3Pertanyaan yang relevan muncul, mengapa Presiden mengeluarkan seruan pengumpulanzakat semacam itu? Kiranya mustahil bahwa selaku Presiden tidak mengetahuikeberadaan PMA Nomor 4 Tahun 1968 itu. Sehingga karenanya, Presiden pada saattersebut seharusnya memperhatikan pula peraturan pemerintah terkait, dalam hal ini PMA Nomor 4 Tahun 1968, yang sudah ditetapkan tiga bulan sebelumnya.Jika PMA Nomor 4 Tahun 1968 tersebut mendapat perhatian Presiden, maka pernyataanPresiden yang mesti muncul pada peringatan Isra Miraj saat itu justru adalah dukunganafirmatif dan konfirmatif. Memang, pernyataan Presiden sedikitpun tidak mempunyainada negasi terhadap PMA Nomor 4 Tahun 1968, tetapi dengan menyatakan kesediaanPresiden pribadi sebagai amil zakat, secara tak langsung mementahkan semua konsepdalam PMA Nomor 4 Tahun 1968 itu. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Mungkinkahada motivasi dan kepentingan lain yanag bersembunyi di balik Seruan Presiden itu? Tentuhanya Soeharto seorang yang dapat memberikan jawabannya secara persis.Berdasarkan periodisasi hubungan Islam dengan negara pada masa Orde Baru yangdikemukakan oleh Abdul Aziz Thaba,
1
maka peristiwa yang terjadi di atas masuk dalamkategori periode antagonistik (1967-1982). Jika kita menggunakan kerangka periodisasiitu, tak pelak kita akan tergoda untuk menganalisis bahwa pemerintah Orba dalammenghadapi umat Islam sepanjang waktu itu menerapkan politik kebudayaan. Politik kebudayaan, sebagaimana dijelaskan oleh Geertz,
2
adalah strategi melemahkan kekuatan publik yang dilakukan oleh kekuasaan dengan cara-cara yang represif, seperti membatasikebebasan berbicara, merampas hak asasi atau bahkan mematahkan akses publik untuk akumulasi modal dan konsentrasi kapital.Maka, berhubung zakat merupakan sarana akumulasi modal yang memungkinkanmenumbuhkan kekuatan umat Islam, maka zakat tak perlu dikelola oleh pemerintah Orba.Kalaupun pemerintah Orba bermaksud mengelolanya, hal itu semata-mata untuk melakukan kontrol atasnya. Jadi, pengelola zakat lebih perlu diwaspadai jangan sampaikarenanya umat Islam mampu tumbuh kuat berkembang dan menjadi ancaman ekonomi politik yang serius bagi pemerintah Or ba.Jika analisis faktual yang dipergunakan dalam melihat fenomena seputar zakat di tahun1968 itu, maka kesimpulan yang dapat diberikan adalah bahwa Pemerintah Orba dengansadar mencoba menunjukkan tanggung jawabnya yang amat besar dalam pembangunankehidupan keagamaan, seperti yang dikehendaki oleh pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945. Namun, tanggung jawab keagamaan yang diembannya itu bukan merupakantanggung jawab dalam kapasitas sebagai lembaga (negara) agama. Itu terlihat dariungkapan yang dipilih oleh Soeharto yaitu ajakan sebagai pribadi atau sebagai seorangMuslim. Agaknya hal itu sengaja dilakukannya agar pengelolaan zakat oleh dirinya
1
Abdul Azis Thaba,
Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru
, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hal.51-69.
2
Clifford Geertz,
Politik Kebudayaan
, terjemahan F. Budi Hardiman, Kanisius, Yogyakarta, 1992, hal.25-30.