Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
25Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam

Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam

Ratings: (0)|Views: 6,135|Likes:
Published by faaqihgroup

More info:

Published by: faaqihgroup on Jul 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/30/2012

pdf

text

original

 
 Hukum Menyanyi Dan Musik Dalam Fiqih Islam
Soal:
 
Ustadz yang terhormat, saya mau nanya bagaimana hukumnya menanyi dan musik dalam pandangan Islam? Karena ada sebagian ulama yang mengharamkan, tapi ada sebagian ulama yang membolehkan. Mohon penjelasannya 
.
Jawab: 1. Pendahuluan
 Keprihatinan yang dalam akan kita rasakan, kalau kita melihat ulah generasi muda Islam saat ini yangcenderung liar dalam bermain musik atau bernyanyi. Mungkin mereka berkiblat kepada penyanyi ataukelompok musik terkenal yang umumnya memang bermental bejat dan bobrok serta tidak berpegangdengan nilai-nilai Islam. Atau mungkin juga, mereka cukup sulit atau jarang mendapatkan teladanpermainan musik dan nyanyian yang Islami di tengah suasana hedonistik yang mendominasikehidupan saat ini. Walhasil, generasi muda Islam akhirnya cenderung membebek kepada parapemusik atau penyanyi sekuler yang sering mereka saksikan atau dengar di TV, radio, kaset, VCD,dan berbagai media lainnya.Tak dapat diingkari, kondisi memprihatinkan tersebut tercipta karena sistem kehidupan kita telahmenganut paham sekularisme yang sangat bertentangan dengan Islam.
Muhammad Quthb
 mengatakan sekularisme adalah
iqamatul hayati ‘ala ghayri asasin minad dîn
, artinya, mengaturkehidupan dengan tidak berasaskan agama (Islam). Atau dalam bahasa yang lebih tajam, sekularismemenurut
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
adalah memisahkan agama dari segala urusan kehidupan(
fashl ad- 
din ‘an al 
-hayah 
) (
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani
,
Nizhâm Al-Islâm 
, hal. 25). Dengandemikian, sekularisme sebenarnya tidak sekedar terwujud dalam pemisahan agama dari dunia politik,tetapi juga nampak dalam pemisahan agama dari urusan seni budaya, termasuk seni musik dan senivokal (nyanyian).Kondisi ini harus segera diakhiri dengan jalan mendobrak dan merobohkan sistem kehidupan sekuleryang ada, lalu di atas reruntuhannya kita bangun sistem kehidupan Islam, yaitu sebuah sistemkehidupan yang berasaskan semata pada Aqidah Islamiyah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Sawdan para shahabatnya. Inilah solusi fundamental dan radikal terhadap kondisi kehidupan yang sangatrusak dan buruk sekarang ini, sebagai akibat penerapan paham sekulerisme yang kufur. Namundemikian, di tengah perjuangan kita mewujudkan kembali masyarakat Islami tersebut, bukan berartikita saat ini tidak berbuat apa-apa dan hanya berpangku tangan menunggu perubahan. Tidakdemikian. Kita tetap wajib melakukan Islamisasi pada hal-hal yang dapat kita jangkau dan dapat kitalakukan, seperti halnya bermain musik dan bernyanyi sesuai ketentuan Islam dalam ruang lingkupkampus kita atau lingkungan kita.Tulisan ini bertujuan menjelaskan secara ringkas hukum musik dan menyanyi dalam pandangan fiqihIslam. Diharapkan, norma-norma Islami yang disampaikan dalam makalah ini tidak hanya menjadibahan perdebatan akademis atau menjadi wacana semata, tetapi juga menjadi acuan dasar untukmerumuskan bagaimana bermusik dan bernyanyi dalam perspektif Islam. Selain itu, tentu sajaperumusan tersebut diharapkan akan bermuara pada pengamalan konkret di lapangan, berupaperilaku Islami yang nyata dalam aktivitas bermain musik atau melantunkan lagu. Minimal di kampus
faaqihgroup.wordpress.com
ebook gratis
 – 
animasi gratis
 – 
mp3 arabic gratis
 – 
software gratis
 – 
islam video gratis
 – 
islam galeri gratis
 – 
edukasi games gratis
 – 
tips/tutorial computer gratis
 – 
3D wallpaper gratis
 – 
info bisnis online
 
