Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
preservasi

preservasi

Ratings: (0)|Views: 240 |Likes:
Published by wien elma naura

More info:

Published by: wien elma naura on Jun 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2013

pdf

text

original

 
PRESERVASI BENDA BERSEJARAH DI KOTA-KOTA INDONESIADALAM PERSPEKTIF PARTISIPASI MASYARAKAT
Preservasi dan konservasi bangunan dan benda bersejarah merupakan kata-kata yangakhir-akhir ini sering diperdengarkan ke wacana publik, terutama di kota-kota yangmemiliki sejarah panjang seperti Jakarta, Bandung dan Semarang. Sejarah yangpanjang ini meninggalkan jejak-jejak yang nampak dalam bentuk artefak-artefak,bangunan dan situs-situs. Beberapa diantaranya dalam keadaan yang terawat baik,sementara banyak lagi yang dibiarkan merana untuk kemudian hilang ditelan waktu.Diantara yang masih tersisa, banyak juga yang akan dihilangkan secara sengaja denganberbagai alasan, yang umumnya bermuara pada tudingan bahwa artefak dan situstersebut sudah tidak lagi sesuai dengan zaman, atau dianggap sebagai penghalangmodernisasi. Benda yang memiliki nilai sejarah ini dianggap harus disingkirkan sertadiganti oleh benda lain yang lebih
up to date
. Sementara itu, penyingkiran benda-bendatua ini ditentang oleh sekelompok masyarakat lain, yang menilai bahwa benda-bendatua merupakan harta tak ternilai, serta tidak dapat diukur dengan uang dan kepentinganekonomi, sehingga mati-matian keberadaannya wajib dipertahankan, apapun yangterjadi.Tarik menarik semacam ini kemudian melahirkan paradoks yang agak ironis. Ketikasuatu bangunan tua akan digusur –misalnya- protes bermunculan dengan derasnya,baik oleh kalangan masyarakat umum, aktivis kampus maupun LSM, sementarasebelum bangunan tua itu digusur, ketika keadaannya reyot tak termanfaatkan, takterurus dan terlihat bagaikan rumah hantu, tidak banyak yang menaruh perhatiankepadanya.Perbedaan pandang seperti ini sebenarnya wajar terjadi. Dalam kehidupan sehari-haripun kita akan dengan mudah menemukan orang yang senang mengenakan segalasesuatu yang berbau mode terbaru, sementara sebagian orang lainnya lebih senangmengenakan segala sesuatu yang berbau klasik. Namun demikian, nampaknya yangterjadi di banyak kasus adalah keterjebakan masyarakat untuk berdiri di atas dua kutubyang begitu bertolak belakang. Di satu pihak ada yang mati-matian mempreservasibenda “bersejarah”, tanpa perduli dengan aspek-aspek lainnya, pokoknya semua yangberumur tua harus dilestarikan. Di pihak lain ada pula yang sama sekali tidakmemperdulikannya dan lebih suka wajah kotanya dihiasi pemandangan mutakhir daribenda-benda produk teknologi mutakhir terkini.Sebuah pertanyaan yang menarik kemudian dapat dimunculkan, sebenarnya benda-benda apa sajakah yang layak ditangani dalam proses preservasi kota, dan yangterpenting, apakah tujuan dari preservasi itu sendiri. Benarkah proses preservasi dankonservasi ini hanya seperti seorang kolektor benda antik yang mengumpulkankoleksinya dengan alasan sentimentil belaka atau ada hal-hal yang lebih dalam dibaliksemuanya itu.
Produk Kebudayaan dan Sejarah
Terbentuknya suatu kota dalam banyak sisi dapat dilihat sebagai suatu produk dariperkembangan kebudayaan. Di dalamnya terdapat perwujudan ideologi, sosial sertaperkembangan teknologi yang membantu mengkonstruksikan suatu daerah menjadikota yang kita kenal kini. Artinya, terbentuknya kota sedikit banyak berdasarkan ataspengetahuan, norma, kepercayaan dan nilai-nilai budaya dari masyarakatnya di masalalu (Mundardjito, 2002).
 
