1
HAMKA DAN FATWA NATAL 1981
1
Oleh : Afifi Fauzi Abbas
A. ISI FATWA :
1. Perayaan natal di Indonesia meskipun tujuannya merayakan danmenghormati nabi Isa a.s., akan tetapi natal itu tidak dapat dipisahkan dari soa-soal yang diterangkan di atas. (bahwa perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan ibadah -penulis)2. Mengikuti upacara natal bersama bagai umat Islam hukumnya haram.3. Agar ummat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan AllahSWT. dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan natal.
B. PENGANTAR1. Membicarakan masalah
kehidupan sosial keagamaan
di Indonesia memangtidak ada habis-habisnya, apalagi kita semua menyadari bahwa kita bangsaIndonesia hidup di tengah-tengan masyarakat yang plural/majemuk yangmeyakini berbagai agama, terdiri dari berbagai etnis, kultur dan budayayang beragam.2. Senyatanya kitapun melihat bahwa
praktek keagamaan
(termasuk umatIslam) di tengah-tengah masyarakat kita amatlah beragam, padahalkadangkala kitapun tahu bahwa apa yang dijadikan dasar/rujukan untukmenjustifikasi pandangan mereka merujuk pada hal yang sama.
2
3. Pluralisme
3
termasuk gagasan yang sedang aktual diperbincangkan. Parapakar dari berbagai disiplin ilmu dan para pemerhati berusahamenyumbanghkan pemikiran mengenai bagaimana menata kehidupanbangsa Indonesia yang plura;istis. Hal yang sama dilakukan pula olehsejumlah praktisi. Mereka menuturkan pengalamannya yang patut untukdicermati dalam membina kehidupan masyarakat secarav langsung.Tujuannya adalah untuk memelihara keharmonisan dan kesatuan bangsa.4. Pluralisme agama di kalangan masyarakat Indonesia telah menjadikesadaran sejak awal berdirinya negara kesatuan RI. Kesadaran itu telahmengantarkan lahirnya peraturan perundang-undangan yang menyangkutkebebasan bergama. Hal ini dijamin oleh UUD 1945 pasal 29 ayat (2),
1
Bberapa catatan ringan yang disampaikan pada diskusi panel tentang “HAMKA dan Fatwa NatalMUI 1981”, yang diadakan oleh Pusat Kajian Buya Hamka, Universitas Muhammadiyah Prof.DR.Hamka,Aula UHAMKA, Jl.Limau I, II Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Sabtu, 23 Desember 2006
2
Cermati
praktek bersalaman
muslim Betawi, Sunda, Jawa, Sumatra dll. Kalau ditanya pastilah hadisyang menerangkan “jika sesama muslim saling ketemu ucapkanlah salam “
(
ﺍﻮﺸﻓﺎﻓ ﻢﻠﺴﳌﺍ ﻰﻠﻋ ﻢﻠﺴﳌﺍ ﻢﺘﻴﻘﻟ ﺍﺫﺍﻡﻼﺴﻟﺍ
).
Itulah gambaran dimensi pengetahuan, sikap dan prilaku keberagamaanmasyarakat kita. Artinyaketika sudah masuk pada tataran keberagamaan seseorang maka persoalan ruang dan waktu akanmempengaruhinya, pemahamannya terhadap dalil yang digunakan juga akan mempengaruhinya, metode pendekatan atau cara pandangnya juga akan berbengaruh.
3
Pluralism
di dalam Kamus Bahasa Inggeris diartikan sebagai prinsip yang menganggap bahwa orang-orang dari beerbagai ras, agama, dan pandangan politik dapat hidup berdampingan secara damai dalammasyarakat yang sama. Lihat Paul Procter, ed. 1980 : 863)
Add a Comment