Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
25Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Undang-undang Zakat dan Dekonstruksi

Undang-undang Zakat dan Dekonstruksi

Ratings: (0)|Views: 4,481|Likes:
Published by syaltout

More info:

categoriesTypes, Research, Law
Published by: syaltout on Jun 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/05/2013

pdf

text

original

 
1
Undang-undang Zakat dan Dekonstruksi:Menuju Pendidikan Metode Penelitian Hukum Kritis
Mahmud Syaltout 
Artikel yang relatif singkat di bawah ini merupakan kajian kasus yang diawali dengan paparan deskriptif sejarah hukum. Kajian tersebut kemudian ditarik pada wilayah teorihukum kritis yang terbuka pada kajian filsafat bahasa yaitu dekonstruksi. Turunan darisejarah hukum dan filsafat bahasa adalah metode penelitian hukum kritis yang merambahwilayah profan (hukum Islam) dan imanen (hukum positif). Sebagai model awal, metode penelitian hukum kritis masih terbuka untuk menerima masukan-masukan lebih abstrak dan konkret khususnya logika oposisi dalam teks-teks. Namun, suatu rintisan yang dituliskan di sini adalah menempatkan secara eklektik bahwastudi hukum Islam dan hukum positif bukanlah kajian komparatif yang salingmenyalahkan dan membenarkan satu sama lain. Melainkan, suatu metode yang berawaldari hukum Islam yang sudah terlanjur menjadi fakta-fakta hukum dan masyarakat yangkemudian diolah secara normatif dengan memanfaatkan paradigma non negara-agamadan agama yang menegara.Dengan demikian, pendidikan metode penelitian hukum kritis diharapkan tidak terjebak dalam sektarianisme-fasis atau fundamentalisme-aktif melainkan rasionalisme yangmembelah dan senantiasa mengkritik dirinya sendiri. Kurang lebihnya itulah tandadekonstruksi ketika dikurung dalam suatu proyek: metode penelitian hukum kritis.
Sejarah Hukum Undang-undang Zakat
Jika kita menengok ke masa awal Orde Baru, sebetulnya pengajuan Rancangan Undang-Undang Zakat sudah pernah dilakukan oleh Menteri Agama pada Juli 1967. Selainditujukan kepada pimpinan DPR-GR, Rancangan Undang-Undang tentang Zakat tersebut juga disampaikan kepada Menteri Sosial dan Menteri Keuangan. Menteri Sosialdiharapkan memberikan saran dan tanggapan, karena zakat itu menurut hukum penggunaannya juga untuk kepentingan dan tujuan sosial. Sementara harapan yang sama juga dinanti dari Menteri Keuangan karena Departemen Keuangan mempunyai pengalaman dan wewenang dalam bidang pemungutan fiskal.Berbeda dari Menteri Sosial yang saran dan tanggapannya tak pernah kunjung tiba,Menteri Keuangan dalam surat jawabannya berpendapat agar masalah zakat tak perludiatur dalam bentuk Undang-Undang tetapi cukup dengan Peraturan Menteri Agama.Saran yang disampaikan oleh Menteri Keuangan itu paling tidak merupakan salah satu
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya. Aktif pada Jaringan Komisi Fatwa (JarkomFatwa) Surabaya yang spesifik mengembangkan basis keilmuan hukum (
rechtsteorie
), geopolitik dan(
ushul 
) fiqh untuk fatwa sebagai kebajikan publik (
 public wisdom
).
 
2alasan dari sekian banyak faktor mengapa Rancangan Undang-Undang Zakat itu tidak ditindaklanjuti pada tingkat legislatif, dan pada akhirnya mendorong Menteri Agamamengeluarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 4 Tahun 1968 tertanggal 15 Juli1968 tentang Pembentukan Badan Amil Zakat pada tingkat Desa dan Kecamatan diseluruh Indonesia.Dari sudut pandang kelembagaan, apa yang diatur oleh PMA Nomor 4 Tahun 1968 itusesungguhnya lebih signifikan daripada Surat Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeridan Menteri Agama tahun 1991. Jika Surat Keputusan Bersama Menteri 1991menetapkan kepengurusan BAZIS adalah umat Islam yang dibina oleh pemerintah, makaPMA Nomor 4 Tahun 1968 menegaskan bahwa kepengurusan BAZIS adalah aparatur  pemerintah. Dengan kata lain, perlakuan pemerintah Orba terhadap masalah zakat padatahun 1968 justru lebih maju dan aspiratif, ketimbang perlakuan yang diberikan padatahun 1991. Mungkin, karena terlalu maju itulah maka PMA Nomor 4 Tahun 1968 itutidak berumur panjang. Melalui Surat Instruksi Nomor 1 Tahun 1969, Menteri Agamamenetapkan penundaan pelaksanaan PMA Nomor 4 Tahun 1968 tentang PembentukanBadan Amil Zakat di atas hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Apa gerangan yangmenyebabkan peraturan yang sedemikian aspiratif itu ditunda?Dalam pandangan saya, PMA Nomor 4 Tahun 1968 itu dicabut secara terpaksa karenamenghadapi "benturan" dengan Seruan Soeharto (Presiden saat itu) tentang pelaksanaanzakat yang disampaikannya dalam peringatan Isra Miraj tanggal 26 Oktober 1968 diIstana Negara. Dalam kesempatan itu Presiden menyerukan:
Sebagai langkah pertama, di sini saya akan mengumumkan kepada seluruh umat IslamIndonesia, bahwa saya pribadi bersedia mengurus pengumpulan zakat secara besar- besaran ini... Saya pribadi mulai saat ini pula menyediakan diri untuk secara langsungmenerima wesel pengiriman zakat dalam bentuk uang dari segenap umat Islam di seluruh pelosok Tanah Air. Insya Allah saya secara berkala akan mengumumkan kepada seluruhrakyat Indonesia berapa besar uang yang saya terima dan akan saya pertanggungjawabkan penggunaannya. Saya minta seruan saya ini benar-benar mendapatkan perhatian dan tanggapan yang positif dari pemimpin-pemimpin dan seluruhumat Islam.
Sebagai realisasi terhadap seruannya itu, Presiden mengeluarkan Surat Perintah kepadaMayjen TNI Alamsyah, Kolonel Azwar Hamid, dan Kolonel Ali Affandi untuk membantuPresiden dalam menangani administrasi pengelolaan zakat. Bahkan, Presidenmengeluarkan pula Surat (Edaran) No B.133/ Pres/11/1968 yang dialamatkan kepadaseluruh instansi/pejabat terkait agar mereka turut membantu dan berusaha ke arahterlaksananya Seruan Presiden dalam wilayah atau lingkup kerja masing-masing.Realitas di atas jelas merupakan "benturan", karena PMA Nomor 4 Tahun 1968menetapkan bahwa tugas pengumpulan dan penyaluran zakat dilakukan oleh Badan AmilZakat di tingkat Desa/Kelurahan dan Kecamatan, sementara Seruan Presiden menyatakan bahwa Presiden secara pribadi bersedia mengurus zakat. Jadi, karena Seruan Presidenitulah, maka PMA Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Amil Zakat di seluruhwilayah Indonesia batal diberlakukan.
 
