Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Perjanjian Internasional Dalam Sistem UUD 1945

Perjanjian Internasional Dalam Sistem UUD 1945

Ratings:

4.33

(3)
|Views: 3,762 |Likes:
Published by Oktavia Maludin
PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945
DR. HARJONO, SH., M.CL.

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com
PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945
DR. HARJONO, SH., M.CL.

For any Question and further information please send it to : damos_dumoli@yahoo.com

More info:

Published by: Oktavia Maludin on Jun 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
DR. HARJONO, SH., M.CL.
PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM SISTEM UUD 1945
Pendahuluan
Konstitusi merupakan hukum tertinggidalam penyelenggaraan ketatanegaraan suatu Negara oleh karenanya pembuatan PerjanjianInternasional yang merupakan salah satu dariaktivitas penyelenggaraan Negara sudahseharusnya didasarkan ketentuan yang terdapatdalam konstitusi. Konstitusi juga mempunyaifungsi sebagai pondasi dalam penyusunansistem Hukum Tata Negara, oleh karena itu pembuatan Perjanjian Internasional jugamenjadi bagian dalam sistem konstitusi.Sementara ini masih terdapat perbedaan pendapat baik diantara pakar hukum maupun praktisi penyelenggara Pemerintahan Negaramengenai dasar konstitusional yang mengatur  pembuatan Perjanjian Internasional. Perbedaanyang menyebabkan pandangan yang beragamtersebut mempunyai implikasi baik praktis danteoritis dalam memberi dasar pengaturantentang Perjanjian Internasional.Uraian di bawah ini mencoba untumenemukan dasar-dasar pengaturankonstitusional pembuatan PerjanjianInternasional menurut UUD 1945 dalam suatukesisteman.
Charles Sampford 
melihat bahwaada pandangan yang umum mengenai sistemdan ciri atau karakteristik sistem yaitudisebutkan bahwa dalam sistem terdapat:
there are wholes; they have elements and those elements have relations which form structure
”. Lebih lanjut dinyatakan:
Source-based system has legal rules or norms for elements. These are related by relations of authority or validity to higher rules. Theserelations are clasically formed into a pyramidal and hierarchal structure with oneultimate rule, ‘basic norm’ or ‘legal science fiat’ at the top. The wholeness factor is provided by the structure itself and by its function of providing the authoritative basis for all law in community
”. Dengan berdasar  pada pengertian sistem sebagaimana di atasuraian di bawah ini akan ditinjau dariPerjanjian Internasional dalam UUD 1945.
Dasar Hukum
Dasar Hukum Perjanjian Internasional dalamketentuan UUD 1945 setelah mengalami perubahan ialah Pasal 11 yang menyatakan:(1)Presiden dengan persetujuan DewanPerwakilan Rakyat menyatakan perang,membuat perdamaian dan perjanjiandengan Negara lain.(2)Presiden dalam membuat PerjanjianInternasional lainnya yang menimbulkanakibat yang luas dan mendasar bagikehidupan rakyat yang terkait dengan beban keuangan Negara, dan/ataumengharuskan perubahan atau pembentukkan Undang-Undang harusdengan persetujuan Dewan PerwakilanRakyat.(3)Ketentuan lebih lanjut tentang PerjanjianInternasional diatur dengan Undang-Undang.Pasal 11 UUD tersebut satu-satunya Pasaldalam UUD 1945 yang menyebutkandidalamnya adanya kata Perjanjian
13
Lokakarya Evaluasi Undang-Undang No. 24Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional,18 – 19 Oktober 2008, Surabaya.
 
