• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
 Naar de 'Republiek Indonesia' 
Menuju Republik Indonesia
Tan Malaka (1925)
Sumber:
Yayasan Massa, terbitan tahun 1987
Kontributor:
Diketik oleh Abdul, ejaan diedit oleh Ted Sprague (Juni 2007)
INTERUPSI
Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya.Kepada para pembaca !Mula-mula buku ini dikeluarkan penuh dengan kesalahan-kesalahan cetak. Di sana sini akanterdapat juga kata-kata atau kalimat-kalimat yang sangat asing kedengarannya bagi kupingseorang Belanda asli bagi kesalahan ini perlu saya kemukakan alasan-alasan sebagai berikut :1.Buku ini dicetak dan dikoreksi oleh kawan-kawan Tionghoa yang tidak pernahmendengar bahasa Belanda.2.Percetakan mereka mempunyai persediaan huruf Latin sangat sedikit.3.Dan yang terakhir, penulis ini dalam perantauannya selama tiga tahun akhir-akhir initidak pernah melihat bacaan atau surat kabar Harian Belanda dan Asia ini juga tidak  pernah menjumpai seorang manusia yang mengerti “bahasa dunia” ini, apalagi berbicara.Alasan-alasan ini dan kesulitan-kesulitan teknis yang kecil-kecil lainnya harus saya kemukakanuntuk mempengaruhi pikiran orang-orang penghasut yang lihat.Selanjutnya saya rasa tidak perlu menulis brosur yang agak besar karena brosur besar demikianitu akan dapat mengurasi nafsu pembaca dan minta pembaca rata-rata Indonesia pada waktusekarang ini.Sekarang dengan wajarnya setelah harapan saya dapat melangsungkan hidup yang ¾ hukuman penjara ini, “tiga perempat hidup penjara”, demi kesehatan saya, di negeri dimana sayamempunyai hak hidup sepenuhnya, telah ditolak oleh pemerintah, saya kira buat sementarawaktu semua harapan untuk kembali ke tanah air harus saya kesampingkan. Akan tetapi saya tak mau menganggur. Saya kira saya dapat mengabdi pada partai dan rakyat, jiwa saya dari sinidapat menghubungi golongan terpelajar (intelektuil) dari penduduk Indonesia dengan buku inisebagai alat.Dimana terdapat cukup fakta revolusioner, dan dimana sekarang menurut dugaan saya mulaitumbuh perhatian besar atas kemajuan perkembangan pergerakan revolusioner di antara orangintelektuil, maka pekerjaan seperti ini bagi saya hanya “pelepas lelah” belaka. Pekerjaandemikian itu tentu lebih baik dan sudah pada tempatnya jika di Tiongkok terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk mencetak. Pekerjaan semacam “pelepas lelah” ini sekali-sekali akan sayaguanakan dan pembaca-pembaca terhormat dalam waktu yang akan datang dapat menyediakandiri untuk mempelajari buku-buku yang agak banyak.
 
“Kegiatan” semacam ini sudah tentu tak akan dapat saya lakukan, jiwa Yang Mulia Gubenur Jenderal memerlukan diri saya agak dalam batas perikemanusiaan. Ini adalah kejadian dibalik kenyataan yang mula-mula tak dapat saya duga, karena kesehatan dan pengasingan. Adalah padatempatnya saya mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kawan-kawan Tionghoayang telah menolong saya dengan sebaik-baiknya.Sesungguhnya “ucapan terima kasih obyektif”, yaitu terima kasih yang “terpaksa” perlu jugadisampaikan kepada beliau Gubernur Jendral Dirk Fook yang mendorong keluarnya “buku kecil”ini sekalipun dorongan tidak langsung.Canton, April 1925Tan Malaka. 
