Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bidah Artikel

Bidah Artikel

Ratings: (0)|Views: 2|Likes:
Published by Adam Lzd

More info:

Published by: Adam Lzd on Sep 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/01/2014

pdf

text

original

 
Bid’ah Ditinjau dari Dua Kacamata berbeda
Secara bahasa bid’ah itu berasal dari
ba-da-’a asy-syai
yang artinya mengadakan danmemulai. Kata “bid’ah” maknanya adalah baru atau sesuatu perkara yang baru yang belum pernah ada pada masa Nabi. Adapun Secara istilah, bid’ah itu didefinisikan oleh para ulamadengan sekian banyak versi dan batasan. Hal itu lantaran persepsi mereka atas bid’ah itumemang berbeda-beda. Sebagian mereka ada yang meluaskan pengertiannya hinggamencakup apapun jenis yang baru, sedangkan yang lainnya menyempitkan batasannya.Sultonu Ulama, Imam Izzudin bin Abdus Salam, seorang ulama terbesar dari mazhabSyafi’i (wafat 660 H) dalam kitabnya “Qawa’idul Ahkam” menerangkan bahwa bid’ahadalah suatu perbuatan (baru) yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah SAW. DalamEnsiklopedi Fiqih jilid 8 keluaran Kementrian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait halaman21 disebutkan bahwa secara umum ada dua kecenderungan orang dalam mendefinisikan bid’ah, yaitu:1.kecenderungan menganggap apa yang tidak di masa Rasulullah SAW sebagai bid’ahmeski hukumnya tidak selalu sesat atau haram.2.kecenderungan untuk mengatakan bahwa semua bid’ah adalah sesat.
Kelompok Pertama
Kelompok yang pertama ini menganggap bahwa perkara baru yang tidak di masaRasulullah SAW sebagai bid’ah meski hukumnya tidak selalu sesat atau haram, maksudnyaada juga perkara baru yang baik. Di antara para ulama yang mewakili kalangan ini antara lainadalah Al-Imam Asy-Syafi’i dan pengikutnya seperti Imam Izzudin bin Abdis Salam, Imam Nawawi.Dalam Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Atsqolani, pada juz XVII halaman 10menyebutkan :i.riwayat dari Abu Nu’im menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata :
“Bid’ah itu dua macam, satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Bid’ahterpuji adalah yang sesuai dengan sunnah Nabi dan bid’ah yang tercela adalah yang tidak sesuai atau menentang sunnah Nabi”.
ii.Imam Baihaqi dalam kitabnya “Manaqib Syafi’i” menyebutkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata :
“Perkara baru (bid’ah) itu ada dua macam : 1. Perbuatan keagamaan yang menentang atau berlainan dengan Qur’an, Sunnah Nabi, atsar dan Ijma’, inidinamakan “bid’ah dhalalah”. 2. Perbuatan keagamaan yang baik, yang tidak menentang salah satu dari yang tersebut diatas adalah bid’ah juga, tetapi tidak tercela.”
iii.Tentang bid’ah, sebagian ulama membagi kepada hukum yang lima: wajib, sunnah,makruh, mubah, haram.Contoh-contoh dari Bid’ah yang wajib antara lain: Membukukan mushaf Al-Qur’an.danhadits Nabi (padahal ada hadits Nabi yang melarang membukukan hadits, karena khawatir tercampur-baur dengan Al-Qur’an), serta perumusan dan penulisan ilmu-ilmu keislaman yangseolah olah berdiri sendiri seperti : ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu Al-Qur’an, ilmu Fiqih, ilmukalam (ushuludin), ilmu mantiq (logika), ilmu nahwu-sharaf, ilmu balaghah, ilmu tasawuf.Sedangkan Bid’ah yang haram antara lain : Menambah atau mengurangi jumlahrokaat shalat lima waktu, Shalat dengan tambaan bacaan bahasa Indonesia, Puasa sehari penuh (tidak berbuka saat maghrib), Mewajibkan zakat terhadap barang-barang yang tidak wajib dizakati dan melakukan haji tidak ke Mekkah.Selain itu, Shalat Tarawih berjama’ah, adzan pertama pada shalat Jum’at.,mengadakan pengajian Maulid Nabi, mendirikan sekolah/madrasah/majelis ta’lim adalah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->