atau lingkungan kita.
2. Definisi Seni
 Karena bernyanyi dan bermain musik adalah bagian dari seni, maka kita akan meninjau lebih dahuludefinisi seni, sebagai proses pendahuluan untuk memahami fakta (
fahmul waqi’ 
) yang menjadi objekpenerapan hukum. Dalam
Ensiklopedi Indonesia 
disebutkan bahwa
seni 
adalah penjelmaan rasaindah yang terkandung dalam jiwa manusia, yang dilahirkan dengan perantaraan alat komunikasi kedalam bentuk yang dapat ditangkap oleh indera pendengar (seni suara), indera pendengar (seni lukis),atau dilahirkan dengan perantaraan gerak (seni tari, drama) (
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
,
Seni Dalam Pandangan Islam 
, hal. 13).Adapun seni musik (
instrumental art 
) adalah seni yang berhubungan dengan alat-alat musik dan iramayang keluar dari alat-alat musik tersebut. Seni musik membahas antara lain cara memainkan instrumenmusik, cara membuat not, dan studi bermacam-macam aliran musik. Seni musik ini bentuknya dapatberdiri sendiri sebagai seni instrumentalia (tanpa vokal) dan dapat juga disatukan dengan seni vokal.Seni instrumentalia, seperti telah dijelaskan di muka, adalah seni yang diperdengarkan melalui mediaalat-alat musik. Sedang seni vokal, adalah seni yang diungkapkan dengan cara melagukan syairmelalui perantaraan oral (suara saja) tanpa iringan instrumen musik. Seni vokal tersebut dapatdigabungkan dengan alat-alat musik tunggal (gitar, biola, piano, dan lain-lain) atau dengan alat-alatmusik majemuk seperti band, orkes simfoni, karawitan, dan sebagainya (
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
,
Seni Dalam Pandangan Islam 
, hal. 13-14). Inilah sekilas penjelasan fakta seni musik danseni vokal yang menjadi topik pembahasan.
3. Tinjauan Fiqih Islam
 Dalam pembahasan hukum musik dan menyanyi ini, penulis melakukan pemilahan hukum berdasarkanvariasi dan kompleksitas fakta yang ada dalam aktivitas bermusik dan menyanyi. Menurut penulis,terlalu sederhana jika hukumnya hanya digolongkan menjadi dua, yaitu hukum memainkan musik danhukum menyanyi. Sebab fakta yang ada, lebih beranekaragam dari dua aktivitas tersebut. Maka dariitu, paling tidak, ada 4 (empat) hukum fiqih yang berkaitan dengan aktivitas bermain musik danmenyanyi, yaitu:
Pertama 
, hukum melantunkan nyanyian (
ghina’ 
).
Kedua 
, hukum mendengarkan nyanyian.
Ketiga 
, hukum memainkan alat musik.
Keempat 
, hukum mendengarkan musik.Di samping pembahasan ini, akan disajikan juga tinjauan fiqih Islam berupa kaidah-kaidah ataupatokan-patokan umum, agar aktivitas bermain musik dan bernyanyi tidak tercampur dengankemaksiatan atau keharaman.Ada baiknya penulis sampaikan, bahwa hukum menyanyi dan bermain musik bukan hukum yangdisepakati oleh para fuqaha, melainkan hukum yang termasuk dalam masalah
khilafiyah 
. Jadi paraulama mempunyai pendapat berbeda-beda dalam masalah ini (
Syaikh Abdurrahman al-Jaziri
,
Kitab al- 
Fiqh ‘Ala al 
-Madzahib al- 
 Arba’ah
, hal. 41-42;
Syaikh Muhammad asy-Syuwaiki
,
Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas 
, hal. 96;
Dr. Abdurrahman al-Baghdadi
,
Seni Dalam Pandangan Islam 
, hal. 21-25;
Toha Yahya Omar
,
Hukum Seni Musik, Seni Suara, Dan Seni Tari Dalam Islam 
, hal. 3). Karena itu,
 
