Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
9Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Adab Khutbah Jum'At

Adab Khutbah Jum'At

Ratings: (0)|Views: 3,536|Likes:
Published by ujangketul62
keistimewaan hari jum'at dapat dilihat di sini, bagi anda yang ingin menyebarkan ajaran agama ambillah yang praktis dan islam membuatnya menjadi mudah
keistimewaan hari jum'at dapat dilihat di sini, bagi anda yang ingin menyebarkan ajaran agama ambillah yang praktis dan islam membuatnya menjadi mudah

More info:

Published by: ujangketul62 on Jun 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/07/2012

pdf

text

original

 
Posted in Tsaqofah by Ahmad Jibraan on the August 10th, 2007 Khutbah Jumât merupakan salah satu media yang strategis untuk dakwah Islam, karena ia bersifat rutin dan wajib dihadiri oleh kaum muslimin secara berjamaah. Sayangnya,media ini terkadang kurang dimanfaatkan secara optimal. Para khathib seringkalimenyampaikan khutbah yang membosankan yang berputar-putar dan itu-itu saja.Akibatnya, banyak para hadirin yang terkantuk-kantuk dan bahkan tertidur. Bahkan, adasatu anekdot yang menyebutkan, khutbah Jumât adalah obat yang cukup mujarab untuk insomnia, penyakit sulit tidur. Maksudnya, kalau Anda terkena penyakit itu, hadirilahkhutbah Jumât, niscaya Anda akan dapat tertidur nyenyak !Di samping itu, para khathib itu juga tak jarang menyampaikan khutbah dengan cara yangkurang sesuai dengan adab khutbah Jut yang seharusnya. Misalnya, mereka berkhutbah dengan suara yang lemah lembut. Mungkin dianggapnya itu adalah cara yang penuh “hikmah”‌ dan lebih cocok dengan karakter orang Indonesia yang konon ramahtamah, mencintai harmonisasi kehidupan, serta suka kedamaian dan kelembutan (?).Tentu akibatnya lebih fatal.آ Sudah materinya membosankan, penyampaiannya malah bikin orang terlena di alam mimpi. Padahal menurut contoh Nabi SAW, beliau berkhutbah secara bersemangat dengan kata-kata yang terucap secara keras dan tegas.Jika para khathib menggunakan cara penyampaian yang diteladankan Nabi ini, denganmateri yang aktual, hangat, dan dinamis, niscaya para hadirin akan bergairah dan penuhsemangat, tidak lesu dan mengantuk seperti yang sering kita lihat.Karena itu, kita harus mempelajari kembali adab-adab khutbah Jumat sebagaimana yangada dalam tuntunan Syariah Islam yang mulia. Tujuannya adalah agar para khathib dapatmenjalankan khutbah Jumât dengan sebaik-baiknya dan agar khutbah yang disampaikandapat turut memberikan kontribusi yang lebih positif bagi dinamika dakwah Islam.
Adab Khutbah Jumât
Adab khutbah Jumât dapat diartikan sebagai sekumpulan tatacara khutbah Jumât, syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan hal-hal yang disunnahkan padanya
1
.Dengan pengertian tersebut, maka adab-adab khutbah Jumât di antaranya adalah sebagai berikut :1. Disyaratkan bagi khatib pada kedua khutbah untuk berdiri (bagi yang kuasa), dengansekali duduk di antara keduanya
2
. Kedua khutbah itu merupakan syarat sah jumâtan,demikian menurut seluruh imam madzhab
3
. Menurut Imam Asy Syafi’i, berdiri dalamdua khutbah dan duduk di antara keduanya adalah wajib
4
. Dari Ibnu Umar RA, dia berkata, “Bahwa Nabi SAW berkhutbah pada hari Jumât dengan berdiri, lalu duduk, lalu berdiri (untuk berkhutbah lagi) seperti yang dikerjakan orang-orang hari ini”.‌ (HR.Jamaah)
5
.
 
