Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
82Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Apa Arti Pengesahan/Ratifikasi Perjanjian Internasional?

Apa Arti Pengesahan/Ratifikasi Perjanjian Internasional?

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 11,463 |Likes:
Published by Oktavia Maludin
APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI
PERJANJIAN INTERNASIONAL?
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi pada esensinya adalah konfirmasi.”
DAMOS DUMOLI AGUSMAN

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com
APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASI
PERJANJIAN INTERNASIONAL?
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi pada esensinya adalah konfirmasi.”
DAMOS DUMOLI AGUSMAN

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com

More info:

Published by: Oktavia Maludin on Jun 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
“Dari sisi hukum perjanjian internasional maka ratifikasi padaesensinya adalah konfirmasi.”
DAMOS DUMOLI AGUSMAN
APA ARTI PENGESAHAN/RATIFIKASIPERJANJIAN INTERNASIONAL?
Pengesahan/Ratifikasi:Persetujuan atau Konfirmasi?
Globalisasi Hubungan Internasional dewasaini telah semakin meningkatkan persentuhandan interaksi antara Hukum Internasional danHukum Nasional di Indonesia. Interaksi kedua bidang hukum ini semakin mempertajam pertanyaan tentang arti lembaga “pengesahan”(ratifikasi, aksesi,
acceptance
,
approval 
) dalamkaitannya dengan status PerjanjianInternasional dalamHukum Nasional Republik Indonesia. Dari tataran teoritis dan praktis, pengertianlembaga pengesahan/ratifikasiternyata dipahami secara berbeda oleh kalangan ahliHukum Tata Negara danoleh ahli HukumInternasional. Lembaga pengesahan/ratifikasi itusendiri pada hakekatnya berasal dari konsepsiHukum PerjanjianInternasional yang selaludiartikan sebagai tindakan‘konfirmasi’ dari suatu Negara terhadap perbuatan hukum dari pejabatnya yang telahmenandatangani suatu perjanjian sebagai tanda persetujuan untuk terikat pada perjanjian itu.Dari sisi Hukum Perjanjian maka ratifikasi pada esensinya adalah konfirmasi. Konfirmasiini dibutuhkan karena pada era permulaan berkembangnya Perjanjian Internasionalmasalah komunikasi serta jarak geografis antar  Negara merupakan faktor yang mengharuskanadanya ruang bagi setiap Negara untumengkonfirmasi setiap perjanjian yang telahditandatangani oleh pejabatnya. Namundemikian, lembaga ini pada perkembanganselanjutnya juga mulai dikenal dan berkembang dalam hukum ketatanegaraansetiap Negara yang digunakan untuk objek yang sama yaitu Perjanjian Internasional.Lembaga pengesahan/ratifikasi dalam hukumketatanegaraan selalu diartikan sebagaitindakan persetujuan oleh suatu organ Negaraterhadap perbuatan Pemerintah untuk membuat perjanjian atau konfirmasi organ tersebutterhadap penandatanganan suatu perjanjianoleh Pemerintahnya.Bertolak dari perbedaan disiplin hukumtentang pengesahan/ratifikasitersebut diatas, makasecara tradisional, pengesahan/ratifikasiPerjanjian Internasionalselalu dilihat dari dua perspektif prosedur yangterpisah namun terkait,yaitu Prosedur Internal(Nasional) dan Prosedur Eksternal (Internasional).
Dari perspektiProsedur Internal, pengesahan/ratifikasiPerjanjian Internasional adalah masalahHukum Tata Negara, yaitu Hukum Nasional Indonesia yang mengatur tentang kewenangan eksekutif danlegislatif dalam pembuatan PerjanjianInternasional serta mengatur produk Hukum apa yang harus dikeluarkanuntuk menjadi dasar bagi Indonesiamelakukan Prosedur Eksternal.
Sedangkan dari perspektif ProseduEksternal maka pengesahan/ratifikasiPerjanjian adalah perbuatan hukum untuk 
1
 
“hukum tata Negara ri tanpa sengaja mengartikan lembaga pengesahan/ratifikasisebagai “persetujuan dpr” bukan “konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam pasal 11uud 1945. namun dalam praktek ketatanegaraan ri, yang kemudian ditafsirkan olehundang-undang no. 24 tahun 2000 tentang perjanjian internasional, pengertianpersetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasi dpr” ketimbang “persetujuan dpr”.”
mengikatkan diri pada suatu PerjanjianInternasional dalam bentuk ratifikasi,aksesi, penerimaan dan persetujuan
.
(
Theinternational act so named whereby a Stateestablishes on the international plane itsconsent to be bound by a treaty)
yang diatur oleh Hukum Perjanjian Internasional.Para perumus Konvensi Wina 1969 tentangPerjanjian Internasional (Komisi HukumInternasional) menyadari adanya perbedaan inidan bahkan mengakui bahwa kedua perspektif ini selalu membingungkan. Komisi secara tegasmenyatakan bahwa “
Since it is clear that thereis some tendency for the international and internal procedures to be confused and since it is only international procedures which arerelevant to international law of treaties, theCommission thought it desirable in thedefinition to lay heavy emphasis on the fact that it is purely the international act to whichthe terms ratification relate in the present article.”
1
 
