• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
PENDAHULUANHadirin yang saya hormati,Pada hari yang berbahagia dan bersejarah ini perkenankanlah saya menyampaikan pidato pengukuhan guru besar ini dengan judul ”Agama Sebagai Salah Satu Modalitas Terapi dalamPsikiatri” Judul ini dipilih antara lain karena potensi religiusitas masyarakat Indonesia yangcukup tinggi, sebagaimana tersurat dalam Pembukaan Undang Undang Dasar Republik Indonesia 1945 yang secara tegas menyebutkan bahwa negara kita berdasarkan KetuhananYang Maha Esa. Namun, dalam praktik pemanfaatan agama sebagai modalitas terapi secaraformal belum dimanfaaatkan dengan optimal. Selama ini pemanfaatan agama sebagaimodalitas terapi dalam dunia kedokteran atau di lingkungan Rumah Sakit hanya dilakukanoleh petugas nonmedis yang pada umumnya tidak dibekali pemahaman tentang kedokterandan keterampilan sebagai terapi. Bahkan sebagian masyarakat masih memandang dengansebelah mata atau bahkan memandang negatif peran agama ter¬hadap kesehatan jiwa. Halinilah yang diperkirakan menimbulkan kontroversi tentang peran agama terhadap kesehatan jiwa. Oleh karena itulah saya merasa perlu mengungkapkan masalah ini di hadapan sidangyang terhormat, agar keberadaan agama pada masyarakat kita dapat dimanfaatkan sebagaisalah satu modalitas terapi psikiatri secara optimal.SEJARAH PERKEMBANGAN TERAPI PSIKIATRIHadirin yang terhormat,Pemahaman manusia tentang sebab-sebab terjadinya gang¬guan jiwa dari waktu ke waktuterus berkembang. Oleh karena itu, upaya penyembuhannya pun akan mengikuti perkembangan etiolo¬gnya. Pada abad ke-15 gangguan jiwa masuk dalam erademono¬logis yang menganggap gangguan jiwa adalah akibat guna-guna atau gangguansetan/roh jahat. Pada masa itu upaya penyembuhan dilakukan dengan mengusahakan agar setan-setan yang meng¬ganggu manusia meninggalkan tubuh pasien, antara lain dengandibacakan mantera, mengeluarkan darah dari tubuh pasien bahkan melubangi batok kepala(Colp R, 2001; Maramis, 1994).Sampai dengan pertengahan abad 20 persepsi para tokoh atau ahli kesehatan pada umumnyamemandang agama sebagai sisi negatif terhadap kesehatan jiwa. Maklumlah para pakar kesehatan jiwa pada waktu itu sebagian besar beraliran atheis, seperti Sigmund Freud, AlbertEllis dll. Pandangan mereka terhadap agama tercermin dalam beberapa pernyataan merekaantara lain menurut Sigmund Freud: ”A religious man is: an infantile helplessness, aregression to primary narcissism, a borderline psychosis, a primitive infantile state dan auniversal obsessional neurotic. Sementara itu, menurut Albert Ellis, pemikiran orang beragama dianggap sebagai: irrational thinking and emotional disturbance (Larson, 2000).
 
Pada pertengahan abad ke-20 perkembangan bergeser kepada era fisikalistik, yangmenganggap bahwa semua sebab penyakit adalah akibat dari ketidakseimbangan fisik- biologik, dan para¬meter kesakitan sudah barang tentu disandarkan pada parameter somatik dari pasien (Notosoedirdjo, 1999). Dengan demikian, upaya penyem¬¬buhan gangguan jiwadifokuskan dengan cara fisik-biologik pula. Pada fase ini perkembangan psikofarmakologimaju pesat sampai saat ini, di samping terapi kejang listrik (ECT). Namun demikian, perkembangan pesat di bidang psikofarmakologik dan terapi fisik lainnya tidak dapatmenyembuhkan semua diagnosis gangguan jiwa. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk meningkatkan hasil terapi gangguan jiwa terus dilakukan penyempurnaannya.Mengingat bahwa hanya dengan mengandalkan aspek fisik-biologik saja banyak fenomena psikiatrik yang tidak dapat dijelas¬kan, maka Karen Horney mengajukan konsep holistik,yaitu terapi yang menyeluruh dalam penyembuhan gangguan jiwa. Jadi, selain memberikanterapi fisik-biologik, juga diberikan terapi psikologik dan terapi sosial. Pada era ini berkembang berbagai jenis psikoterapi, seperti psikoanalisis oleh Sigmund Freud, Existensialhumanistik oleh Abraham Maslow, Client Centered oleh Carl Rogers, Terapi Gestalt olehFritz Perls, Analisis Transaksional oleh Eric Berne, Terapi Tingkah laku oleh Wolpe dan BFSkinner, Terapi Rasional Emotif oleh Albert Ellis, serta Terapi Realitas oleh WilliamsGlaser.