2. Disunnahkan bagi khatib untuk memberi salam ketika masuk masjid dan ketika naik mimbar sebelum khutbah. Ibnu Umar RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW jikamasuk masjid pada hari Jumât memberi salam pada orang-orang yang duduk di sisimimbar dan jika telah naik mimbar beliau menghadap hadirin dan mengucapkan salam.(HR. Ath Thabrani)
6
3. Kedua khutbah wajib memenuhi rukun-rukun dan syarat-syaratnya. Rukun-rukunkhutbah dalam madzhab Syafi’i ada 5 (lima) : (1) Membaca hamdalah pada keduakhutbah, (2) Membaca shalawat Nabi pada kedua khutbah, (3) Wasiat taqwa pada keduakhutbah (meski tidak harus dengan kata “taqwa”‌, misalnya dengan kata Athiullah/taatilahkepada Allah), (4) Membaca ayat Al-Qurân pada salah satu khutbah (pada khutbah pertama lebih utama), (5) Membaca doâ untuk kaum muslimin khusus pada khutbahkedua.
7
Adapun syarat-syaratnya ada 6 (enam) perkara : (1) Kedua khutbah dilaksanakanmendahului shalat Jum’at, (2) Diawali dengan niat, menurut ulama Hanafiyah danHanabilah. Menurut ulama Syafi’iyah dan Malikiyah, niat bukan syarat sah khutbah, (3)Khutbah disampaikan dalam bahasa Arab. Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa bagikaum berbangsa Arab, rukun-rukun khutbah wajib berbahasa Arab, sedang selain rukuntidak disyaratkan demikian. Adapun bagi kaum کajam (bukan Arab), pelaksanaan rukun-rukun khutbah tidak disyaratkan secara mutlak dengan bahasa Arab, kecuali pada bacaanayat Al Qurân
8
, (4) Kedua khutbah dilaksanakan pada waktunya (setelah tergelincir matahari). Jika dilaksanakan sebelum waktunya, lalu dilaksanakan shalat Jum’at padawaktunya, maka khutbahnya tidak sah, (5) Khatib disyaratkan mengeraskan suaranya pada kedua khutbah. Ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa rukun-rukun khutbah, khatibdisyaratkan mengeraskan suaranya, (6) Antara khutbah dan shalat Jum’at tidak boleh berselang waktu lama
9
.4. Disunnahkan bagi khatib untuk berkhutbah di atas mimbar, sebab Nabi SAW dahulu berkhutbah di atas mimbar 
10
.5. Disunnahkan bagi khatib untuk duduk pada anak tangga mimbar yang paling atas,sebab Nabi SAW telah mengerjakan yang demikian itu
11
.6. Disunnahkan bagi khatib untuk mengeraskan suaranya pada khutbahnya (selain rukun-rukun khutbah)
12
. Diriwayatkan dari Jabir RA, bahwa jika Rasulullah berkhutbah, keduamatanya memerah, suaranya keras, dan nampak sangat marah, sampai beliau sepertiorang yang sedang menghasungkan pasukan (untuk berperang) (HR. Muslimآ dan IbnuMajah)
13
.7. Disunnahkan bagi khatib untuk bersandar/berpegangan pada tongkat atau busu panah
14
. Ini sesuai riwayat Al Hakam bin Hazan RA yang mengatakan bahwa dia melihatRasulullah SAW berkhutbah seraya bersandar pada busur panah atau tongkat (HR.Ahmad dan Abu Dawud)
15
.
 
8. Disunnahkan bagi khatib untuk memendekkan khutbahnya (tidak berpanjang-panjangatau bertele-tele)
16
. Diriwayatkan dari Amar bin Yasir RA, dia mendengar RasulullahSAW bersabda: “Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khutbah seseorang, adalah pertanda kepahamannya (dalam urusan agama). Maka panjangkanlah shalat dan pendekkanlah khutbah” ‌(HR. Ahmad dan Muslim)9. Dibolehkan bagi khatib untuk memberi isyarat dengan telunjuknya pada saatآ berdoamengingat Rasulullah pernah mengerjakannya. Demikian menurut Imam Asy Syaukani-
18
.10. Kedua khutbah wajib memperbincangkan salah satu urusan kaum muslimin
19
, yakniآ peristiwaآ atau kejadian yang sedang terjadi di kalangan kaum muslim dalam berbagaiaspeknya. Hal ini mengingat Rasulullah SAW dan para khalifahnya dahulu –yangsenantiasa menjadi khatib– sesungguhnya berkedudukan sebagai pemimpin politik (AlQaid As Siyasi) bagi kaum muslimin.Maka dari itu, perkara khatib saat ini pun seharusnya juga mengaitkan khutbahnyadengan realitas atau problem kontemporer yang ada di kalangan kaum muslimin, dantidak sekedar mengulang-ulang khutbah yang kurang memberi kesadaran bagi hadirin,dengan tema yang itu-itu saja yang tentu akan membuat hadirin jemu, mengantuk, atau bahkan tertidur. Wallahu aâlam. [
Muhammad Shiddiq Al Jawi - Dosen Jurusan Ekonomi Islam STAIN Surakarta-SEM Institute
]
CATATAN :
1.Kata adab(jamaknya aadaab‌) dalam bahasa Arab mempunyai beberapa makna, diantaranya adalah sejumlah tatacara yang selayaknya dilaksanakan oleh orangyang mempunyai pekerjaan / profesi (fan) atau aktivitas/tugas (shinaâh/tashurruf)tertentu. Misalnya, abad-adab Qadly (hakim) atau Khatib (penulis/pengarang).Lihat Al Muâjamul Wasith, Dr. Ibrahim Anis dkk., hal. 9-10. Lihat Kamus AlMunawwir, Ahmad Warson Munawwir, jal. 14, 115, dan 853.2.Lihat Ahkamush Shalat, Ali Ar Raghib, hal. 1043.Lihat Rohmatul Ummah, (terjemahan), hal. 1054.Ibid., hal. 105.5.Lihat Nailul Authar, Imam Asy Syaukani, jilid III/304, Syarah As Sunnah, ImamAl Baghawi, jilidآ IV / 24-27, Majma’uz Zawaid, Al Haitsami, II/187, FiqihSunnah, Sayyid Sabiq, jilid I/262.6.Lihat Majma’uz Zawaid, jilid II/184, Fiqih Sunnah, jilid I/260.7.Lihat Al Fiqih â€کAla Al Madzahib Al â€کArba’ah, Abdurrahman Al Jaziri, jili I/390.8.Perhatikan rinciannya dalam Al Fiqih â€کAla Al Madzahibi Al â€کArba’ah, jilid I/391-392.9.Lihat Al-Fiqih â€کAla Al Madzahibi Al â€کArba’ah, jilid I/39210.Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104 , Syarah Sunnah, jilid II/242 dan 244,Majma’uz Zawaid, jilid II/18311.Lihat Ahkamush Shalat, hal. 104.

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Leon D'Fang liked this
Heri Yulianto liked this
Mardi Marijo liked this
basindo liked this
acep88 liked this
Irza Anwar liked this
Irza Anwar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->