3Pertanyaan yang relevan muncul, mengapa Presiden mengeluarkan seruan pengumpulanzakat semacam itu? Kiranya mustahil bahwa selaku Presiden tidak mengetahuikeberadaan PMA Nomor 4 Tahun 1968 itu. Sehingga karenanya, Presiden pada saattersebut seharusnya memperhatikan pula peraturan pemerintah terkait, dalam hal ini PMA Nomor 4 Tahun 1968, yang sudah ditetapkan tiga bulan sebelumnya.Jika PMA Nomor 4 Tahun 1968 tersebut mendapat perhatian Presiden, maka pernyataanPresiden yang mesti muncul pada peringatan Isra Miraj saat itu justru adalah dukunganafirmatif dan konfirmatif. Memang, pernyataan Presiden sedikitpun tidak mempunyainada negasi terhadap PMA Nomor 4 Tahun 1968, tetapi dengan menyatakan kesediaanPresiden pribadi sebagai amil zakat, secara tak langsung mementahkan semua konsepdalam PMA Nomor 4 Tahun 1968 itu. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Mungkinkahada motivasi dan kepentingan lain yanag bersembunyi di balik Seruan Presiden itu? Tentuhanya Soeharto seorang yang dapat memberikan jawabannya secara persis.Berdasarkan periodisasi hubungan Islam dengan negara pada masa Orde Baru yangdikemukakan oleh Abdul Aziz Thaba,
1
maka peristiwa yang terjadi di atas masuk dalamkategori periode antagonistik (1967-1982). Jika kita menggunakan kerangka periodisasiitu, tak pelak kita akan tergoda untuk menganalisis bahwa pemerintah Orba dalammenghadapi umat Islam sepanjang waktu itu menerapkan politik kebudayaan. Politik kebudayaan, sebagaimana dijelaskan oleh Geertz,
2
adalah strategi melemahkan kekuatan publik yang dilakukan oleh kekuasaan dengan cara-cara yang represif, seperti membatasikebebasan berbicara, merampas hak asasi atau bahkan mematahkan akses publik untuk akumulasi modal dan konsentrasi kapital.Maka, berhubung zakat merupakan sarana akumulasi modal yang memungkinkanmenumbuhkan kekuatan umat Islam, maka zakat tak perlu dikelola oleh pemerintah Orba.Kalaupun pemerintah Orba bermaksud mengelolanya, hal itu semata-mata untuk melakukan kontrol atasnya. Jadi, pengelola zakat lebih perlu diwaspadai jangan sampaikarenanya umat Islam mampu tumbuh kuat berkembang dan menjadi ancaman ekonomi politik yang serius bagi pemerintah Or  ba.Jika analisis faktual yang dipergunakan dalam melihat fenomena seputar zakat di tahun1968 itu, maka kesimpulan yang dapat diberikan adalah bahwa Pemerintah Orba dengansadar mencoba menunjukkan tanggung jawabnya yang amat besar dalam pembangunankehidupan keagamaan, seperti yang dikehendaki oleh pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945. Namun, tanggung jawab keagamaan yang diembannya itu bukan merupakantanggung jawab dalam kapasitas sebagai lembaga (negara) agama. Itu terlihat dariungkapan yang dipilih oleh Soeharto yaitu ajakan sebagai pribadi atau sebagai seorangMuslim. Agaknya hal itu sengaja dilakukannya agar pengelolaan zakat oleh dirinya
1
Abdul Azis Thaba,
 Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru
, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hal.51-69.
2
Clifford Geertz,
 Politik Kebudayaan
, terjemahan F. Budi Hardiman, Kanisius, Yogyakarta, 1992, hal.25-30.

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Hilyatus Silmi liked this
Gus Latif liked this
Violet Niez liked this
Iva Ds liked this
Heri Kustadi liked this
fahraz liked this
fahraz liked this
Ahkam Jayadi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->