Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Suku Bunga Kredit

Kebijakan Suku Bunga Kredit

Ratings:

3.0

(1)
|Views: 1,676 |Likes:
Published by Imanuel More
Tingginya suku bunga kredit bank berdampak besar bagi perekenomian nasional. Bukan hanya debitur yang menjerit, perekonomian nasional pun ikut goyah karena macetnya sektor riil
Tingginya suku bunga kredit bank berdampak besar bagi perekenomian nasional. Bukan hanya debitur yang menjerit, perekonomian nasional pun ikut goyah karena macetnya sektor riil

More info:

Published by: Imanuel More on Jun 25, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

 
Kebijakan Suku Bunga Kredit: Cara Bank Meraup Untung di tengahKrisis Finansial
Banyak masyarakat kecil yang menjadi debitur bank terus meminta pertimbangan bank untuk menurunkan suku bunga kredit, baik untuk modal kerja maupun KPR. Hal ini jelasterbaca dalam rubrik surat pembaca media cetak maupun media online. Sayangnya, bank- bank nasional merespons dengan enggan. Pertimbangan kesehatan bank, likuiditas,tingginya angka NPL, hingga kondisi finansial dalam dan luar negeri, dijadikan alasan.Bukan hanya masyarakat kecil. Kadin Indonesia, Apindo, Hipmi, dan berbagai elemenyang menaungi pengusaha menengah-atas pun ikut bersuara. Ada apa dengan dunia perbankan nasional?Benar bahwa sebagian besar bank telah tiga kali menurunkan tingkat suku bunga masing-masing. Penurunan tersebut juga diliput media nasional. Tidak hanya itu, para petinggi bank terus menerus mengeluarkan pernyataan bahwa penyesuaian terhadap BI ratesebagai acuan akan terus diupayakan. Masalahnya adalah, penyesuaian yang dilakukan bank pada umumnya hanya berkisar 25-50 basis poin (bps) atau 0,25%-0,50%. Alhasil,tiga kali penurunan pun belum sebanding dengan kenaikan drastis suku bunga kredit yangdiberlakukan bank pada awal krisis finansial lalu. Kenaikan dari 9%-10% menjadi 15%-20% jelas memberatkan debitur maupun calon debitur. Imbasnya, berbagai sayapekonomi penggerak sektor riil turut tercekik.
 Penurunan BI Rate Belum Berdampak 
Suku bunga acuan BI (BI rate) telah kembali mengalami penyesuaian. Pemangkasanterakhir (3/6) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,00% bahkan telah mencapai nilaiterendah sejak sistem perangkat moneter ini diformulasikan pada Agustus 2005.Sejumlah indikator rujukan BI mengarah positif. Inflasi mengalami penurunan dan nilaitukar rupiah juga relatif menurun berkat dukungan peningkatan cadangan devisa. BI jugamelaporkan likuiditas perbankan, termasuk likuiditas pasar uang antarbank, makinmembaik dan dana pihak ketiga (DPK) terus meningkat, meskipun kredit macet (non performing loan/NPL) sedikit meningkat.Lalu, mengapa kalangan perbankan bergeming terhadap desakan berbagai pihak,termasuk BI dan pemerintah? Kalangan perbankan berdalih tingginya suku bunga kredittidak ada hubungan kausal dengan rendahnya permintaan kredit. Sigit Pramono, KetuaUmum Perbanas, misalnya, menyatakan “...justru permintaan kredit dari pengusahasendiri yang masih rendah!” (Kompas.com, 8/6). Benarkah demikian?
Menangguk Laba dari Krisis Finansial 
Sejumlah kalangan menengarai perbankan nasional berusaha mengeruk keutungan darikrisis finansial melalui peningkatan pendapatan bunga bersih/Net Interest Margin (NIM). NIM yang merupakan selisih antara bunga simpanan dan bunga pinjaman dipastikan akanmeningkat jika tingkat suku bunga simpanan dan suku bunga pinjaman jomplang.
 