“Pihak Negara lain secara
 prima facie
dan secara hukum dapat memastikanbahwa apa yang dinyatakan olehPresiden Indonesia tidak lain adalahpernyataan keinginan Negara Indonesiayang artinya Negara lain tersebut tidak harus perlu berhubungan denganlembaga Negara yang lain untuk mengetahui maksud atau kehendak Negara Indonesia dalam membuatkesepakatan dengan pihaknya.”
Internasional”, oleh karena itu perlu dikaji lebihdahulu dalam konteks apa UUD 1945 tersebutmengatur hal Perjanjian Internasional.Pasal 11 termasuk dalam Bab III yang berjudul Kekuasaan Pemerintahan Negara yangdi dalam substansi pasal-pasalnya mengatur tentang Presiden dalam sistem UUD 1945. BabIII UUD ini mengalami perubahan yang sangat banyak apabila dibandingkan dengan Bab IIIUUD sebelum perubahan. Disamping perubahan isi pasal-pasal perubahan UUD jugamenambahkan pasal-pasal baru dalam Bab IIIini yaitu : Pasal 6A, Pasal 7A, Pasal 7B, Pasal7C.Pasal 11 sebelum perubahan merupakan pasal tunggal tak berayat yang berbunyi:Presiden dengan persetujuan DewanPerwakilan Rakyat menyatakan perang,membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain”, dan setelah perubahan UUDketentuan yang terdapat dalam Pasal inimenjadi ayat (1) Pasal 11 tanpa dilakukan perubahan bunyi aslinya. Kedudukan Presidendalam UUD setelah perubahan berbeda dengankedudukan Presiden sebelum perubahan, haltersebut dikarenakan adanya perubahan dalamPasal 5 ayat (1) UUD. Sebelum perubahanPasal 5 ayat (1) menyatakan: Presidenmemegang kekuasaan membentuk Undang-Undang dengan persetujuan Dewan PerwakilanRakyat”, sedangkan setelah perubahan Pasaltersebut menjadi berbunyi: “Presiden berhak mengajukan Rancangan Undang-Undangkepada Dewan Perwakilan Rakyat”. Pasal 20ayat (1) UUD setelah perubahan berbunyi:Dewan Perwakilan Rakyat memegangkekuasaan membentuk Undang-Undang”. Dari perubahan Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat(1) tersebut terjadi pengalihan pembuatanUndang-Undang dari tangan Presiden ke DPR.Perubahan demikian juga menyebabkan perubahan pada apa yang dimaksud sebagaiKekuasaan Pemerintahan Negara oleh Bab IIIUUD. Sebelum perubahan UUD, KekuasaanPemerintahan Negara yang berada di tanganPresiden meliputi:(1)kekuasaan eksekutif (vide Pasal 4 ayat (1)UUD);(2)kekuasaan membentuk Undang-Undang(vide Pasal 5 ayat (1) UUD sebelum perubahan);(3)kekuasaan sebagai kepala Negara.Setelah perubahan UUD, KekuasaaanPemerintahan Negara yang diatur dalam BabIII menjadi hanya meliputi kekuasaan sajayaitu:(1)kekuasaan eksekutif;(2)kekuasaan sebagai kepala Negara.Bab III UUD mengandung substansi yang berhubungan dengan lembaga Presiden dalamsistem UUD 1945 dimana didalamnyatermasuk kewenangan Presiden untumenyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain. KedudukanPresiden dalam sistem presidensiilmenjalankan dua fungsi sekaligus yangmelekat yaitu sebagai kepala eksekutif dansebagai kepala Negara. Dengan adanya Pasal11 tersebut UUD 1945 menetapkan bahwaPresidenlah yang mewakili Negara dalammelakukan hubungan dengan Negara lain dan bukan lembaga Negara lainnya.
Bentuk Hukum
Sebuah Perjanjian Internasional padahakekatnya adalah merupakan penuangankesepakatan yang diambil oleh para pihak,dalam hal ini antar Negara yang membuatnya.Dengan demikian dalam sebuah PerjanjianInternasional tercerminkan kehendak dua pihak. Setiap Negara mempunyai aturan yang berbeda tentang siapa yang berhak untumewakili Negara tersebut dan dari wakil itu pula lah pihak Negara lain mendapatkankepastian bahwa memang pihaknya telah bertemu dan mengadakan kesepakatan denganwakil yang sah. Dengan berdasar pada bunyiPasal 11 UUD 1945 telah jelas bahwa Presiden
14
 
