Kegemilangan peradaban masyarakat Aceh yang telah berkembang pesatsebelumnya telah memudahkan para pembawa Islam untuk memajukannya secaramaksimal. Hal ini mengantarkan masyarakat Aceh sebagai bagian dari pergerakaninternasional pembebasan umat manusia dari belenggu kegelapan yang membawanyasebagai masyarakat berperadaban tinggi berdasarkan nilai-nilai keuniversalan dankeagungan Islam. Dalam
Bustanu’l Salatin
, Syekh Nuruddin telah menggambarkanbagaimana tingginya pengetahuan dan pemikiran masyarakat Aceh, baik di kalanganpara sultan, pejabat negara sampai kepada masyarakat umum sehingga banyak ulamayang datang ke Aceh harus kembali belajar agar cukup pengetahuannya untukmengajar. Itulah sebabnya para pemuka Islam menjuluki Aceh sebagai “SerambiMekkah”, sebagai satu-satunya serambi Mekkah di dunia, yang tidak lain bermaknasebenarnya adalah karena Aceh telah menjadi pusat rujukan ajaran dan fatwa Islam diNusantara. Tradisi dan peradaban Islam di Aceh sudah berkembang pesat dan bahkanpara ulama dan cerdik pandainya memiliki kaliber yang sederajad dengan para ulamaHijaz dan semenanjung Arabia lainnya. Kasus ini dapat dilihat pada diamnya
(tawaquf)
ulama-ulama Hijaz di Mekkah atas kepemimpinan wanita selama lebih 50 tahunpemerintahan 4 orang Sultanah Aceh atas dukungan fatwa Mufti dan Qadhi Malik al-Adhil, Syekh Abdul Rauf al-Singkili (Maulana Syiah Kuala). Hal ini tidak lain untukmengormati ijtihad beliau yang didasarkan pada pengetahuan mendalam dan luasterhadap ajaran Islam. Setiap utusan Syarief Mekkah yang datang kepada beliau harusmengakui ketinggian ilmunya serta kesahihan ijtihad dan fatwanya sehingga hujjahnyatak terpatahkan. Namun setelah beliau wafat, maka Ketua Mufti Mekkah mengeluarkanfatwa yang memakzulkan (memberhentikan) Sultanah Kamalat Ziatuddinsyah pada1699 dengan hujjah bahwa syari’at Islam tidak membenarkan perempuan menjadipemimpin negara.
Pemikir Islam kontemporer Ismail R. Faruqi
menjuluki muslim nusantara,terutama pejuang Aceh sebagai
"One of the oldest and bloodiest struggle of the Muslims have waged against Christian-Colonialist aggression".
Salah satu rumpunbangsa yang paling tertua dan paling berdarah diantara bangsa Muslim dalammenentang agresi kaum Kristen-Kolonialis. Karena realitas sejarah membuktikanhampir 500 tahun lebih masyarakat Muslim Aceh dibawah kepemimpinan para Sultanberperang silih berganti melawan kaum Imprialis-Kolonialis ”kaphe” yang hendak
University of Pennsylvania Press 1970, hlm. 115 (catatan no.29). S.M.N. Al-Attas, “Prelimenary Statement on AGeneral Theory of the Islamization”, dalam
Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago,
Kuala Lumpur:Dewan Bahasa dan Pustaka, 1969, hlm. 11.
Risalah Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan,
Medan: Panitia Seminar, 1963, hlm. 87, 207. T.D. Situmorang dan A. Teeuw,
Sejarah Melayu,
Jakarta: BalaiPustaka, 1958, hlm. 65-66. T. Ibrahim Alfian (ed).
Kronika Pasai,
Yogjakarta: Gajah Mada University Press, 1973,hlm. 100. Muhammad Yamin,
Gajah Mada,
Jakarta: Balai Pustaka, 1972, hlm. 60. Mohammad Said,
AcehSepanjang Abad,
Medan: Waspada, 1981. Teuku Iskandar,
De Hikayat Atjeh,
(S-gravenhage: NV. De NederlansheBoek-en Steendrukkerij V. H.L. Smits, 1959). Taufik Abdullah,
Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia,
(Jakarta: LP3ES, 1996)
3
Husein Djajaningrat,
Kesultanan Aceh: Suatu Pembahasan Tentang Sejarah Kesultanan Aceh Berdasarkan Bahan-bahan Yang Terdapat Dalam Karya Melayu,
Teuku Hamid (terj.) (Banda Aceh: Depdikbud DIAceh. 1983). Siti Hawa Saleh (edt),
Bustanus as-Salatin,
(Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1992).Denys Lombard,
Kerajaan Aceh, Jaman Sultan Iskandar Muda 1607-1636,
(terj), (Jakarta: Balai Pustaka,1992).C. Snouck Hurgronje,
Een- Mekkaansh Gezantscap Naar Atjeh in 1683”,
BKI 65, (1991) hlm. 144. AzyumardiAzra,
Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,
(Bandung: Mizan, 1995),hlm. 196. A. Hasymi,
59 Aceh Merdeka Dibawah Pemerintah Ratu
(Jakarta: Bulan Bintang, 1997). Hlm. 32-40.
4
Siddiq Fadhil,
Rumpun Melayu Dalam Era Globalisasi,
Makalah Seminar Serantau, (Kuala Lumpur:PEPIAT: 1993). Lihat juga karya beliau,
Minda Melayu Baru,
(Kuala Lumpur: IKD,1994). Hilmy Bakar Almascaty,
Ummah Melayu Kuasa Baru Dunia Abad 21.
(Kuala Lumpur: Berita Publishing, 1994)
3
Leave a Comment
kenapa tidak bisa di save documentnya.... saya ingin membacanya dirumah