RUU RAHASIA NEGARA DAN KEBEBASAN PERS
"Rahasia Negara!" Kata ini begitu familier ditelinga komunitas wartawan, sekaligussangat problematic dalam konteks proses penggalian informasi jurnalistik. Kata itu seringdilontarkan pejabat atau pegawai badan publik sebagai alasan untuk tidak memberikaninformasi, dokumen atau data yang diminta pers. Alasan yang seringkali, bahkan hampir selaludiutarakan tanpa penjelasan masuk-akal mengapa suatu informasi dirahasiakan dan apapertimbangan yang mendasarinya.Klaim rahasia negara tidak benar-benar untuk melindungi informasi-informasi yang jikadibuka, memang menimbulkan ancaman bagi keamanan nasional. Klaim itu secara latah jugadilakukan terhadap informasi yang justru harus diberitahukan kepada masyarakat, diwacanakanmelalui ruang media. Misalnya informasi tentang RAPBN/RAPBD, kebijakan badan publik,rencana kebijakan, rencana proyek, rencana kunjungan pejabat, belanja rutin, aktivitas internalbadan publik, persidangan DPR/DPRD. Karena menyangkut pelaksanaan mandat pemerintahandan penggunaan dana negara, jelas sekali bahwa informasi-informasi itu harus terbuka bagimasyarakat. Namun pemerintah sering menghambat akses media atas informasiinformasitersebut, dengan alasan melindungi rahasia negara.Reformasi memang telah berlangsung lama. Transparansi dan akuntabilitas menjadimatra yang selalu didengungkan pejabat pemerintah. Pemerintah terus menegaskan komitmenuntuk mentransformasikan diri menuju tata pemerintahan yang terbuka dan akuntabel. Namunfakta menunjukkan, terkait dengan prinsip transparansi, kondisi birokrasi kita belum banyakberubah. Klaim rahasia negara, rahasia instansi, rahasia jabatan masih sering secara sepihakdilontarkan pejabat publik untuk menghambat akses masyarakat atas informasi pemerintahan.Tanpa jaminan hak publik atas informasi, transparansi dan akuntabilitas jelas hanya menjadislogan semata. Tanpa keterbukaan informasi, good governance hanya menjadi jargon tanpaesensi.Rahasia Negara bukan hanya problem dalam konteks news
gathering,
namun jugaancaman nyata bagi profesional media. Gerakan reformasi belum berhasil merevisi 10 pasalpembocoran rahasia negara dengan sanksi pidana yang berat dalam KUHP. Maka samakondisinya dengan era Orde Baru, pasal-pasal tersebut dapat menyeret wartawan masuk buikarena menyebarkan informasi yang memojokkan pemerintah atau pejabat tertentu, meskipuntidak benar-benar merugikan kepentingan perfahanan dan keamanan nasional.Dengan mempertimbangkan fakta-fakta ini, semestinya komunitas pers memperhatikanbenar proses legislasi UU Rahasia Negara. Jika tak ada tekanan publik yang berarti, pada bulanAgustus nanti mungkin DPR sudah akan memparipurnakan UU Rahasia Negara. Pemerintahsangat berambisi menyelesaikan pembahasan RUU ini sebelum pergantian pemerintahan.Sementara DPR bersikap fleksibel terhadap keinginan pemerintah itu meskipun konsentrasi DPRsebenarnya sedemikian rupa terfokus pada proses pemilu. Di saat energi dan perhatian publik,pers dan unsur-unsur politik hampir sepenuhnya terpusat pada penyelenggaraan pemilu, di DPRsedang berlangsung percepatan pembahasan RUU Rahasia Negara yang sangat riskanterhadap agenda-agenda reformasi.Persoalan utama, RUU Rahasia Negara tidak dimaksudkan untuk menerfibkan danmereduksi klaim rahasia negara yang semena-mena dan bermuatan kebohongan publik sepertidi atas. Sebaliknya, RUU Rahasia Negara justru berpotensi untuk melegitimasi klaim-klaimrahasia negara itu. Membaca pasal 6 RUU Rahasia Negara, kita akan menemukan bahwaruang lingkup rahasia negara yang sangat luas, elastis, yang tidak hanya mengacu padarumusan UU Rahasia Negara, namun juga mengacu kepada ketentuan dalam undang-undangyang lain. Ruang lingkup rahasia negara tidak sebatas pada informasi strategis pertahanan,intelijen, persandingan negara, hubungan luar negeri, fungsi diplomatik dan ketahanan ekonominasional, namun sangat mungkin juga mencakup rahasia instansi, rahasia birokrasi, rahasia jabatan dan seterusnya sebagaimana diatur undang-undang yang lain. Otoritas untukmenetapkan rahasia negara juga tidak cukup jelas, sehingga bisa jadi setiap lembaga
Add a Comment