 Dalam konteks ini maka untuk menjaga kesinambungan antara masa lalu dan kini, makayang harus dijaga kelestariannya adalah bagian-bagian dari kota yang mewakilisegmen-segmen masyarakat tertentu yang pernah ada dan masih tinggal. Contohnyaadalah pecinan, kampung-kampung yang dihuni masyarakat etnis tertentu dansebagainya. Dari segi arsitektur, maka yang dilestarikan adalah bangunan yangmewakili salah sebuah corak tertentu atau merupakan langgam dari etnis masyarakattertentu.Dari sisi sejarah, bangunan-bangunan tua yang dimiliki suatu kota dapat memberikangambaran tentang keadaan di masa lalu. Bangunan merupakan realitas parsial darisebuah realitas holistik yang pernah ada. Oleh karena itu, bangunan merupakan elemenpenting dalam proses analisa sejarah yang mengandung informasi-informasi bagigenerasi demi generasi sesudahnya. Ketersediaan informasi merupakan hal yangpenting bagi sebuah generasi untuk memahami keberadaannya dan mengantisipasilangkah-langkah ke depan yang akan dilakukannya.Pandangan ini kemudian melahirkan sebuah konsep baru, yaitu bahwa yang harusdipreservasi adalah
informasi 
yang terkandung di dalamnya dan bukan sekedar 
keindahannya
. Perbedaan ini akan nampak dengan jelas jika dikontraskan. Banyakkalangan -misalnya- yang melontarkan kecaman bertubi-tubi ketika Gedung Singer karya arsitek Brinkman di jalan Asia Afrika, diruntuhkan dan digantikan denganbangunan baru yang lebih modern awal dekade 90-an lalu. Dari mulai LSM hinggakalangan akademisi turun gelanggang untuk mencoba menyelamatkan gedungberarsitektur klasik tersebut, walaupun sebenarnya nilai sejarahnya dalam perjalananbangsa belum diketahui pasti. Di lain sisi, bangunan rumah ibu Inggrit Garnasih didaerah Ciateul dalam jarak yang tidak terlalu jauh dari sana, tidak mendapatkan banyakpublikasi dan cenderung terlupakan. Mudah dimengerti, karena berdasarkan paradigmapreservasi yang umum dikenal di negeri kita ini, bangunan rumah mungil itu sama sekalitidak masuk hitungan. Dari segi arsitektur, bangunan ini tidak mewakili langgam klasikmanapun, sama sekali tidak indah dan semaraknyapun tidak ada. Padahal, belumsampai seabad yang lalu, banyak nilai-nilai yang mendasari perjalanan negara danbangsa ini dirumuskan oleh Soekarno dan kawan-kawannya di rumah tersebut.Pandangan inipun, kemudian menempatkan preservasi dalam koridor keseluruhanstruktur kemasyarakatan kota dan bukan melulu artefak, situs atau lebih sempit lagi,arsitektur. Masalah yang kemudian muncul adalah, kurangnya pemahaman akankonsep preservasi ini sehingga nampak kepentingan ekonomi lebih mendominasi. Satudemi satu bangunan-bangunan lama di kota-kota tua kita hilang ditelan modernisasi,digantikan oleh struktur bentukan baru yang dianggap lebih sesuai dengan zamannya.Yang tertinggal, sering terbiarkan merana dimakan usia dan cuaca. Rupanya, seiringdengan pergantian zaman, “roh” yang dahulu ada pada bangunan-bangunan tersebutkini telah pergi, sehingga sekalipun ada upaya untuk mempertahankan keberadaannya,hasilnya adalah sebagai produk masa lalu yang tetap mati. Keberadaannya punkemudian menjadi beban tersendiri bagi kota, karena untuk mempertahankankeberadaan bangunan semacam itu bukanlah sesuatu yang murah.
Partisipasi Masyarakat
Sekedar mempertahankan bangunan lama ternyata hanya menghasilkan monumen-monumen bisu yang kurang menggugah rasa memiliki masyarakat. Mungkin inilah yangselama ini terjadi, bahwa pelestarian bangunan bersejarah hanya disuarakan oleh
 
