Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
5Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Bugak Asyi)

Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Habib Bugak Asyi)

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 2,326 |Likes:

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jul 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

 
Serial Penelitian Dan Penerbitan
The Acheh Renaissance Movement
Hubungan Arab-Aceh Pasca Penyebaran IslamPeranan Keturunan ArabKhususnya Keturunan Nabi Muhammad SAWDi Kerajaan Aceh Darussalam Abad 18 Masehi
Sejarah Hidup Dan Perjuangan
Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi(Habib Bugak Aceh)
OlehAl-Ustadz Hilmy Bakar Alhasany Almascaty
 
A. Mukaddimah
Aceh adalah salah satu kawasan di wilayah dunia Islam yang senantiasamendapat perhatian sejak dahulu kala sebagai pusat pertemuan budaya dan peradabandunia. Letak strategis geografi Aceh telah menjadikanya sebagai wilayah lintasanperadaban dan budaya besar dunia yang dibuktikan dengan penemuan situs ataupunbarang peninggalan dari budaya purbakala, Hindu, Budha maupun Islam. Sementaramasyarakat Aceh adalah asimilasi dari masyarakat berperadaban tua, makanya Acehakronim dari Arab, Cina, Eropah dan Hindia, yang merupakan perwakilan etnisterbesar umat manusia. Bukti-bukti terbaru menunjukkan bahwa masyarakat Aceh telahberinteraksi dan berhubungan dengan dunia Arab, terutama Mesir sejak zaman Fir’aunkira-kira 2000 tahun sebelum Masehi. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannyabeberapa jenis bahan pengawet mummi Fir’aun Mesir, diantaranya
kafuuro
atau kapurbarus yang terdapat di sekitar Aceh. Bahkan tidak diragukan bahwa Barus yangdimaksud adalah di Lamuri wilayah Aceh Besar. Claudius Ptolemaeus, ahli ilmu bumiklasik dari Mesir menyebut nama ”
Barousai”
sebagai negeri yang terletak di pinggir jalan menuju Tiongkok.
1
Dengan adanya hubungan masyarakat Aceh sejak 2000 sebelum Masehi laludengan Mesir, maka tidak mengherankan ketika nabi Muhammad saw membawa Islampada awal abad ke 7 Masehi, langsung tersebar di kalangan para pedagang NusantaraAceh yang memang sudah berhubungan melalui rute perdagangan di antara pelabuhanYaman dan Hijaz Semenanjung Arabia. Dalam beberapa riwayat dari shahabat Nabidisebutkan sebuah bangsa dari sebelah timur yang bersama-sama berperang danmenyebarkan Islam. Penyebaran Islam secara langsung dilakukan para pedagangNusantara-Aceh dan dilanjutkan dengan pengiriman misi dakwah dan perdagangansejak zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Demikian pula halnya ketikaketurunan bani Umayyah, terutama sejak Yazid bin Muawiyah melakukanpembantaian terhadap keturunan Sayyidina Husein ra, maka perpindahan keturunanNabi saw dan ulama-ulama yang setia padanya semakin banyak ke Nusantara, terutamaAceh yang terletak paling Barat dan karena masyarakatnya sudah menerima danmemeluk ajaran Islam. Tidak diragukan bahwa Islamisasi Nusantara, termasukpenaklukan kerajaan terbesar Jawa-Hindu, Majapahit, dirancang dan digerakkan dariAceh silih berganti sejak awal abad VIII Masehi berpusat di Jeumpa, Pasai, Perlak danlainnya bibawah pimpinan sultan-sultan Islam yang merupakan mata rantai gerakanIslamisasi dunia yang menjadikan Makkah al-Mukarramah sebagai porosnya yangmendapat dukungan penuh para Khalifah Islam turun temurun.
2
1
N.J. Kroom,
 Zaman Hindu,
terjemahan Arief Effendi, Jakarta: Pembangunan, 1956, hlm. 10-12. D.G.E.Hall,
 A History of South East Asia,
London: Macmillan & Co. Ltd., 1960, hlm. 1-5. D.H. Burger dan Prajudi,
Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia,
Jakarta: Pradnya Paramita, 1960, hlm. 15. Ma Huan,
Ying-yai Sheng-lan,
terjemahan dan edisi J.V.G. Mills, Hakluyt Society, 1970, hlm. 120. W.P. Groeneveldt,
 Historical Notes on Indonesia & Malaya Compiled from Chinese Source,
Jakarta: Bharata, 1960, hlm. 209. B. Schrieke,
 IndonesianSociological Studies,
Part Two, The Hauge-Bandung: W. Van Hoeve Ltd, 1957, hlm. 17. M.A.P. Meilink-Roelofsz,
 Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and abaout 1630,
The Hague:Martinus Nijhoff, 1962, hlm. 354.
2
Rita Rose di Meglio, “Arab Trade with Indonesia and the Malay Peninsula from the 8
th
to the 16
th
Century”.
 Papers on Islamic History II, Islam and the Trade of Asia: A Colloquium,
edited by D.S. Ricard,
2
 
