• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Pendahuluan
 
Oleh: Muhammad Nashiruddin Al-Albani
 Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, minta tolong kepada-Nya, dan minta ampunkepada-Nya. Kami mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu dan kejelekan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapatmenyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalahkepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamumati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102)"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu daridiri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya. Dari keduanya Allahmemperkembang biakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allahyang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan(peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasikamu." (an- Nisaa': 1)"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu danmengampuni bagimu dosa-dosamu. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, makasesunguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (al-Ahzab: 70-71)
 Amma ba'du
. Di antara program-program (rencana) saya yang telah lalu adalah berkhidmat kepada Sunnah yang suci, yang saya istilahkan dengan "MendekatkanSunnah kepada Umat". Saya membahasnya dalam beberapa kitab saya. Di antaranyaadalah mukadimah saya terhadap Ringkasan Shahih Muslim oleh Hafidz al-Mundziri,yaitu dari satu sisi membuang isnad dan dari sisi lain membedakan yang sahih dan yangdhaif. Para Ulama telah menyepakati dan tidak ada yang membantah terhadap isnadShahih Bukhari dan Shahih Muslim, sebagaimana yang telah saya kembangkan dalammukadimah tersebut. Maka, yang saya lakukan adalah menghapus sebagian isnad danmatan yang berulang-ulang.Pertama kali yang saya lakukan adalah mentahkik Ringkasan Shahih Muslim,menyebutkannya, menomori hadits dan menjelaskan kata kata yang sulit, membuatcatatan kaki, dan menerbitkannya di Beirut. Tetapi, setelah selesai mempelajarinya,tampak oleh saya bahwa Al-Hafidz al-Mundziri - semoga Allah memberi rahmatkepadanya - di dalam meringkas kitab tersebut tidak hanya membatasinya denganmembuang isnad dan matan yang berulang-ulang saja. Ia juga membuang sebagianisinya.
 
Karena itu, kalau saya mempunyai kesempatan, niscaya saya akan meringkasnya sendiridengan metode khusus yang saya ciptakan sendiri. Kiranya Allah Yang Mahatinggimenghendaki hal itu. Yaitu, ketika saya ditakdirkan Allah dipenjara pada tahun 1389 H /1969 M bersama beberapa ulama tanpa kesalahan yang kami lakukan kecuali hanya berdakwah kepada agama Islam dan mengajarkannya kepada masyarakat. Saya diseret ke penjara Qal'ah di Damaskus. Kemudian dikeluarkan setelah dipenjara yang kedua kalinyadengan menjalani hukuman beberapa bulan. Saya hanya mengharapkan pahala dari Allah.Allah telah menakdirkan kesendirian saya di penjara yang hanya ada buku yang sayacintai Shahih Imam Muslim, pensil, dan penghapus. Di penjara, saya mewujudkan cita-cita saya dalam meringkas dan memudahkannya dengan menghabiskan waktu sekitar 3 bulan. Saya bekerja siang dan malam tanpa merasa lelah ataupun bosan. Dengan begitu,keinginan musuh-musuh umat untuk membalas dendam kepada kami ternyata berbalik menjadi nikmat. Yakni, nikmat yang bayang bayangnya menaungi kaum muslimin penuntut ilmu di manapun mereka berada. Maka, segala puji bagi Allah karena dengannikmat-Nya sempurnalah amal-amal yang saleh.Allah telah memudahkan bagi saya dalam menyelesaikan sejumlah besar tugas ilmiahyang kiranya tidak ada kesempatan bagi saya seandainya masih ada sisa umur dan sayatempuh metode yang biasa. Pihak pemerintah berikutnya melarang saya pergi ke kota-kota Suriah untuk melakukan kunjungan bulanan yang biasa saya lakukan untuk mengajak masyarakat supaya kembali kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah. Acara tersebutterkenal dengan nama "tahanan kota". Pada masa masa itu, saya juga dilarangmenyampaikan pelajaran ilmiah yang banyak menyita waktu saya. Semua itu telahmemalingkan saya dari mengerjakan banyak tugas, dan menghalangi saya untuk bertemudengan orang-orang yang biasa memanfaatkan waktu saya untuk mendapatkan banyak hal (pengetahuan).Setelah menelaah ringkasan tersebut, sebagian ikhwan ingin menerbitkannya. Akantetapi, sebelumnya saya merasa perlu memulainya dengan meringkas Shahih ImamBukhari untuk diterbitkan lebih dahulu. Kemudian disusul dengan menerbitkan ringkasanShahih Imam Muslim. Beberapa hari kemudian saya mulai mewujudkan keinginantersebut. Yaitu, meringkas Shahih Bukhari dalam beberapa kesempatan yang terpotong- potong, dan dalam waktu berbulan-bulan. Sehingga, dengan karunia dan kemurahan-Nya,Allah menakdirkan saya untuk menyelesaikan tugas tersebut.Kemudian Allah menghendaki saudara kami Ustadz Zuhair asy-Syawisy menerbitkannya.Saya mempersiapkan segala sesuatunya, yaitu menyiapkan jenis jenis huruf dan tulisan,supaya dapat diterbitkan kitab yang mudah dimengerti oleh pembaca dalam mengenalmacam-macam hadits yang ada di dalamnya. Apakah hadits itu musnad yang maushul,mu'allaq marfu', atau atsar mauquf sebagaimana yang menjadi ciri khas takhrij dancatatan kaki saya.Secara lamban buku tersebut dicetak pada tahun 1394 H kemudian indeksnya dicetak diBeirut pada tahun 1399 H. Terjadilah beberapa peristiwa yang menyedihkan, yaitu kami
 