segelintir orang elit yang peduli. Dengan hanya didukung kalangan terbatas, upayapreservasi ini tidak berhasil menggalang resistensi yang cukup untuk menghadapipenghancuran bangunan-bangunan lama oleh kepentingan ekonomi. Keterbatasan ini juga berujung pada kendala dana bagi upaya preservasi, yang tidak dapat mendukungprogram-program serta rencana-rencana apik yang telah dicanangkan. Bagaimanapun juga, biaya yang dibutuhkan untuk preservasi memang lebih tinggi dibandingkan denganmenggusur yang lama dan membangun yang baru, akibat.teknologi yang digunakan juga berbeda. Bangunan bersejarah menjadi lebih banyak hilang, karena kepentingankomersial jelas lebih dapat berbicara mengenai dana.Salah satu solusi yang dapat diharapkan, adalah dengan mendorong partisipasimasyarakat. Berbicara mengenai paritisipasi masyarakat berarti harus melibatkanmasyarakat dalam proses sedini mungkin, dengan suatu kepastian bahwa masyarakatakan memperoleh keuntungan dari proses ini. Simpel dalam pengungkapan, namunsesungguhnya ini bukan merupakan sesuatu yang semudah membalikkan telapaktangan.Contoh yang dapat dikemukakan adalah seperti masyarakat Bali atau Yogyakarta. DiBali, keberadaan bangunan, artefak serta situs bersejarah, selain memiliki makna yangmendalam, juga benar-benar mendatangkan keuntungan finansial, baik langsungmaupun tak langsung, kepada hampir seluruh lapisan masyarakat. Melalui pariwisata,keberadaan benda-benda bersejarah menjadi daya tarik tersendiri, yang mengundangorang untuk datang berkunjung dan membelanjakan uangnya, sehingga warga di sekitar daerah mengalami perbaikan perekonomian. Keberadaan benda-benda cagar budayatersebut sudah menyatu dengan denyut kehidupan masyarakatnya. Dengan demikianbenda-benda bersejarah tersebut bukan hanya sebuah sumber informasi mengenaileluhur dan kebudayaannya, yang tak ternilai bagi komunitas masyarakat lokal di masakini, namun juga berfungsi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan kerohanian maupun jasmani.Pariwisata dalam kasus ini ternyata mampu membangkitkan rasa memiliki masyarakatterhadap benda-benda bersejarah yang berada di sekelilingnya. Akibat rasa memiliki inikemudian menimbulkan rasa bangga dan kebutuhan untuk menjaga kelangsunganeksistensi dari benda-benda bersejarah tersebut. Tanpa ribut-ribut dan digembar-gemborkan, masyarakat telah menjalankan
self preservation
sesuai dengan konsepmereka sendiri. Konsep ini mampu memenuhi syarat pelestarian yang diungkap di awaltulisan, bahwa keberhasilan akan dicapai dengan adanya unsur-unsur kehidupankeseharian masyarakat yang terintegrasi ke dalam “kehidupan” benda-benda danbangunan bersejarah.Keberhasilan melestarikan bangunan dan benda bersejarah dengan mengintegrasikankehidupan keseharian, sedikit banyak juga mulai terlihat di Bandung. Menyadari citrakotanya sebagai kota “kolonial” yang di masa lalu pernah diusulkan untuk menjadiibukota Hindia Belanda, saat ini mulai banyak pemodal yang menggunakan bangunan-bangunan lama peninggalan masa penjajahan sebagai sarana penunjang kegiatanwisata, dengan fungsi bermacam-macam, diantaranya kafe,
factory outlet 
, persewaankendaraan dan lain-lain. Apa yang dilakukan ini sebenarnya merupakan aplikasisederhana dari teori pemberian fungsi dan makna baru bagi bangunan bersejarah.Upaya yang cukup berhasil ini dengan sendirinya membuat beratnya kendala biayadalam pelestarian bangunan bersejarah menjadi berkurang, atau bahkan hilang sama

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Sim Siaw Hui liked this
Shahril Budiman liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->