Keterangan Pada Cetakan Kedua
Kami merasa khawatir, ketika kami mengirimkan buku yang dicetak di Canton kepada pemesan- pemesan Indonesia. Kami takut, bahwa buku yang nampaknya tak indah itu akan dapat melukairasa seni sastra intelektual-intelektual kita yang biasa membaca buku berbahasa Belanda.Tetapi itu adalah baik bagi kesadaran politik saudara-saudara kita yang lebih muda, agar merekatidak kecil hati menghadapi barang sesuatu yang hanya indah nampaknya saja. Permintaan- permintaan akan buku ini yang makin banyak jumlahnya yang dikirimkan kepada kami, memberi bukti nyata, kami telah dapat menawan hatinya. Inilah yang juga mendorong kami akandicetaknya lagi Menuju Republik Indonesia.Sekalipun pengawasan polisi sangat keras di negeri geisha-geisha nan cantik dan bunga-bungateratai nan indah ini, masih juga terdapat tempat di bawah tanah, tempat kami mencetak kembali buku kecil ini dalam bentuk yang agak menarik dengan kesalahan-kesalahan ejaan dan kata-katayang agak kurang. Itu disebabkan juga karena adanya pergerakan buruh revolusioner yangsedang berkembang.Dalam interupsi kami di atas telah kami kemukakan, bahwa kami mengeluh tentang kesusahan-kesusahan koreksi dan centakan. Sekalipun demikian halnya dalam cetakan ulangan ini kami kirakesukaran-kesukaran itu masih ada.Justru di sini pembaca-pembaca kita yang baru dapat memaklumi kesukaran-kesukaran yangkami alami dan kemajuan apa yang telah kami capai dalam mencetak dan koreksi. Dengan inikami juga mau membuktikan kepada pembaca-pembaca Indonesia kita, bahwa semua usahalawan-lawan kita untuk menindas “cita-cita” akan sia-sia belaka.Selanjutnya dengan rasa puas kita disini dapat memaklumi bahwa dalam menafsirkan keadaaninternational dan nasional dalam cetakan kedua ini tidak perlu mengadakan perubahan atautambahan. Hanya dalam cetakan ini kiranya kita perlu menambah bab baru untuk memberi penjelasan tentang ide permusyawaratan nasional (national assembly) dengan syarat-syarat danaksi-aksinya.Selanjutnya peru ditegaskan pendapat kita tentang mahasiswa-mahasiswa di negeri lain. Sebabmahasiswa-mahasiswa Tionghoa yang dulu pernah kita kemukakan lebih aktif daripadamahasiwa Indonesia sementara itu telah membuktikan kebenaran pendapat kita. Belum lewatsatu bulan, sesudah kami mengambil buku-buku kami dari percetakan, maka kurang lebih lima juta mahasiswa Tionghoa dengan serentak meninggalkan bangku-bangku sekolahnya danmempelopori pemberontakan, pemogokan dan demonstrasi yang diadakan oleh kaum petani dan buruh.
 
Mengenai keadaan nasional, “calon fasis Indonesia”, karena sikapnya yang memuakkan sehinggakita harus menahan perut, sementara itu lari tunggang langgang, lebih dulu daripada yang kitakirakan.Sekarang kita harus menahan perut karena kerendahan budi yang digunakan lawan-lawan kitadalam usaha membasmi gerakan rakyat revolusioner Indonesia sebagaimana halnya ketika jamanyang silam, orang-orang desa bersuka ria menyaksikan perampokan yang digantung dengan, iasekuat tenaga mencoba melepaskan lehernya dari tali gantungan. Seolah-olah Lodewijk III danTsar Nicolas II tak pernah hidup.Sekarang berulang.Tak dapat dibantah, bahwa perjuangan politik pada bulan-bulan yang akhir ini telah meruncing,kesadaran politik dan kegiatan revolusioner rakyat kita telah tumbuh diseluruh lapisan diIndonesia, sebagaimana belum pernah terjadi sebelumnya.Padi tumbuh tak berisik.Tokyo, Desember 1925Tan Malaka 
BAB ISITUASI DUNIA
Perang dunia tahun 1914-1918 dalam pengertian ekonomi telah membagi dunia dalam dua bagian :1.Negeri-negeri yang kalah, yaitu Jerman, Austria, Hongaria dan Turki. Juga Rusia, dimanakaum buruh telah memegang kekuasaan, dalam bidang ekonomi, tergolong pada negeri-negeri tiu.2.Negeri-negeri yang menang, yaitu : Perancis, Italia, Amerika Serikat dll. Negeri-negeri yang kalah perang tak lama sesudah perang sangat menderita, kekurangan bahan- bahan makanan, hasil-hasil pabrik-pabrik modal dan bahan mentah untuk industri-industri.Kecuali perjanjian Versailles telah mewajibkan Jerman membayar kepada negeri-negeri sekutusetiap tahun ratusan juta mark emas (pampasan perang). Negeri-negeri seperti Perancis, Inggris, Italia sekalipun tergolong pemenang perang, karena biaya yang kembali uang pinjamannya dengan bunga. Austria yang telah merosot menjadi negerisetengah jajahan dengan wajar terikat baik dibidang ekonomi dan karenanya sudah tentu tak mampu mengadakan tantangan. Jerman yang tak pernah dipercaya oleh negeri-negeri sekutusekarang diikat kuat-kuat. Jerman telah mendapatkan uang 800.000.000 mark meas denganmengorbankan kemerdekaan ekonomi, politik dan militernya. Juga Jerman sekarang menjadisetengah jajahan. Militerisme Jerman yang kalah, sekarang berada di bawah telapak kaki negeri-negeri sekutu. Negeri-negeri sekutu ini sekarang mengawasi persoalan militer Jerman. Besarnyadan mutu tentara sekarang ditentukan oleh negeri-negeri sekutu.Pengawasan ini lebih jauh meliputi anggaran belanja dan keuangan Jerman negeri-negeri sekutusecara langsung atau tidak langsung mempengaruhi pendapatan dan pengeluaran uang Jerman.Sudah tentu pendapatan yang diperolah dari pajak harus lebih besar daripada pengeluaran. Sisadari pendapatan sesudah dipotong pengeluaran harus diserahkan kepada negeri-negeri sekutu.Bank negara, sesudah bank yang berpengaruh di Jerman sebagai urat nadi penghidupan ekonomi
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...