“Mohammad Yamin sebagai salah satuperumus UUD 1945 pernah menyatakanbahwa “tidak diterapkan dalam Pasal 11bentuk juridis lain daripada persetujuanDPR, Sehingga persetujuan DPR itusendiri berupa apapun telah mencakupisyaratformil menurut Konstitusi Pasal11”.”
dalam perspektif eksternal. Dalam Undang-Undang dan praktek Indonesia, untuk Prosedur Eksternal (yaitu penerbitan
notification
atau
instrument of ratification/ accession / acceptance/approval
oleh Departemen Luar Negeri) hanya dapat dilakukan setelah Prosedur Internal terpenuhi. Akibatnya, secara hakikimaka Undang-Undang ini telah memberikaninterpretasi bahwa yang dimaksud dengan“persetujuan DPR” pada Pasal 11 UUD 1945adalah “konfirmasi” yang berarti bahwaketerlibatan DPR adalah untuk menerima ataumenolak pengesahan/ratifikasi perjanjian yangsudah dibuat oleh Pemerintah bukan untuk menyetujui perjanjian yang akan dibuat olehPemerintah. Dari kekisruhan ini maka dapatdisimpulkan bahwa telah terjadi tarik menarik untuk mengartikan pengertian pengesahan/ratifikasi antara Hukum Tata Negara dengan Hukum PerjanjianInternasional. Pasal 11 UUD 1945 sebagai produk Hukum Tata Negara bergesekan denganUndang-Undang No 24 Tahun 2000 yangsangat dipengaruhi oleh Hukum PerjanjianInternasional. Dalam kaitan ini, pandanganProf. Bagir Manan bahwa “wewenang untuk melakukan hubungan luar negeri termasuk membuat dan memasuki PerjanjianInternasional adalah kekuasaan eksklusif eksekutif”
menjadi sangat relevan. Dalam halini maka pengertian “persetujuan DPR” padaPasal 11 UUD 1945 harus diartikan sebagai“konfirmasi DPR” atas perbuatan hukumeksekutif.
Format Undang-Undang sebagai
Output
dari “Persetujuan DPR”:Formal atau Prosedural?
Persoalan mendasar lainnya adalah apa
output
dari tindakan “persetujuan DPR” sepertiyang dimaksud oleh Pasal 11 UUD 1945?Mohammad Yamin sebagai salah satu perumusUUD 1945 pernah menyatakan bahwa “
tidak diterapkan dalam Pasal 11 bentuk juridis laindaripada persetujuan DPR, sehingga persetujuan DPR itu sendiri berupa apapuntelah mencakupi syarat formil menurut Konstitusi Pasal 11”.
Dari pandanganMuhammad Yamin tersebut maka sebenarnya
3
Manan, Bagir Prof,
Akibat Hukum di Dalam Negeri Pengesahan Perjanjian Internasional (Tinjauan Hukum Tata Negara),
Focussed GroupDiscussion, Deplu-FH UNPAD, Bandung, 29 November 2008.
4
Yamin, Muhammad,
Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945,
Djilid Ketiga, 1960, hal. 784.
“persetujuan DPR” dapat mengambil bentuk apa pun dan hanya merupakan syarat formiluntuk dibuatnya suatu Perjanjian Internasional. Namun dalam perkembangan praktek ketatanegaraan Indonesia
output
dari“persetujuan DPR” ini telah mengambil bentuk Undang-Undang. Perkembangan ini tercermindari praktek yang timbul menyusul SuratPresiden No. 2826/HK/1960 kepada KetuaDPR, yang selalu menuangkan “persetujuanDPR” kedalam format Undang-Undang dandalam praktek istilah ini selanjutnya selaludiartikan secara baku sebagai“pengesahan/ratifikasi”. Pemahaman inikemudian terkristalisasi dalam Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional yang secara sengaja telahmenafsirkan kata “persetujuan DPR” pasal 11UUD 1945 sebagai “pengesahan dengan bentuk Undang-Undang”. Namun tanpadisengaja Undang-Undang No. 24 Tahun 2000ternyata mendefinisikan istilah“pengesahan/ratifikasi” sebagai perbuatanhukum untuk mengikatkan diri pada suatuPerjanjian Internasional dalam bentuk ratifikasi, aksesi, penerimaan dan persetujuan.
Sekalipun memakai definisi eksternal,Undang-Undang ini juga ternyata mengartikan pengesahan/ratifikasi seperti yang dikenaldalam Prosedur Internal (misalnya pemakaianistilah “
pengesahan dengan Undang-Undang/Keppres
” sehingga tanpa disengajatelah menggunakan istilah yang sama untuk pengertian yang sebenarnya berbeda.Selanjutnya apa konsekeunsi dari Undang-Undang atau Perpres yang mengesahkan suatuPerjanjian terhadap Hukum Nasional (aspek internal) ternyata telah pula menimbulkan perdebatan baik di kalangan akademisimaupun praktisi. Masalah ini telah menjadi perdebatan dalam kerangka pergulatan teorimonisme-dualisme tentang hubungan Hukum
5
Pasal 1 (2) Undang-Undang No. 24 Tahun 2000 tentang PerjanjianInternasional
3