Kegemilangan peradaban masyarakat Aceh yang telah berkembang pesatsebelumnya telah memudahkan para pembawa Islam untuk memajukannya secaramaksimal. Hal ini mengantarkan masyarakat Aceh sebagai bagian dari pergerakaninternasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanyasebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dankeagungan Islam. Dalam
Bustanu’l Salatin
, Syekh Nuruddin telah menggambarkanbagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalanganpara sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulamayang datang ke Aceh harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untukmengajar. Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “SerambiMekkah”, sebagai satu-satunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermaknasebenarnya adalah karena Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam diNusantara. Tradisi dan peradaban Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkanpara ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulamaHijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya
(tawaquf)
ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahunpemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-Adhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untukmengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luasterhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harusmengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnyatak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkanfatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan perempuan menjadipemimpin negara.
3
 Pemikir Islam kontemporer Ismail R. Faruqi
4
menjuluki muslim nusantara,terutama pejuang Aceh sebagai
"One of the oldest and bloodiest struggle of the Muslims have waged against Christian-Colonialist aggression".
Salah satu rumpunbangsa yang paling tertua dan paling berdarah diantara bangsa Muslim dalammenentang agresi kaum Kristen-Kolonialis. Karena realitas sejarah membuktikanhampir 500 tahun lebih masyarakat Muslim Aceh dibawah kepemimpinan para Sultanberperang silih berganti melawan kaum Imprialis-Kolonialis ”kaphe” yang hendak
University of Pennsylvania Press 1970, hlm. 115 (catatan no.29). S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on AGeneral Theory of the Islamization”, dalam
 Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago,
Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969, hlm. 11.
 Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan,
Medan: Panitia Seminar, 1963, hlm. 87, 207. T.D. Situmorang dan A. Teeuw,
Sejarah Melayu,
Jakarta: BalaiPustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed).
 Kronika Pasai,
Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973,hlm. 100. Muhammad Yamin,
Gajah Mada,
Jakarta: Balai Pustaka, 1972, hlm. 60. Mohammad Said,
 AcehSepanjang Abad,
Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar,
 De Hikayat Atjeh,
(S-gravenhage: NV. De NederlansheBoek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Taufik Abdullah,
 Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia,
(Jakarta: LP3ES, 1996)
3
Husein Djajaningrat,
 Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu,
Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DIAceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt),
 Bustanus as-Salatin,
(Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992).Denys Lombard,
 Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636,
(terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992).C. Snouck Hurgronje,
 Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”,
BKI 65, (1991) hlm. 144. AzyumardiAzra,
 Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,
(Bandung: Mizan, 1995),hlm. 196. A. Hasymi,
59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu
(Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40.
4
Siddiq Fadhil,
 Rumpun Melayu Dalam Era Globalisasi,
Makalah Seminar Serantau, (Kuala Lumpur:PEPIAT: 1993). Lihat juga karya beliau,
Minda Melayu Baru,
(Kuala Lumpur: IKD,1994). Hilmy Bakar Almascaty,
Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21.
(Kuala Lumpur: Berita Publishing, 1994)
3

Activity (5)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
elkisab liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->