3
dalam kenyataan
—
dan
Kedua
, metodologi yang menjelaskan bagaimana pemikiran/konsepitu diterapkan secara praktis. Tinjauan ideologi sebagai kesatuan fikrah-thariqah inidimaksudkan untuk menerangkan bahwa thariqah adalah suatu keharusan agar fikrah dapatterwujud. Di samping itu, juga untuk menerangkan bahwa fikrah dan thariqah suatu ideologiadalah unik. Artinya, setiap ada fikrah dalam sebuah ideologi, pasti ada thariqah yang khasuntuk menerapkan fikrah tersebut, yang berasal dari ideologi itu sendiri, bukan dari ideologiyang lain.Fikrah merupakan sekumpulan konsep/pemikiran yang terdiri dari aqidah dan solusiterhadap masalah manusia. Sedang thariqah
–
yang merupakan metodologi penerapanideologi secara operasional-praktis
—
terdiri dari penjelasan cara solusi masalah, carapenyebarluasan ideologi, dan cara pemeliharan aqidah. Jadi, ideologi ditinjau dari sisi iniadalah gabungan dari fikrah dan thariqah, sebagai satu kesatuan. (Taqiyyudin An Nabhani,1953,
Nizham Al Islam
, hlm. 22-23).Gb. 3. Ideologi Tersusun Dari Fikrah dan Thariqah
3. Pengertian Aqidah
Karena makalah ini meninjau ideologi dari segi asas, maka akan diperdalammengenai apa yang dimaksud dengan aqidah yang menjadi asas sebuah ideologi.Dalam kamus
Al Muhith
karya Al Fairuz Abadi, seperti dikutip Muhammad HusainAbdullah (1990) dalam
Dirasat fi Al Fikr Al Islami,
aqidah secara bahasa berasal dari fi‘il
madhi
„
aqada,
yang bermakna
syadda
(menguatkan atau mengikatkan). Maka dari itu, kata
„aqada
dapat digunakan untuk menunjukkan berbagai makna yang intinya mengandungmakna ikatan atau penguatan, misalnya
„aqdu al habl
(mengikatkan tali),
„aqdu al bai‟
(mengadakan
aqad (―ikatan‖) jual
-beli),
„aqd al „ahdi
(mengadakan aqad (―ikatan‖)
perjanjian) dan sebagainya (Muhammad Husain Abdullah, 1990).Masih secara bahasa, aqidah dapat pula bermakna
ma in‟aqada „alaihi al qalbu
,yaitu sesuatu yang hati itu terikat padanya (Muhammad Husain Abdullah, 1990). Adapunpengertian
in‟aqada
adalah
jazama bihi
(hati itu memastikannya) atau
shaddaqahu yaqiniyan
(hati itu membenarkannya secara yakin/pasti) (Taqiyuddin An Nabhani, 1994,
Syakhshiyyah Al Islamiyah
, Juz I, hlm. 191).Dengan demikian, menurut bahasa, apa yang disebut aqidah itu adalah segala sesuatupemikiran yang dibenarkan secara pasti oleh hati sedemikian rupa, sehingga hati itukemudian terikat kepadanya dan memberi pengaruh nyata pada manusia. (Taqiyuddin AnNabhani, 1994). Pemikiran yang demikian haruslah berupa pemikiran yang mendasar, ataupemikiran yang tercabang dari pemikiran mendasar. Pemikiran seperti inilah yangmempunyai pengaruh nyata pada seorang manusia. Misalnya pemikiran tentang adanya HariKiamat, surga, neraka, dan sebagainya. Pemikiran seperti ini mempunyai pengaruh nyata
NIZHAMAQIDAHCARA PEMELIHARAANSOLUSI MASALAHPENJELASAN CARA SOLUSICARA PENYEBARAN IDEOLOGITHARIQAHFIKRAH