• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Perbuatan Baik Non'Muslim (III)
Murtadha Muthahhari
Penerjemah : Agus Effendi
Degradasi Amal Saleh
Masalah ketiga, yang menyangkut nilai iman, adalah masalah yang membahas akibat burukpenentangan atau pembangkangan. Yakni apakah penentangan menjatuhkan atau bahkanmerusak amal saleh, seperti halnya hama merusak tanaman yang hendak dipanen?Dengan kata lain, apabila manusia telah melaksanakan amal saleh yang terpenuhi syarat-syarat kebaikannya dari dimensi perbuatan dan pelakunya, kemudian ia mengingkari suatukebenaran yang ia temui - apalagi jika kebenaran tersebut adalah salah satu pokok (
ushul 
)agama - maka apakah pengingkaran semacam itu merusak amal saleh yang telah terpenuhisyarat-syaratnya?Kami menganggap perlu membahas masalah degradasi amal saleh ini. Boleh jadi suatu amaltelah bagus ditinjau dari dimensi perbuatan dan pelakunya, yaitu utuh dan tidak cacat secaralahiriah maupun batiniah; tetapi dimensi batiniahnya hilang karena terserang oleh semacam"hama" - seperti bibit unggul yang ditanam di lahan subur dan menghasilkan buah yang baik,namun menjelang masa panen buahnya rusak karena terserang hama belalang atau tersambar petir. AlQuran menamai hal semacam ini dengan penggagalan (
ihbath
).Degradasi amal saleh tidak hanya berlaku atas orang-orang kafir. Orang Muslim pun dapatterkena. Jika orang Muslim mukmin memberikan sedekah untuk orang miskin yang berhakmenerimanya, maka diterimalah sedekah itu di sisi Allah SWT. Tapi sedekah tersebut dapatgagal dan hilang karena pemberinya menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan penerimanyaAllah berfirman:
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pabala) sedekahmu denganmenyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)
.( QS.2'264)Sebab lain yang dapat merusak amal saleh adalah rasa dengki. Seperti yang dikatakan hadis di bawahini,Sesunggubnya rasa dengki memakan kebajikan seperti api memakankayu bakar.Di antara sebab lain adalah penentangan dan penolakan suatu kebenaran. Penentangan yang dimaksudadalah penentangan yang terjadi ketika manusia mengetahui kebenaran, dan pada saat yang sama iamengingkarinya.Dengan kata lain, penentangan adalah suatu keadaan di mana akal dan pikiran sehat mengetahui suatukebenaran dengan jelas dan garnblang karena ada bukti-bukti yang menguatkannya, namun jiwa danperasaan menolak kebenaran itu dengan angkuh dan sombong. Penentangan terhadap kebenaran padasaat mengetahui kebenaran adalah sikap orang kafir. Telah kami jelaskan topik ini ketika membahas tigatahap penyerahan (
taslim
). Kami menyebutnya lagi di sini sekadar sebagai penjelasan sehubungandengan pembahasan degradasi amal saleh.Imam Ali mendefinisikan Islam sebagai berikut: "Islam adalah penyerahan (
taslim
)." Yaitu, manakalamuncul kepentingan pribadi yang bertentangan dengan kebenaran, manusia merelakan kepentinganpribadinya demi kebenaran dan mengabaikan hal-hal selain itu. Dan penentangan sebenarnya tidak lebihdaripada kekafiran. Abu Jahal sebetulnya tahu akan kebenaran yang dibawa oleh Nabi Muhammadsaw., namun ia menutup mata atas kebenaran itu dan menolaknya. Al-Quran telah melukiskan denganbaik sifat jelek yang dimiliki oleh sebagian manusia:
Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: "Ya Allab, jika betul (Al-Quran) ini benar-benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlahkepada kami azab yang pedih
" (QS 8 :32)
1
 
Betapa indahnya ungkapan AlQuran di atas. Dengan kalimat yang singkat ia merefleksikan dengan jelaskelainan jiwa sebagian manusia. Al-Quran dapat melaksanakan apa yang tidak dapat diungkapkan olehmanusia.Manusia yang perkataannya dikutip oleh ayat di atas, sebenarnya ingin mengatakan: "Tuhanku,sekiranya ini benar datang dari-Mu, maka berilah petunjuk kepada hatiku untuk menerimanya." Tapi, yangsempat terucap hanya: "Jika hal itu benar, turunkanlah azab yang
menghancurkanku, karena akutidak kuat bertahan menghadapi kebenaran."
