklim tropis.Dengan demikian, penetapan kebijakan pemerintah dalam kedelai tidak semudah sepertihalnya menetapkan kebijakan perberasan nasional yang bisa ditanam di daerah kering
 
sekalipun. Karena sifat komoditas yang seperti itulah, lonjakan harga yang terjadi di pasar dunia tidak mudah untuk dikendalikan seperti yang diharapkan.Argumentasi lain, komoditas kedelai, walaupun dapat ditanam di negeri ini secaraterbatas, tingkat produksinya sangat dipengaruhi faktor musim atau cuaca. Artinya,secanggih dan sebaik apa pun kebijakan atau upaya yang dilakukan dalam menetapkan produksi kedelai dalam negeri, tapi jika musim atau cuaca tidak mengizinkan, akan sulitmencapai produksi yang ditargetkan. Barang kali itu sebabnya pemerintah selama initidak terlalu ambisius untuk menetapkan besaran produksi kedelai nasional setiap tahun.Pada 2008, misalnya, pemerintah dalam hal ini Departemen Pertanian hanya menargetkan produksi kedelai nasional hanya naik sebesar 20 per sen dan produksi 2007 sebanyak 608.263 ton. Capaian produksi kedelai pada 2007 tersebut sebenarnya jauh di bawahcapaian produksi pada 2006 sebesar 747.611 ton.Jika membaca statistik capaian produksi tahun 2007 yang lebih rendah 18,6% daripadacapaian produksi 2006 tersebut, tidak mustahil capaian produksi kedelai nasional tahun2008 akan lebih kecil daripada tahun-tahun sebelumnya dan meleset dari target yang dite-tapkan. Apalagi mengingat ketidakpastian musim yang bakal terus terjadi kini danmendatang.
Pekerjaan rumah
Dengan mempertimbangkan keterbatasan lokasi tanam dan sensitivitas kedelai terhadapfaktor musim tersebut, solusi krisis kedelai yang baru-baru ini ditetapkan melalui kebijak-an penurunan bea masuk impor 0% merupakan salah satu kebijakan yang tidak dapatdihindari. Namun agar tujuan stabilisasi harga kedelai tersebut dapat berhasil, beberapacatatan di bawah ini mutlak diperhatikan.Pertama, kebijakan itu sangat dipengaruhi besarnya jumlah pasokan kedelai baik yang berasal dari impor maupun dari dalam negeri. Jika ternyata jumlah pasokan kedelai di pasar dunia dan kemampuan pasokan kedelai di dalam negeri lebih rendah daripada jumlah permintaan kedelai dalam negeri pasca kebijakan penurunan bea masuk impor 0%, upaya stabilisasi harga kedelai dalam negeri tidak akan tercapai.Untuk itu, pemerintah harus yakin kondisi pasokan kedelai yang tersedia di pasar duniamemadai. Jika tidak, kebijakan 0% kedelai impor akan menjadi tak bernyawa (ceteris paribus). Kedua, keberhasilan kebijakan penurunan bea masuk impor 0% juga bergantung pada besar kecilnya permintaan kedelai dari pasar dunia. Artinya, jika permintaan kedelaidi pasar global tinggi, kebijakan penurunan 0% bea masuk yang pemerintah tetapkanakan kehilangan daya tarik.Hal itu karena pemasok kedelai dunia tidak akan mengimpor ke Indonesia, tetapi akanmengimpor kedelainya ke negara-negara yang menawarkan harga lebih tinggi. Semakintinggi permintaan kedelai dunia maka kebijakan penurunan bea masuk 0% dalamstabilisasi harga kedelai domestik akan kehilangan daya tari
 
Faktor ketiga yakni pengaruh struktur pasar. Jika struktur pasar kedelai dunia sifatnyaoligopolistik, upaya stabilisasi harga kedelai di pasar nasional nyaris sulit dilakukan. Haltersebut karena struktur pasar oligopolistik bersifat penentu harga (price maker) dan bukan price takers (pengikut harga). Dengan kata lain, tingkat persaingan pasar pentingdiketahui secara memadai.Dengan mempertimbangkan kompleksitas dan dinamika keekonomian kedelai tersebut, berbagai pekerjaan rumah masih perlu diselesaikan pasca penurunan bea masuk impor 0% ini. Beberapa pekerjaan rumah itu antara lain, pertama, pemerintah harus terusmenerus mencari/ menambah lokasi potensial penanaman kedelai lain dalam menjaga pasokan kedelai dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor kedelai.Kedua, melakukan kerja sama perdagangan dan investasi dengan negara pemasok kedelaidunia. Ketiga, menerapkan teknologi yang mampu mempercepat dan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Tanpa itu, nyaris mustahil kebijakan pemerintahmenurunkan bea masuk impor kedelai 0% berhasil menjamin stabilisasi harga kedelaidipasar domestik dalam jangka pendek. Semoga (
MEDIA INDONESIA, 21 Januari 2008/ humasristek 
Senin, 2008 Oktober 13
Oleh: Ellyasa KH Darwis
ADA yang salah dalam politik ketahanan pangan kita tampaknya. Khususnya dalamstruktur pasar pertanian. Komoditi pangan yang menjadi hajat hidup orang banyak, seringmengalami kelangkaan dan tentu saja harganya mahal. Sementara pada saat musim panen, harga di tingkat petani sangat murah. Petani hanya menikmati marjin terkecildalam mata rantai distribusi produk pertanan. Sayangnya, pemerintah tidak memilikiinisiatif politik untuk merubah struktur pasar yang tidak sehat ini dan selalumenyelesaikan dengan ad hoc melalui subsidi dan intensive.Setelah kelangkaan kedelai, kini masyarakat sangat susah untuk mendapatkan minyak goreng di pasaran. Pedagang dan masyarakat menjerit, sampai kini pemerintah belummemiliki formulasi yang tepat bagaimana mengatasi masalah ini selain dengan kebijakanoperasi pasar yang sampai kini efektifitasnya belum kelihatan. Minyak goreng masih sajasusah dicari di pasaran dan harganya tak kunjung normal.

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Arif Suhendra liked this
Mega Prisila D liked this
Ika Damayanti liked this
Efri Malau liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->