Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
37Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Isi Buku Naskah Akademis & RUU Tindak Pidana Korupsi

Isi Buku Naskah Akademis & RUU Tindak Pidana Korupsi

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 10,019|Likes:
Published by eets
Isi Buku Naskah Akademis & RUU Tipikor
Isi Buku Naskah Akademis & RUU Tipikor

More info:

Published by: eets on Jul 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/14/2013

pdf

text

original

 
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
P
ada 19 Desember 2006, Mahkamah Kontitusi (MK) melaluiputusan Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006, telahmembatalkan ketentuan Pasal 53 UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) yang mengatur keberadaan Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi(Tipikor). Putusan itu merupakan putusan perkara pengujian Undang-Undang ( 
constitutional review)
yang diajukan oleh Mulyana W Kusuma,dkk. MK dalam putusan menilai bahwa ketentuan Pasal 53 UU No.30 Tahun 2002 bertentangan dengan UUD 1945, karena telah terjadidualisme penegakan hukum dalam sistem peradilan tindak pidanakorupsi. Dualisme yang telah menimbulkan ketidakpastian hukumdan merugikan hak-hak konstitusional para pemohon.Dalam putusan tersebut, MK juga meminta pembuat Undang-Undang harus sesegera mungkin melakukan penyelarasan UU KPK dengan UUD 1945 dan
membentuk Undang-Undang tentang Pengadilan Tipikor 
sebagai satu-satunya sistem peradilan tindak pidana korupsi,sehingga dualisme sistem peradilan tindak pidana korupsi yang telahdinyatakan bertentangan dengan UUD 1945, dapat dihilangkan.Untuk itu MK memberikan jangka waktu paling lama 3 (tiga) Tahun
 
2
Naskah Akademis & RUU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
sejak putusan dibacakan. Apabila pada saat jatuh tempo tiga TahunPengadilan Tipikor tidak dibentuk dengan Undang-Undang tersendiri, maka seluruh penanganan perkara tindak pidana korupsimenjadi wewenang Pengadilan Negeri yang berada dalamlingkungan peradilan umum.
1
Sebagai akibat dari putusan MK tersebut, DPR bersamaPemerintah harus sesegera mungkin membuat Undang-Undang tentang Pengadilan Tipikor. Mengingat urgensi dan pentingnyaPengadilan Tipikor bagi upaya pemberantasan korupsi di Indonesia,kami, Taskforce yang terdiri berbagai kalangan, berinisiatif menyusundraft naskah akademis dan RUU Pengadilan Tipikor. Adapunurgensi dan pentingnya keberadaan Pengadilan Tipikor di Indonesia,dapat dilihat dari alasan-alasan sebagai berikut;
A.1. Keadaan ‘Gawat’ Korupsi di Indonesia
Korupsi masih merupakan permasalahan yang serius diIndonesia, karena korupsi sudah merebak di segala bidang dansektor kehidupan masyarakat secara meluas, sistematis danterorganisir. Korupsi sudah merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. Korupsi menjadipenyebab timbulnya krisis ekonomi, merusak system hukum danmenghambat jalannya pemerintahan yang bersih dan demokratis.Dengan kata lain, korupsi sudah menggoyahkan sendi-sendikehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa tetapi sudahmerupakan kejahatan luar biasa ( 
extra ordinary crime 
 ).Kondisi demikian diakui dan dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Bagian penjelasan Undang-Undang tersebutmenyatakan bahwa:
1
Lihat Putusan MK Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006, hal 289.
 
3
“…mengingat korupsi di Indonesia terjadi secara sistematik dan meluassehingga tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga telahmelanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, makapemberantasan korupsi perlu dilakukan dengan cara luar biasa…”
Demikian pula dalam penjelasan UU Nomor 30 Tahun 2002tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsidinyatakan bahwa:
“Tindak pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat.Perkembangannya terus meningkat dari Tahun ke Tahun, baik darijumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian keuangan negaramaupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakinsistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupanmasyarakat.Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akanmembawa bencana tidak saja terhadap kehidupan perekonomiannasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara padaumumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis jugamerupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomimasyarakat, dan karena itu semua maka tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadisuatu
kejahatan luar biasa.
Begitu pun dalam upaya pemberantasannyatidak lagi dapat dilakukan secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa”.
Gawatnya korupsi dan dampak yang ditimbulkan,tercermin pula dalam pembukaan
 preambule)
konvensi PBBantikorupsi (UNCAC, 2003). Konvensi yang yang telahdiratifikasi dengan UU Nomor 7 Tahun 2006, dalampembukaannya menyatakan bahwa:
“ Concerned about the seriousness of problems and threats posed by corruption to the stability and security of societies, undermining theinstitutions and values of democracy, ethical values and justice andjeopardizing sustainable development and the rule of law;”
Sederet data dan fakta berikut ini seakan memperjelas danmempertegas pernyataan Undang-Undang tersebut di atas. Betapatidak, sejak Soemitro Djojohadikusumo menyebutkan bahwa telahterjadi kebocoran dana pembangunan antara Tahun 1989-1993
Naskah Akademis Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->