"Di Bawah Nol"
Pembahasan kita selanjutnya berkaitan dengan diterima atau tidaknya perbuatan baik yangdilakukan oleh non-Muslim. Apakah perbuatan baik mereka dapat mengangkat derajat merekalebih tinggi atau tidak?Di sini kami ingin melihat apa yang disebut "di bawah nol", atau apa yang akan terjadisehubungan dengan dosa-dosa, perbuatan-perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh non-Muslim. Apakah juga perbuatan jelek mereka disamakan dengan perbuatan baiknya, ataukahmungkin ada pembedaan?Apakah ada perbedaan antara Muslim dan non-Muslim, Syi’ah dan non-Syi'ah sehubungandengan perbuatan-perbuatan menyimpang? Pada pembahasan terdahulu telah dijelaskanbahwa Allah SWT tidak akan menimpakan azab kepada manusia kecuali bila ia menyepelekan,atau melakukan pelanggaran dengan sengaja. Dan Allah
SWT
 juga tidak akan menimpakanazab atas orang yang tidak mampu melaksanakan amal baik itu. Dalan hal ini kami telahmenyebut dan menguraikan satuayat yang oleh para ehli
ushul 
telah dijadikan dasar kaidah "pembalasan itu jelek tanpa disertaiketerangan".Agar lebih jelas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan non-Muslim sehubungan dengan "dibawah nol" atau perbuatan-perbuatan jelek mereka, maka kita mesti menjelaskan dahulubeberapa terminology yang bersumber dari AlQuran berikut ini.1. Orang lemah (
al-qashir 
) dan orang tertindas (
al-mustadh'afin
)Para ulama Islam telah mengenal sekaligus mengatakan bahwa sebagian manusia ada yangtertindas (
mustadh’afin
) dan ada pula orang yang ditanguhkan sampai ada keputusan Allah (
al-murjawna Ii amr Allah
). Urusan mereka terpulang kepada Allah SWT. Allah akan mengambilsikap kepada mereka sesuai dengan Kebijaksanaan dan Rahmat-Nya.Kedua istilah tersebut dikutip dari ayat-ayat Al-Quran:
Sesunguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negri (Makkah)."Paramalaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sebingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jabanam, dan Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun
anak-anak yang tidak mampu berdaya apaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah).Mereka itu, mudah-mudahan Allab memaafkannya. Dan Allah Maha Pemaaf lagi MabaPengampun. (QS 4:97-99)
Pada ayat pertama, terjadi sebuah dialog antara malaikat dengan sebagian manusia setelah mati.Hasilnya, para manusia dinilai meremehkan perintah Allah dan berhak mendapatkan siksa. Pada ayatkedua, disebutkan tentang orang-orang yang betul-betul tertindas (mustadh'afin). Adapun ayat ketigamenyebutkan adanya harapan bagi orang-orang mustadh'afin tntuk mendapatkan ampunan Allah SWT.Berikut ini uraian Thabathaba'i dalam tafsirnya, Al-Mizan, tentang ayat tersebut:
Sesungguhnya Allah SWT mengkategorikan kebodohan dalam beragama, dan segala larangan menegakkan syiar agamasebagai suatu kezaliman yang tidak mendapatkan ampunan llahi. Kemudian Dia mengecualikan mustadh'afin, yaitu
2
 
dengan menerima alasan yang mereka kemukakan karena tertindas. Dia mendefinisikan para mustadh'afin dengan sifat-sifat yang melekat pada diri mereka, yaitu ketidakberdayaan mereka atas bahaya yang mengancam diri mereka. Dalamhal ini juga termasuk orang yang tidak dapat mencari ilmu agama dengan sempurna; atau ada halangan berat yang tidaksanggup ia pikul, dalam mencari ilmu, karena fisik yang lemah; atau tidak mampu membiayai dirinya, sehingga ia tidakdapat keluar atau hijrah ke negara Islam untuk dapat bertemu dengan kaum Muslim. Contoh lain yaitu orang yang sudahberusaha tapi tidak dapat memahami ilmu agama dengan sempurna, sehingga akal pikirannya tidak dapat menerangidirinya dan pada saat yang sama ia tidak menolak kebenaran, bahkan jika kebenaran itu tampak atas dirinya, ia maumengikutinya.
