dkk
., 2006; Stintzing
dkk
., 2002; Moyer
dkk
., 2002; Sandvik, 2004; Rechner dan Kroner, 2005; Cecchini
dkk
., 2005; Kamei
dkk
., 1995; Cooke
dkk
., 2005;Beattie
dkk
., 2005; Andersen
dkk
., 1997; Jang
dkk
., 2005; Nakaishi
et al
.,2000; Wrolstad
dkk
., 2002 dalam Jordheim 2007). Secara luas potensianthosianin untuk manusia sebagai anthosianin dan berbagai efek positif lainuntuk kesehatan ang telah diobservasi secara
in vitro
, juga tentu secara
invivo
yang bergantung kepada absorpsi, metabolisme, distribusi dan ekskresidan senyawa ini dalam tubuh (Rice-Evans, 2003 dalam Jordheim 2007).Berbagai manfaat yang telah ditemukan ini merupakan sebuah potensi yangsangat besar bagi anthosianin dalam pemanfaatan kedepannya sebagai salahsatu zat organik yang banyak digunakan dalam dunia kesehatan.Dalam berbagai pemanfaatan anthosianin, termasuk pemanfaatan anthosianindari bunga Hortensia
(Hydrangea macrophylla),
diperlukan sebuah pengkajian terlebih dahulu tentang berbagai informasi spesifik mengenai jenis pigmen anthsianin ini dalam bunga Hortensia. Beberapa informasi pentingyang diperlukan dalam hal ini antara lain mengenai stabilitasnya dalam berbagai kondisi yang berbeda. Penelitian yang berhubungan denganstabilitas anthosianin dari berbagai parlakuan yang diberikan serta berbagai jenis tumbuhan sumber anthosianin telah banyak dilakukan. Sebagai contoh, pengaruh cahaya, suhu dan pH terhadap stabilitas anthosianin telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti (Stringheta, 1991; Kuskoski
dkk,
2000dalam Ozela 2008). Hal ini dikarenakan pH, cahaya dan suhu mrupakan beberapa aspek perlakuan yang dapat memberikan informasi tentang stabilitasanthosianin (Iacobucci dan Sweeny, 1983; Jackman
dkk
., 1987; Francis, 1989;Cabrita, 1999 dalam Jordheim, 2007). Oleh karena penelitian yang bertujuanuntuk mengetahui pengaruh cahaya, suhu pH terhadap stabilitas anthosianin pada bunga hortensia perlu dilakukan.2
PROGRAM MINIRISET
Leave a Comment