 Namun demikian, sekalipunmembedakannya, relasi kedua prosedur inicukup jelas bagi Komisi. Pada bagian lain,Komisi menegaskan bahwa Prosedur Internalharus dipenuhi untuk dapat dilaksanakannyaProsedur Eksternal. Komisi lebih lanjutmenegaskan bahwa berlakunya perjanjianterhadap suatu Negara ditentukan oleh Prosedur Eksternal bukan Prosedur Internal.Jika dalam Prosedur Eksternal pengertian pengesahan/ratifikasi adalah “konfirmasi” dari Negara maka pada Prosedur Internal pengertianini dapat berupa:a.“Konfirmasi”, yaitu organ Negara seperti parlemen memberikan konfirmasi terhadap perbuatan Pemerintah yang telahmenandatangani suatu perjanjian, atau b.“Persetujuan”, yaitu organ Negara seperti parlemen memberikan persetujuan terlebihdahulu terhadap perjanjian yang akanditandatangani oleh Pemerintah.
1
ILC Draft Articles on the Law of Treaties and Commentaries
, AJILVol 61, Jan 1967, hal. 285-294
Hukum Tata Negara RI tanpa sengajamengartikan lembaga pengesahan/ratifikasisebagai persetujuan DPRbukan“konfirmasi” dan hal ini tercermin dalam Pasal11 UUD 1945.
2
Namun dalam prakteketatanegaraan RI, yang kemudian ditafsirkanoleh Undang-Undang No. 24 Tahun 2000tentang Perjanjian Internasional, pengertian persetujuan ini bergeser menjadi “konfirmasiDPRketimbang “persetujuan DPR”. Itulahsebabnya pasal ini masih menyisakan pertanyaan mendasar tentang “apakah DPR harus terlibat membuat perjanjian sebelumditandatangani atau hanya terlibat setelah perjanjian ditandatangani oleh Pemerintah?”Dalam hal ini perbedaan pengertian“persetujuandengan “konfirmasi” padalembaga pengesahan/ratifikasi menjadi sangatrelevan. Permasalahan ini tentunya akan sangatterkait dengan persoalan wewenang membuat perjanjian, apakah wewenang eksklusieksekutif atau tidak.Undang-Undang No. 24 Tahun 2000tentang Perjanjian Internasional per definisihanya mengatur tentang pengesahan/ratifikasidalam perspektif Prosedur Eksternal sehingga berkarakter “konfirmasi”, yaitu perbuatanhukum untuk mengikatkan diri pada suatuPerjanjian Internasional dalam bentuk ratifikasi
(ratification),
aksesi
(accession),
 penerimaan
(acceptance)
dan penyetujuan
(approval).
 Namun demikian Undang-Undangini juga mengatur tentang persyaratan internal(pengesahan/ratifikasi dengan Undang-Undangatau Perpres) sebagai dasar konstitusionaluntuk dapat melakukan pengesahan/ratifikasi
2
Pasal 11 UUD 1945:1)Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyatmenyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain.2)Presiden dalam membuat perjanjian internasional lainnya yangmenimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupanrakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/ataumengharuskan perubahan atau pembentukkan undang-undangharus dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.3)Ketentuan lebih lanjut tentang perjanjian internasional diatur dengan undang-undang.
2
 