“Kalau suatu perjanjian bilateraldisahkan oleh Undang-Undang, apakahini tidak berarti bahwa kehendak Negaralain tersebut disubordinasikan kepadamekanisme internal Negara lain karenadigantungkan kepada pengesahanUndang-Undang. Bagi pihak lain yangdiperlukan adalah pernyataanpersetujuan untuk terikat dan bukanpengesahan Undang-Undang.”
lah yang akan menyatakan, membuat perdamaian dan perjanjian. Pihak Negara lainsecara
 prima facie
dan secara hukum dapatmemastikan bahwa apa yang dinyatakan olehPresiden Indonesia tidak lain adalah pernyataankeinginan Negara Indonesia yang artinya Negara lain tersebut tidak harus perlu berhubungan dengan lembaga Negara yang lainuntuk mengetahui maksud atau kehendak  Negara Indonesia dalam membuat kesepakatandengan pihaknya. Dengan demikian bentuk hukum dari pernyataan Negara yang ditujukanke luar tersebut seharusnya adalah pernyataandari Presiden dan dalam sistem perundang-undangan pernyataan Presiden tersebut lebihtepat diwadahi dalam Keputusan Presiden bukannya bentuk lain umpama saja PeraturanPresiden.Pasal 11 mensyaratkan bahwa pada saatPresiden menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lainharus dengan persetujuan DPR. Persoalannyaadalah apakah dengan adanya syarat tersebutmenjadikan bentuk hukum dari pernyataanPresiden yang ditujukan ke pihak luar tersebutharus berbentuk Undang-Undang. Pasal 11 initidak mensyaratkan bahwa bentuk hukumtersebut haruslah Undang-Undang, meskipunada kemiripan antara prosedur yang disyaratkandalam pembuatan Undang-Undang dengan prosedur yang harus dipenuhi apabila Presidenmenyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain, namun demikiantidaklah berarti bahwa bentuk hukum pernyataan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain harus dalam bentuk hukum Undang-Undang.Apabila pernyataan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara laindiwadahi bentuk hukum Undang-Undang makaartinya proses pembuatannya pun harus sesuaidengan tata cara pembuatan Undang-Undangdan hal yang demikian akan menimbulkan persoalan hukum. Pernyataan perang,membuat perdamaian dan perjanjian dengan Negara lain mempunyai karakteristik yang berbeda. Sebagai sebuah ilustrasi, apabilaterjadi suatu konflik dengan Negara lain yangtidak dapat diselesaikan dengan damai dankemudian terpaksa ditempuh jalan dengan peperangan, apakah Presiden harusmengajukan lebih dahulu kepada DPR untuk mendapatkan persetujuan untuk menyatakan perang, padahal situasinya sangat kritis, atauapabila DPR sedang reses. Kalau proses pembuatan Undang-Undang harus dilakukantentu saja akan menunggu waktu yang cukuplama dan keinginan perang tersebut telahdiketahui oleh pihak musuh hal demikiantentunya sangat merugikan strategi berperangdan dapat menyebabkan kekalahan. Pernyataan perang adalah pernyataan sepihak dan harusdilakukan secara cepat serta tidak dapatdibahas sebagaimana membahas suatuRancangan Undang-Undang, hal demikiantentu saja sangat berbeda dengan membuat perdamaian dan membuat perjanjian dengan Negara lain yang memerlukan kesepakatan bersama antara ke dua belah pihak.Dari sudut hubungan antar pembuatkesepakatan, dalam hal ini antara NegaraIndonesia dengan negara lain khususnya dalam perjanjian bilateral, sangatlah janggal praktik yang selama ini dilakukan yaitu pengesahanPerjanjian Internasional diwadahi dalam bentuk Undang-Undang. Kedua pihak setelahmenyepakati hal-hal tertentu perlu kemudianmenuangkan kesepakatan tersebut dalam bentuk perjanjian, sehingga yang diperlukandiantara keduanya adalah pernyataan masing-masing pihak melalui wakilnya bahwa merekatelah menyetujui hal-hal yang disepakati bersama tersebut dalam suatu naskah yang berakibat mengikat kepada kedua belah pihak.Praktik pengesahan dengan Undang-Undangmenimbulkan persoalan. Undang-Undangadalah bagian dari Hukum Nasional sedangkan perjanjian dengan Negara lain merupakankesepakatan antar Negara yang berada di luar ranah urusan internal Negara. Kalau suatu perjanjian bilateral disahkan oleh Undang-Undang, apakah ini tidak berarti bahwakehendak Negara lain tersebutdisubordinasikan kepada mekanisme internal
15

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Dennis Aprill liked this
Fahrul liked this
Fahrul liked this
Fahrul liked this
Fahrul liked this
Ri A Manda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->