Banyak sekali riwayat yang membicarakan orang-orang lemah dengan berbagai alasan yang dapatditerima. Dan mereka dikategorikan sebagai mustadh'afin. Allah SWT berfirman:
Dan ada pula orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan ada' kalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan AllabMaha Mengetabui lagi Mababijaksana
. (QS 9:106)Istilah "orang yang ditangguhkan" (
al-murjawna li amr Allah
) dikutip dari ayat di atas.Imam Al-Baqir mengomentari ayat tersebut sebagai berikut:
Ada suatu golongan yang dulunya musyrik kemudian terbunuh dalam suatu peperangan membela Islam sepeni Hamzah, Ja'far dankaum Muslim yang lain yang memiliki nasib seperti mereka. Mereka masuk lslam, kemudian men-tauhidkan Allah SWT,meninggalkan kemusyrikan, tapi mereka tidak tahu akan keimanan di dalam hati mereka. Mereka adalah orang mukmin ahli surga.Seandainya mereka tetap pada keingkarannya, maka mereka adalah ahli neraka. Dan mereka inilah yang disebut dengan "orang-orang yang di tangguhkan" (
al-mu'rjawna li amr Allah
). Apakah Allah akan menimpakan azab atas diri mereka atau menerimatobatnya?'
Di dalam tafsir 
 Al-'Iyasyi 
diriwayatkan dari Hamran: "Saya bertanya" kepada Imam Shadiq tentang
mustadh'afin
." Imam Shadiq menjawab: "Mereka (
mustadh'afin
) tidaklah termasuk orang kafir. Merekaadalah yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah
(al-murjawna li amr Allah).
"Lebih jauh tentang ayat tersebut, dikatakan bahwa amal-amal mereka yang ditangguhkan akan dipilah-pilah lagi oleh Allah SWT, namun ayat tentang
mustadh'afin
mengisyaratkan akan adanya ampunandan maghfirah Allah untuk mereka.Kami mengambil kesimpulan dari hal-hal tersebut bahwa orang lemah (
al-qashir 
) tidak disiksa oleh AllahSWT.Di dalam Al-Kafi diriwayatkan dari Hamzah bin Al-Thayyar yang berkata: "Imam Shadiq berkata kepadasaya: 'Manusia terbagi menjadi enam golongan yang dapat diperkecil lagi menjadi tiga golongan, yaitu:iman
(al-iman
), kekafiran
(al-kufr 
), dan kesesatan
(al-dhalal 
). Mereka adalah yang diambil janjinya olehAllah dengan surga dan neraka. Mereka terdiri atas orang-orang mukmin, kafir 
, mustadh'afin
, danmereka yang ditangguhkan oleh Allah (al-murjautna li amr Allah), yangakan menerima, azab dari Allah atau akan diterima tobatnya. Serta orang-orang yang mengakui dosa-dosanya, dan orang-orang yang berbuat kebajikan'."Di dalam Al-Kafi menurut riwayat yang lain dari Zurarah dikatakan: "Saya bersama Hamran menghadapImam Baqir. Saya berkata kepadanya. Sesungguhnya saya membentangkan
al -mathmar 
." " Apakahyang kau maksud dengan
al-mathmar 
itu?" Imam Baqir balik bertanya. Saya berkata: “
Mathmar 
adalahbenang yang kami bentangkan mengenai keturunan Ali atau orang lain. Jika mereka benar, saya akanmengikuti mereka. Tapi jika mereka salah, saya akan meninggalkan mereka."lalu Imam Baqir berkara: "Hai Zurarah, firman Allah lebih benar ketimbang perkataanmu. Manakahmereka yang termasuk dalam firman Allah ini:
Kecuali orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak, yang tak mampu berusaha dan tidak mendapat 
 petuniuk jalan (untuk bijrah)
, dan manakah yang
al-murjawna li amr Allah
? Manakah yang termasuk golongan orang-orang yang mencampuradukkan amal saleh dengan perilaku buruk? Manakah yang termasukorang-orang yang sering berbuat kebajikan? Dan manakah yang termasuk orang yang barumasuk Islam?"Hamran menambahkan dalam riwayat tersebut:" Imam Baqir dan saya pada saat itu berbicaradengan suara yang keras sehingga kedengaran dari luar rumah."Jamil pun menambahkan dalam riwayat tersebut, dari Zurarah yang berkata: "Ketikapembicaraan telah larut antara aku dengan Imam Baqir, Imam Baqir berkata: 'Hai Zurarah,sungguh orang yang tersesat akan masuk surga'."Di dalam Al-Kafi diriwayatkan dari Imam Musa yang berkata:
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...