“Mohammad Yamin sebagai salah satuperumus UUD 1945 pernah menyatakanbahwa “tidak diterapkan dalam Pasal 11bentuk juridis lain daripada persetujuanDPR, Sehingga persetujuan DPR itusendiri berupa apapun telah mencakupisyaratformil menurut Konstitusi Pasal11”.”
dalam perspektif eksternal. Dalam Undang-Undang dan praktek Indonesia, untuk Prosedur Eksternal (yaitu penerbitan
notification
atau
instrument of ratification/ accession acceptance/approval 
oleh Departemen Luar  Negeri) hanya dapat dilakukan setelah Prosedur Internal terpenuhi. Akibatnya, secara hakikimaka Undang-Undang ini telah memberikaninterpretasi bahwa yang dimaksud dengan“persetujuan DPR” pada Pasal 11 UUD 1945adalah “konfirmasi” yang berarti bahwaketerlibatan DPR adalah untuk menerima ataumenolak pengesahan/ratifikasi perjanjian yangsudah dibuat oleh Pemerintah bukan untumenyetujui perjanjian yang akan dibuat olehPemerintah. Dari kekisruhan ini maka dapatdisimpulkan bahwa telah terjadi tarik menarik untuk mengartikan pengertian pengesahan/ratifikasi antara Hukum Tata Negara dengan Hukum PerjanjianInternasional. Pasal 11 UUD 1945 sebagai produk Hukum Tata Negara bergesekan denganUndang-Undang No 24 Tahun 2000 yangsangat dipengaruhi oleh Hukum PerjanjianInternasional. Dalam kaitan ini, pandanganProf. Bagir Manan bahwa “wewenang untuk melakukan hubungan luar negeri termasumembuat dan memasuki PerjanjianInternasional adalah kekuasaan eksklusieksekutif”
3
menjadi sangat relevan. Dalam halini maka pengertian “persetujuan DPR” padaPasal 11 UUD 1945 harus diartikan sebagai“konfirmasi DPR” atas perbuatan hukumeksekutif.
Format Undang-Undang sebagai
Output 
dari “Persetujuan DPR”:Formal atau Prosedural?
Persoalan mendasar lainnya adalah apa
output 
dari tindakan “persetujuan DPR” sepertiyang dimaksud oleh Pasal 11 UUD 1945?Mohammad Yamin sebagai salah satu perumusUUD 1945 pernah menyatakan bahwa “
tidak diterapkan dalam Pasal 11 bentuk juridis laindaripada persetujuan DPR, sehingga persetujuan DPR itu sendiri berupa apapuntelah mencakupi syarat formil menuru Konstitusi Pasal 11”.
4
 
Dari pandanganMuhammad Yamin tersebut maka sebenarnya
3
Manan, Bagir Prof,
 Akibat Hukum di Dalam Negeri Pengesahan Perjanjian Internasional (Tinjauan Hukum Tata Negara),
Focussed GroupDiscussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008.
4
Yamin, Muhammad,
 Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945,
Djilid Ketiga, 1960, hal. 784.
“persetujuan DPR” dapat mengambil bentuapa pun dan hanya merupakan syarat formiluntuk dibuatnya suatu Perjanjian Internasional. Namun dalam perkembangan praktek ketatanegaraan Indonesia
output 
dari“persetujuan DPR” ini telah mengambil bentuk Undang-Undang. Perkembangan ini tercermindari praktek yang timbul menyusul SuratPresiden No. 2826/HK/1960 kepada KetuaDPR, yang selalu menuangkan “persetujuanDPRkedalam format Undang-Undang dandalam praktek istilah ini selanjutnya selaludiartikan secara baku sebagai“pengesahan/ratifikasi”. Pemahaman inikemudian terkristalisasi dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional yang secara sengaja telahmenafsirkan kata “persetujuan DPR” pasal 11UUD 1945 sebagai “pengesahan dengan bentuk Undang-Undang”. Namun tanpadisengaja Undang-Undang No. 24 Tahun 2000ternyata mendefinisikan istilah“pengesahan/ratifikasi” sebagai perbuatanhukum untuk mengikatkan diri pada suatuPerjanjian Internasional dalam bentuk ratifikasi, aksesi, penerimaan dan persetujuan.
5 
Sekalipun memakai definisi eksternal,Undang-Undang ini juga ternyata mengartikan pengesahan/ratifikasi seperti yang dikenaldalam Prosedur Internal (misalnya pemakaianistilah
 pengesahan dengan Undang-Undang/Keppres
sehingga tanpa disengajatelah menggunakan istilah yang sama untuk  pengertian yang sebenarnya berbeda.Selanjutnya apa konsekeunsi dari Undang-Undang atau Perpres yang mengesahkan suatuPerjanjian terhadap Hukum Nasional (aspek internal) ternyata telah pula menimbulkan perdebatan baik di kalangan akademisimaupun praktisi. Masalah ini telah menjadi perdebatan dalam kerangka pergulatan teorimonisme-dualisme tentang hubungan Hukum
5
Pasal 1 (2) Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional
3

Activity (82)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
kekalovalsa liked this
Citra Nainggolan liked this
zelema77 liked this
Igien Ntoe Vhierjeans added this note
jelaskan tujuan dari ratifikasi perjanjian internasional.,, saya ingin jawaban yang menurut anda.,.
Mhaya Digbhy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->