seperti memegang bara api. Dan in sya-allah, dalam kondisi yang rusak dan bejatseperti ini, mereka yang tetap taat akan mendapat pahala yang berlipat ganda.Bahkan dengan pahala lima puluh kali lipat daripada pahala para shahabat. SabdaNabi SAW :
―Islam bermul
a dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yangasing. Maka beruntunglah orang-
orang yang terasing itu.‖ (HR. Muslim no. 145)―Sesungguhnya di belakang kalian ada hari
-hari yang memerlukan kesabaran.Kesabaran pada masa-masa itu bagaikan memegang bara api. Bagi orang yangmengerjakan suatu amalan pada saat itu akan mendapatkan pahala lima puluh
orang yang mengerjakan semisal amalan itu. Ada yang berkata,‘Hai Rasululah,apakah itu pahala lima puluh di antara mereka ?‖ Rasululah SAW
menjawab,
‖Bahkan lima puluh orang di antara kalian (para shahabat).‖ (HR. Abu
Dawud, dengan sanad hasan)
2. Aurat dan Busana Muslimah
Ada 3 (tiga) masalah yang sering dicampuradukkan yang sebenarnya merupakanmasalah-masalah yang berbeda-beda.Pertama, masalah batasan aurat bagi wanita.dua, busana muslimah dalam kehidupan khusus (al hayah al khashshash), yaitutempat-tempat di mana wanita hidup bersama mahram atau sesama wanita, sepertirumah-rumah pribadi, atau tempat kost.Ketiga, busana muslimah dalam kehid
upan umum (al hayah ‗ammah), yaitu tempat
-tempat di mana wanita berinteraksi dengan anggota masyarakat lain secara umum,seperti di jalan-jalan, sekolah, pasar, kampus, dan sebagainya. Busana wanitamuslimah dalam kehidupan umum ini terdiri dari jilbab dan khimar.
a. Batasan Aurat Wanita
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapaktangannya. Lehernya adalah aurat, rambutnya juga aurat bagi orang yang bukanmahram, meskipun cuma selembar. Seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapaktangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah SWT :'Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampakdari padanya.' (QS An Nuur : 31)
Yang dimaksud ―wa laa yubdiina ziinatahunna‖ (janganlah m
ereka menampakkan
perhiasannya), adalah ―wa laa yubdiina mahalla ziinatahinna‖ (janganlah mereka
menampakkan tempat-tempat (anggota tubuh) yang di situ dikenakan perhiasan).(Lihat Abu Bakar Al-Jashshash, Ahkamul Qur`an, Juz III hal. 316).
Selanjutnya, ―illa maa zhahara minha‖ (kecuali yang (biasa) nampak dari padanya).
Jadi ada anggota tubuh yang boleh ditampakkan. Anggota tubuh tersebut, adalah
Leave a Comment