kehilangan hal-hal yang menjadi kelaziman suatu kitab
[1]
yang karenanya Saudara Zuhair terpaksa menggambarkan kelaziman-kelaziman dan bagian-bagian kitab itu. Maka,dapatlah - dan segala puji bagi Allah - dikembalikan bagian pertama kitab itu secaralengkap, dengan berharap kepada Allah semoga Dia memberikan kemudahan untuk segera menghidangkannya kepada masyarakat. 
Tindakan yang Saya Lakukan dalam Meringkas Kitab Ini
 Di dalam meringkas Shahih Imam Bukhari, saya menggunakan metode ilmiah yangcermat. Saya kira saya telah menerapkannya pada semua isi hadits Bukhari, atsar-atsarnya, kitab-kitabnya, dan bab-babnya. Tidak ada satu pun yang terluput, insya Allah,kecuali apa yang tidak dapat dihindari sebagai tabiat manusia (khilaf dan lupa).Perinciannya sebagai berikut: 1. Saya buang semua isnad hadits tanpa tersisa kecuali nama sahabat perawi hadits yanglangsung dari Nabi saw.. Juga kecuali perawi-perawi yang di bawah sahabat yang tak dapat dihindari karena keterlibatannya dalam kisah, sedang riwayat itu tidak sempurnakecuali dengan menyebutkan mereka.2. Telah dimaklumi oleh orang-orang yang mengerti kitab Shahih Bukhari bahwa iamengulang-ulang hadits dalam kitabnya itu dan menyebutkannya dalam beberapa tempat,kitab-kitab, dan bab-bab yang berbeda-beda, dan dengan riwayat yang banyak jumlahnya.Terkadang ia menggunakan jalan periwayatan lebih dari satu, sekali tempo ditulisnyahadits itu dengan panjang, dan pada waktu yang lain dengan ringkas. Berdasarkan hal itu,saya pilih di antara riwayat-riwayat yang diulang itu yang paling lengkap dan saya jadikan sebagai pokok dalam ringkasan ini. Akan tetapi, saya tidak berpaling daririwayat-riwayat yang lain. Bahkan, saya menjadikannya sebagai kajian khusus, untuk mencari-cari barangkali di sana terdapat faedah tertentu. Atau, untuk menambah sesuatuyang tidak terdapat dalam riwayat yang dipilih, lalu saya ambil dan saya gabungkan kedalam yang pokok.Penggabungan tersebut menggunakan dua bentuk: 
 Pertama
, apabila ada tambahan, digabungkan sesuai dengan aslinya dan diatur sesuaidengan tingkatan dan urutannya. Sehingga, pembaca yang budiman tidak merasa bahwaitu adalah tambahan. Kemudian saya letakkan di antara dua kurung siku [], misalnya apayang ada pada sebagian karya saya seperti Shifatush Shalah, Hijjatun-Nabi, dan AhkamulJanaiz. 
 Kedua
, jika tambahan itu tidak teratur sesuai dengan tingkatan dan urutannya, maka sayaletakkan diantara tanda kurung dan saya katakan: (dan dalam riwayat ini dan ini). Apabilariwayat itu dari jalan lain dari sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut, saya katakan:(dan dalam satu jalan periwayatan) atau (dan dalam jalan periwayatan yang kedua).Apabila terdapat tambahan lain dari jenis jalan periwayatan yang ketiga, saya katakan:
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...