Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword or section
Like this
17Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ki hajar 2

ki hajar 2

Ratings: (0)|Views: 8,180|Likes:
Published by kalacitra
educate
educate

More info:

Published by: kalacitra on Jun 26, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/14/2012

pdf

text

original

 
Jumat, 26-06-2009
R.A. Kartini dan Ki Hajar Dewantara,Dua Tokoh Pendidikan Indonesia
Jumat, 01-05-2009 11:42:27 oleh: 
 Kanal:Opini Kalau kita teliti, jejak perjuangan Kartini adalah perjuangan agar perempuan Indonesia bisamendapatkan pendidikan yang layak. Bukan perjuangan untuk emansipasi di segala bidang.Kartini menyadari, perempuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Agar dapatmenjalankan perannya dengan baik, perempuan harus mendapat pendidikan yang baik pula.Dalam sebuah suratnya, kepada Prof. Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902 Kartini menulis,
 Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaumwanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Atas kesadaran tersebut, Kartini berniat melanjutkan sekolah ke Belanda,
 Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar  yang telah kupilih” (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900).
Waktu itu, Kartini beranggapan bahwa Eropa adalah tempat peradaban tertinggi dan paling sempurna di muka bumi. Namun,rencana itu tak pernah berhasil. Kartini hanya mendapat kesempatan menempuh sekolah guru diBetawi. Kesempatann ini pun batal dijalaninya karena dia harus menikah dengan R.M.A.A.Singgih Djojo Adhiningrat.Walaupun awalnya banyak menentang adat Jawa yang kaku dan kebiasaan bangsawannya berpoligami, Kartini menerima pernikahan tersebut. Ada sebuah kesadaran di benaknya, denganmenikah dia akan berkesempatan untuk mendirikan sekolah bagi perempuan
bumiputra
. Alasanini masuk akal karena suaminya adalah seorang bupati yang berkuasa dan mengizinkan bahkanmendukungnya untuk mendirikan sekolah. Keputusan yang luar biasa dari seorang pahlawansejati.Pada hari pernikahannya, seorang ustad dari Semarang, Haji Mohammad Sholeh bin Umar,menghadiahkan beberapa juz al-Quran berbahasa Jawa. Kegelisahan Kartini terhadap agama
 
Islam pun terjawab. Sebelumnya, dalam kehidupan sehari-harinya Kartini hanya diajarkanmembaca al-Quran tanpa diizinkan untuk mengetahui artinya.Setelah mempelajari al-Quran, pandangan Kartini terhadap beberapa hal pun berubah. Diantaranya, pandangannya terhadap peradaban Eropa,
“…, tadinya kami mengira bahwamasyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibumenyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang  sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
Pandangan Kartini terhadap poligami pun berganti, jika awalnya menentang,setelah mengenal ajaran Islam dia menerimanya.Sayangnya, Haji Mohammad Sholeh meninggal sebelum sempat menyelesaikan seluruhterjemahan al-Quran untuk Kartini. Kartini pun hanya mempelajari beberapa jus terjemahantersebut. Jika saja dia sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, tidak mustahil ia akanmenerapkan semua kandungannya. Kartini berani berbeda dengan tradisi adatnya yang mapan,dia juga memiliki ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukunya yang berjudul
 HabisGelap Terbitlah Terangmina dulumati ila nuur 
. Kartini menyadari bahwa sumber pendidikanterbaik justru ada di dekatnya, yaitu Al-Quran, bukan di Eropa. pun terinspirasi dari Surat Al-Baqarah ayat 193:13 Septembar 1904, Kartini meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan diRembang. Untuk menghormatinya, Van Deventer, seorang tokoh politik Etis, mendirikanYayasan Kartini (1912). Yayasan tersebut bertugas mengelola “Sekolah Kartini” yang didirikandi Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.
Ki Hajar Dewantara
Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakaioleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu
tut wuri handayani, ing madya mangunkarsa, ing ngarsa sungtulada
(di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluanguntuk berprakarsa, di depan memberi teladan).Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas SoewardiSoeryaningrat. Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda).Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelahitu, dia bekerja sebagai wartawan di
Sedyotomo
,
Midden Java
,
 De Express
,
Oetoesan Hindia
,
 Kaoem Moeda
,
Tjahaja Timoer 
, dan
 Poesara
. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan.Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes
 
