lebih dari setengah abad, Indonesia telah menam-pakkan jati dirinya di atas panggung sejarahdunia, dengan berdiri tegak di atas sistem Pancasila, dan bernaung di bawah sayap burunggaruda. Sepanjang kurun waktu tersebut, Indonesia telah mengalami tiga periode pemerintahan dan dua kali pergantian UUD. Pertama, Indonesia di bawah pemerintahan rezimSoekarno, yang dikenal dengan orde lama. Pada masa itu, diberlakukan UUD 1945, UUDS1950, dan akhirnya kembali lagi ke UUD 1945. Periode kedua, masa berkuasanya orde baru di bawah sistem militerisme pimpinan Jenderal Soeharto. Dan periode ketiga, adalah masa-masatransisi, yang disebut orde reformasi dengan presidennya, Prof. Dr. Ing. BJ. Habibi.Dalam rentang waktu setengah abad lebih Indonesia merdeka, dominasi nasionalis sekuler dalam percaturan politik nasional, bagaimanapun juga telah menjadi penyebab semakinterpinggir-kannya peran agama dalam pengelolaan negara. Jargon-jargon politik yang sengajadilansir oleh para politisi sekuler menunjukkan hal itu.Di dalam kerangka idiologi yang diletakkan kaum sekuler, tuduhan bahwa agama merupakan penyebab pokok instabilitas konstitusional, atau menganggap isu agama sebagai sektarian, primor-dial dan sebagainya, menjadi isu yang semakin hari makin melemahkan posisi agamadan kaum agamawan berhadapan dengan lembaga negara. Lalu mereka sampai kepadakesimpulan, supaya jangan membawa-bawa agama dalam urusan politik. Nyata bahwa kesemuanya ini merupakan skenario yang sudah dipersiapkan. Maka menjadi pemandangan yang wajar, keikutsertaan kalangan politisi dalam masalah keagamaan ditolerir,tapi bagi kalangan agamawan yang ikut-ikut terlibat dalam urusan politik dicemooh. Dalamkerangka ini pula, menjadi tidak aneh ketika baru-baru ini kita mendengar adanya sekelompok organisasi pemuda Islam (PMII) di Surabaya, melakukan demonstrasi menuntut pembubaranMUI yang mereka nilai, ikut-ikutan dalam politik praktis.Perdebatan-perdebatan idiologis di tingkat nasional, yang seringkali melibatkan petualang- petualang politik Islam, justru mengokohkan program sekularisme. Lontaran Amin Rais, padatahun 80-an, yang mengatakan, “Tidak ada Negara Islam dalam al-Qur’an”, adalah contohkonkrit. Sebuah artikel berjudul “Negara Islam hanya Mimpi” memberitakan pidato Menag.Munawir Sazali. Dalam kedudukannya sebagai menteri agama, Munawir Sazali berkata:”Sayatidak melihat perbe-daan antara Mitsaq Madinah -konstitusi pertama yang dibuat Nabi-dengan UUD 1945. Kesim-pulannya, negara kita ini sudah memenuhi syarat. Itu berarti, umatIslam Indonesia telah menerima Pancasila sebagai bentuk final dari perjuangan aspirasiumat”. 1Senada dengan pernyataan di atas, adalah fatwa mantan Rais ‘Am PBNU, KH. Ahmad Siddiq.“Hendaknya umat Islam di Indonesia menerima negara Pancasila sebagai bentuk final dari per-juangan aspirasi politik umat. Jangan negara Pancasila ini hanya dijadikan sasaran menujusasaran yang lain”, katanya.Buntut logis dari pernyataan di atas, munculnya klaim bahwa, Indonesia bukan negara agamadan bukan negara sekuler, seperti yang dinyatakan Soeharto pada peringatan Maulid Nabi diIstana negara, 24 November 1985.Jelas bahwa di Indonesia, sikap penguasa terhadap fenomena agama bersifat ambivalen. Disatu segi, agama dipandang sebagai tiang pokok untuk menciptakan manusia yang bertakwakepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi di segi lainnya, tak satu agama pun yang dianggapistimewa. Oleh karena itu, Indonesia tidak memiliki agama resmi negara, sekalipun penganutIslam menempati posisi mayoritas di negeri ini.Maka cukup mencengangkan ucapan Katib ‘Am PBNU, Said Agil Siradj ketika merespons
Leave a Comment