Islam pun terjawab. Sebelumnya, dalam kehidupan sehari-harinya Kartini hanya diajarkanmembaca al-Quran tanpa diizinkan untuk mengetahui artinya.Setelah mempelajari al-Quran, pandangan Kartini terhadap beberapa hal pun berubah. Diantaranya, pandangannya terhadap peradaban Eropa,
“…, tadinya kami mengira bahwamasyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibumenyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902).
Pandangan Kartini terhadap poligami pun berganti, jika awalnya menentang,setelah mengenal ajaran Islam dia menerimanya.Sayangnya, Haji Mohammad Sholeh meninggal sebelum sempat menyelesaikan seluruhterjemahan al-Quran untuk Kartini. Kartini pun hanya mempelajari beberapa jus terjemahantersebut. Jika saja dia sempat mempelajari keseluruhan Al Quran, tidak mustahil ia akanmenerapkan semua kandungannya. Kartini berani berbeda dengan tradisi adatnya yang mapan,dia juga memiliki ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukunya yang berjudul
HabisGelap Terbitlah Terangmina dulumati ila nuur
. Kartini menyadari bahwa sumber pendidikanterbaik justru ada di dekatnya, yaitu Al-Quran, bukan di Eropa. pun terinspirasi dari Surat Al-Baqarah ayat 193:13 Septembar 1904, Kartini meninggal pada usia yang masih muda, 25 tahun dan dimakamkan diRembang. Untuk menghormatinya, Van Deventer, seorang tokoh politik Etis, mendirikanYayasan Kartini (1912). Yayasan tersebut bertugas mengelola “Sekolah Kartini” yang didirikandi Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lainnya.
Ki Hajar Dewantara
Tokoh ini sangat identik dengan pendidikan di Indonesia. Dia dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya pun dipakaioleh Departemen Pendidikan RI sebagai jargon, yaitu
tut wuri handayani, ing madya mangunkarsa, ing ngarsa sungtulada
(di belakang memberi dorongan, di tengah menciptakan peluanguntuk berprakarsa, di depan memberi teladan).Ki Hajar Dewantara dilahirkan di Yogyakarta (2 Mei 1889) dengan nama Raden Mas SoewardiSoeryaningrat. Semasa kecilnya, RM Soewardi Soeryaningrat sekolah di ELS (SD Belanda).Kemudian, ia melanjutkan ke STOVIA (sekolah dokter bumiputra), namun tidak tamat. Setelahitu, dia bekerja sebagai wartawan di
Sedyotomo
,
Midden Java
,
De Express
,
Oetoesan Hindia
,
Kaoem Moeda
,
Tjahaja Timoer
, dan
Poesara
. Tulisan-tulisannya sangat tajam dan patriotik sehingga membangkitkan semangat antipenjajahan.Selain menjadi wartawan, RM Soerwardi Soeryaningrat juga aktif di organisasi sosial dan politik. Tahun 1908 ia aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo. Kemudian, bersama Douwes
Add a Comment