Dekker dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo, ia mendirikan Indische Partij (25 Desember 1912)yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Namun partai ini ditolak oleh pemerintah Belanda.Kemudian, ia dan kawan-kawannya membentuk Komite Bumipoetra (1913) untuk melancarkankritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeriBelanda dari penjajahan Prancis. Untuk membiayai pesta tersebut Pemerintah Belanda menarik uang dari rakyat jajahannya. RM Soewardi Soeryaningrat mengkritik lewat tulisannya “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga).Akibat tulisannya itu, RM Soerwardi Soeryaningrat dijatuhi hukuman buang ke Pulau Bangkaoleh Gubernur Jenderal Idenburg tanpa proses pengadilan. Douwes Dekker dan CiptoMangoenkoesoemo yang merasa rekan seperjuangan diperlakukan tidak adil menerbitkan tulisanuntuk membela Soewardi. Belanda menganggap tulisan itu menghasut rakyat untuk memberontak pada pemerinah kolonial. Akibatnya, keduanya pun terkena hukuman buang,Douwes Dekker ke Kupang dan Cipto Mangoenkoesoemo ke Banda.Hukuman itu ditolak, mereka meminta untuk dibuang ke Negeri Belanda agar bisa belajar.Keinginan tersebut diterima dan mereka diizinkan ke Negeri Belanda sejak Agustus 1913 sebagai bagian dari pelaksanaan hukuman. Selama di negara kincir angin tersebut, Raden Mas SoewardiSoeryaningrat berhasil memperoleh
 Europeesche Akte
dan kembali ke tanah air pada 1918.Sekembalinya ke tanah air, bersama rekan-rekannya, RM Soewardi Soeryaningrat mendirikanPerguruan Nasional Tamansiswa (3 Juli 1922). Perguruan ini mendidik para siswanya untuk memiliki nasionalisme sehingga mau berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Demimemuluskan langkahnya-langkahnya, RM Soewardi Soeryaningrat pun berganti nama menjadiKi Hajar Dewantara. Sebagai seorang bangsawan yang berasal dari lingkungan KratonYogyakarta dan dengan gelar RM di depan namanya, dia kurang leluasa bergerak.Aktivitas Tamansiswa pun ditentang oleh Pemerintah Belanda melalui Ordonasi Sekolah Liar  pada 1932. Dengan gigih RM Soewardi Soeryaningrat pun berjuang hingga ordonansi itudicabut. Sambil mengelola Tamansiswa, RM Soewardi Soeryaningrat tetap rajin menulis. Namun bukan lagi soal politik, melainkan soal pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan.Melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.Tahun 1943, ketika Jepang menduduki Indonesia, Ki Hajar Dewantara bergabung ke PusatTenaga Rakyat (Putera). Di organisasi tersebut, dia menjadi salah seorang pimpinan bersamaSoekarno, Muhammad Hatta, dan K.H. Mas Mansur. Setelah Indonesia merdeka, ia pundipercaya menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan yang pertama. Berbagaiaktivitasnya dalam memperjuangkan pendidikan di tanah air sebelum hingga Indonesia merdekatersebut, membuatnya dianugerahui gelar doktor kehormatan oleh Universitas Gadjah Mada(1957).Ki Hajar Dewantara meninggal pada 28 April 1959 di Yogyakarta dan dimakamkan di KampungCeleban (Yogyakarta). Kemudian, atas jasa-jasanya, pendiri Tamansiswa itu ditetapkan sebagai

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Joe Namdu liked this
Toriqul Chaer liked this
Zen Arief liked this
Rully Warsidi liked this
rosidah fitria liked this
Zul Fahmi liked this
kurnia sari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->