Dengan nilai bunga pinjaman antara 15% - 20% sedangkan bunga simpanan berkisar 5%- 7%, bank-bank nasional dipastikan meraup keuntungan yang menggiurkan.Kebanyakan bank-bank nasional juga menerapkan kebijakan suku bunga kredit yang berbeda untuk debitur baru & calon debitur di satu sisi, dan debitur lama di sisi yang lain.Kebijakan penurunan bunga kredit hanya berlaku bagi debitur baru/calon debitur,sedangkan bagi debitur lama tetap diberlakukan kebijakan lama dengan bunga yang lebihtinggi. Maksudnya, sudah pasti untuk meningkatkan penyaluran kredit. Namun, dampak kebijakan ini justru bisa berimbas pada peningkatan kredit macet/NPL.Strategi meraup keuntungan melalui kebijakan suku bunga juga terlihat dalam penyalurankredit. Pembedaan bunga kredit yang diterapkan pada pengusaha menengah-atas dan pengusaha kecil/mikro sudah jamak terlihat. Bunga pinjaman bagi pengusaha besar  biasanya lebih rendah, sementara bunga pinjaman bagi pengusaha mikro dan kecil lebihtinggi. Asumsi pragmatis ini jelas mengarah pada pembatasan ruang gerak pelaku usaha bermodal kecil.Bukan hanya ‘permainan NIM’ dan kebijakan bunga kredit. Permasalahan lainnya adalahsikap saling menunggu dan mengintip antara bank dalam menerapkan kebijakan suku bunga. Bank-bank nasional, sebagaimana diakui sendiri oleh para petingginya, engganmengambil risiko dengan menjadi pionir. Lebih parah lagi, bank-bank kecil-menengahacapkali tidak hanya menunggu kebijakan bank besar, tapi juga melihat dampaknyaterlebih dahulu. Hasilnya, untuk menurunkan suku bunga sebesar 0,25% pun bank cenderung bereaksi lamban.Iklim persaingan antarbank ini berdampak besar terhadap pelaku usaha dan konsumenyang harus menanti dalam ketidakpastian. Para debitur lama bagai ‘sudah jatuh, tertimpatangga pula’. Laju bisnis mereka yang tersendat karena terimbas krisis diperparah dengankenaikan setoran ke bank kreditur yang justru menerapkan bunga tinggi. Sementara paracalon pelaku usaha dan konsumen terus menanti dalam ketidakpastian 
Efek Berantai Kebijakan Bunga Kredit Bank 
 Masalah tingginya suku bunga pinjaman layak membuat banyak pihak uring-uringan. Tak dapat dipungkiri, sektor perbankan berperan penting demi menggerakkan perekonomiannasional. Halim Alamsyah, direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan BI bahkan menyebutkan bahwa perbankan menguasai 70% perekonomian (Bisnis Indonesia,19/6). Saat penyaluran kredit seret akibat tingginya bunga pinjaman, roda ekonomi sektor lain yang bergantung pada kucuran dana bank ikut terombang-ambing.Ketika sektor riil macet maka ekonomi negara akan mengalami goncangan, termasuk didalamnya dunia perbankan sendiri. Maka, ketika bank-bank tetap memberlakukankebijakan suku bunga tinggi untuk pinjaman dan berupaya terus mengais keuntungan ditengah krisis, langkah tersebut bisa dikategorikan sebagai tindakan bunuh diri danmembunuh perekonomian negara.
 
Dominasi dan ketamakan satu pihak akan berimbas pada kehancuran elemen lainnya,yang berujung pada kehancuran diri sendiri. Dengan kata lain, tindakan kompak bank- bank nasional bukan hanya mengarah pada mandeknya sektor riil dan menurunnyaekspor, tapi lebih jauh akan mengarah kepada penghancuran ekonomi nasional. Ituartinya, keinginan mengeruk profit besar kalangan perbankan berpotensi mencelakakandiri sendiri dan negara secara umum.Atas Nama
 Prudential Banking 
Di tengah krisis finansial global, bank-bank yang beroperasi di Indonesia layak mengedepankan prinsip kehatihatian bank (prudential banking), termasuk dalammencegah tingginya nilai NPL. Untuk itu bank sangat selektif dalam penyaluran kredit.Tolok ukur utama yang sering dipakai adalah aspek 
 feasibility
, yakni terkait potensi atau peluang usaha, dan aspek 
bankable
, yakni terkait kelayakan untuk menjadi debitur bank.Bila benar-benar tegas dalam prinsip-prinsip tersebut, perbankan akan semakin engganmemberikan pinjaman dan masyarakat sederhana di Indonesia akan kesulitanmemperoleh kredit bank. Masalahnya, rekam jejak pengusaha kecil sebagai debitur seringkali masih kosong dan kapasitas kredit pun sulit diukur karena tingkat pendapatan bulanan yang tidak jelas. Apalagi, jika bank ketat menakar nilai ekonomis agunan, prospek penyaluran kredit untuk usaha mikro dan kecil bakal semakin pelik.Bank-bank juga beralasan minimnya penyaluran kredit lebih disebabkan rendahnya permintaan. Rendahnya permohonan kredit sebagaimana dinyatakan kalangan perbankansebenarnya lebih mengarah pada kalangan pengusaha menengah-atas. Dengan hitungan-hitungan besarnya peluang dan kondisi nasional yang diwarnai pilpres, kalangan tersebuttentu lebih berhati-hati dalam berpikir dua kali untuk mengajukan aplikasi. Sementara, permohonan kredit pelaku UMKM sebenarnya tetap stabil. Buktinya, BRI sebagai bank yang erat terlibat dalam penyaluran kredit mikro justru tahun ini sukses membukukanlaba besar dan melampaui BCA sebagai bank terbesar ke-2 di Indonesia.Tetapi, dengan kondisi bunga pinjaman yang tetap tinggi, pengusaha kecil terpaksamengurungkan niat. Sandiaga Uno, wakil ketua KADIN Indonesia (Kompas.com, 11/6)menjelaskan, justru seharusnya bank atau pemerintah memberikan suku bunga yang lebihkecil kepada pelaku UMKM dibanding pelaku bisnis besar yang hanya dikenai suku bunga pada kisaran 10 persen hingga 12 persen.Siapa Motor Penggerak Menyadari keengganan kalangan perbankan ini, diperlukan adanya motor pendorongturunnya suku bunga dari luar kalangan bank. Motor penggerak itu bisa berasal dari bank sentral (BI), pemerintah, dan media massa. Ketiganya memiliki pengaruh dan kekuatankhas yang bisa memberi efek 
 pressure
kepada kalangan perbankan.

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yusifa Nur Aulia liked this
BobChiel liked this
Ghee JheeVhee liked this
ekoz liked this
AndreWie Pirlow liked this
syardilla liked this
fadli90 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->