(Corey, 1999., Maramis, 1994). Dengan kemajuan teknologi kedokteran saat initernyata masih belum mampu diselesaikan berbagai masalah kesehatan jiwa baik ditinjau darifaktor etiologi maupun faktor terapinya.Oleh karena itu, upaya untuk menyempur¬nakan penyelesaian masalah gangguan jiwa terusdilakukan, sehingga pada awal tahun 1980-an peran budaya, spiritual dan keagamaan mulaimendapat perhatian. Sejak tahun 1994 secara resmi WHO memasukkan aspek spiritualsebagai salah satu kom¬ponen dalam upaya memperoleh sehat jiwa, dan sejak itu konsepholistik dilengkapi menjadi: bio-psiko-sosio-spiritual (Hawari, 2005).Trujillo (2001) dan Kiresuk (2001) ketika membahas Cultural Psychiatry dalamComprehensive Textbook of Psychiatry menyatakan bahwa faktor spiritualitas yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa meliputi pelbagai aspek, termasuk di dalam¬nya adalahaspek keagamaan. Juga dikatakan bahwa modalitas agama dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keefektifan terapi personal nonspesifik terhadap pasien dengan gangguan jiwa.Mengingat bahwa peran agama dalam peningkatan kesehatan jiwa merupakan hal yangrelatif baru, maka dalam kesempatan ini penulis akan menyajikan beberapa pendapat sertahasil penelitian yang menunjukkan korelasi antara pemahaman keagamaan, ke¬patuh¬anterhadap prinsip keagamaan, serta rutinitas pelaksanakan aktivitas peribadatan dengankesehatan jiwa.
 
MAKNA AGAMA BAGI MANUSIAHadirin yang saya hormati,Orang yang mengaku beragama dan konsekuen terhadap pengakuannya memiliki keterikatan pikiran dan emosi dengan keyakinan atau agama beserta aturan-aturan/syariat yang ada didalamnya. Terdapat tiga ranah utama yang dapat diamati pada orang beragama menurut pandangan Islam, yaitu: Iman, Islam, dan Pengamalan agama yang benar dalam kehidupansehari-hari atau Ikhsan (Hawari, 2002). Sementara itu, Lubis (2002) menjelaskan bahwaorang yang beriman akan cenderung berperilaku lebih baik karena apa yang mereka kerjakandidasari oleh kerelaan, mem¬punyai makna demi kemuliaan Tuhan. Selanjutnya, Lubismenyata¬kan bahwa agama mempunyai makna yang penting bagi manusia karena imandapat berfungsi sebagai penghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin pada saatmenghadapi kesulitan, pemicu semangat dan harapan berkat doa yang dipanjatkan, pem¬berisarana aman karena merasa selalu berada dalam lindungan-Nya, penghalau rasa takut karenamerasa selalu dalam pengawasan-Nya, tegar dalam menghadapi masalah karena selalu ada petunjuk melalui firman-firman-Nya, menjaga kemuliaan moral dan ber¬perilaku baiterhadap lingkungan sebagaimana dicontohkan para rasul-NyaPERAN AGAMA TERHADAP KONDISI PSIKOLOGIK Hadirin yang saya hormati,Unsur utama dalam beragama adalah iman atau percaya kepada keberadaan Tuhan dengansifat-sifatnya, antara lain: Maha Pemurah, Maha Pengasih, Maha Penyayang, MahaPengampun, Maha Pemberi, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Kuasa, Maha Besar,Maha Suci, serta nilai-nilai lebih/Maha yang lainnya. Oleh karena itu, orang yang merasadirinya dekat dengan Tuhan, diharapkan akan timbul rasa tenang dan aman, yang merupakansalah satu ciri sehat mental.Terkait dengan manfaat kesehatan mental dari religiusitas, Abernethy (2000) mengusulkanada beberapa mekanisme keagama¬an untuk mempengaruhi kesehatan antara lain: 1.mengatur pola hidup individu dengan kebiasaan hidup sehat, 2. memperbaiki per¬sepsi kearah positif, 3. memiliki cara penyelesaian masalah yang spesifik, 4. mengembangkan emosi positif, 5. mendorong kepada kondisi yang lebih sehat. Menurut Culliford (2002), orangdengan komitmen agama yang tinggi akan meningkatkan kualitas ke¬tahanan mentalnyakarena memiliki self control, self esteem & confidence yang tinggi. Juga mereka mampumemper¬cepat penyem¬buhan ketika sakit karena mereka mampu mening¬katkan potensidiri serta mampu bersikap tabah dan ikhlas dalam menghadapi musibah.Dervic (2003) mendapatkan bukti dalam penelitiannya, bahwa mereka yang memiliki skor religiusitas tinggi ternyata menunjukkan rasa tanggung jawab yang tinggi, dan sebaliknyaskor agresivitas dan impulsivitasnya rendah.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...