boleh jadi pendirian penulis dalam tulisan ini akan berbeda dengan pendapat sebagian fuqaha atauulama lainnya. Pendapat-pendapat Islami seputar musik dan menyanyi yang berbeda denganpendapat penulis, tetap penulis hormati.
3.1. Hukum Melantunkan Nyanyian (
al- 
Ghina’ 
/
at-Taghanni 
)
 Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum menyanyi (
al- 
ghina’ 
at-taghanni 
). Sebagianmengharamkan nyanyian dan sebagian lainnya menghalalkan. Masing-masing mempunyai dalilnyasendiri-sendiri. Berikut sebagian dalil masing-masing, seperti diuraikan oleh
al-Ustadz Muhammad al-Marzuq Bin
Abdul Mu’min al
-Fallaty
mengemukakan dalam kitabnya
Saiful Qathi’i lin
Niza’ 
bab
Fi Bayani Tahrimi al- 
Ghina’ wa Tahrim Istima’ Lahu 
Dr.Abdurrahman al-Baghdadi
dalam bukunya
Seni dalam Pandangan Islam 
(hal. 27-38), dan
SyaikhMuhammad asy-Syuwaiki
dalam
Al-Khalash wa Ikhtilaf an-Nas 
(hal. 97-101):
A. Dalil-Dalil Yang Mengharamkan Nyanyian:
 
a.
Berdasarkan firman Allah:
Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits)untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu ejekan.Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan.
‖ (
Qs. Luqmân [31]: 6
)Beberapa ulama menafsirkan maksud
lahwal hadits 
ini sebagai nyanyian, musik atau lagu, diantaranya
al-Hasan
,
al-Qurthubi
,
Ibnu Abbas
dan
Ibnu Mas’ud
.Ayat-ayat lain yang dijadikan dalil pengharaman nyanyian adalah
Qs. an-Najm [53]: 59-61
; dan
Qs. al-
Isrâ’ [17]
: 64
(
Abi Bakar Jabir al-Jazairi
,
Haramkah Musik Dan Lagu? (al- 
I’lam bi Anna al 
‘Azif wa
al-Ghina Haram) 
, hal. 20-22).
b.
Hadits Abu Malik Al-
Asy‘ari ra bahwa Rasulullah Saw bersabda:
 
Sesungguhnya akan ada di kalangan umatku golongan yang menghalalkan zina, sutera, arak, dan alat-alat musik ( 
al- 
ma’azif 
 ).
‖ [
HR. Bukhari
,
Shahih Bukhari 
, hadits no. 5590].
c.
Hadits Aisyah ra Rasulullah Saw bersabda:
Sesungguhnya Allah mengharamkan nyanyian-nyanyian ( 
qoynah 
 ) dan menjualbelikannya,mempelajarinya atau mendengar-kannya.
‖ Kemudian beliau membacakan ayat di atas. [
HR. Ibnu AbiDunya
dan
Ibnu Mardawaih
].
d.
 
Hadits dari Ibnu Mas‘ud ra, Rasulullah Saw bersabda:
 
Nyanyian itu bisa menimbulkan nifaq, seperti air menumbuhkan kembang.
‖ [
HR. Ibnu Abi Dunya
dan
al-Baihaqi
, hadits mauquf].
e.
Hadits dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda:
Orang yang bernyanyi, maka Allah SWT mengutus padanya dua syaitan yang menunggangi dua pundaknya dan memukul-mukul tumitnya pada dada si penyanyi sampai dia berhenti.
‖ [
HR. Ibnu AbidDunya.
].
f.
Hadits yang diriwayatkan oleh
Ibnu ‘Auf ra
bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Herman Maulana liked this
rezquef liked this
Erlin Marie liked this
Komaru Zaman liked this
Lia Ya Lia liked this
abdee68 liked this
Fauzi Mat Sari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->