Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
25Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dakwah bil Hal: : Dr. Afifi

Dakwah bil Hal: : Dr. Afifi

Ratings: (0)|Views: 2,871 |Likes:
Published by Abdullah Arifianto
Lisanul hal afshahu min lisanil maqal
( Aksi aksi konkrit yang membawa perubahan ke arah perbaikan lebih baik dari pada nasehat semata )
Lisanul hal afshahu min lisanil maqal
( Aksi aksi konkrit yang membawa perubahan ke arah perbaikan lebih baik dari pada nasehat semata )

More info:

Published by: Abdullah Arifianto on Jul 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
 
DAKWAH BIL HAL
 
 Lisanul hal afshahu min lisanil maqal
 
( Aksi aksi konkrit yang membawa perubahan ke arah perbaikan lebih baik dari pada nasehat semata )
 
Oleh : Afifi Fauzi AbbasA. Pendahuluan
 Adanya mata kuliah Islam dan Komunikasi di FISIP UHAMKA membawaharapan baru bagi pengembangan wawasan baru tentang dakwah dan ataukomunikasi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, sehingga gerakandakwah di persyarikatan Muhammadiyah akan lebih menyentuh pada persoalanriil dari umat Islam.Dakwah bil hal, atau dakwah melalui gerakan aksi telah merupakan ciri khasdari persyarikatan Muhammadiyah sejak ia didirikan oleh KH Ahmad Dahlan.Ilustrasi yang tak pernah usang yang selalu disegar-segarkan di lingkunganpersyarikatan adalah, bagaimana KH Ahmad Dahlan sangat mementingkan aksikonkrit dalam gerakan dakwahnya. Hal tersebut terlihat dri apresiasi beliau yangbegitu tinggi untuk melakukan aksi ketika menafsirkan dan mengulas surat al-Ma’un, sehingga menjadi catatan emas dalam pendirian , Majlis PKU dalamMuhammadiyah.Semuanya itu dilakukan dalam gerakan dakwah Muhammadiyah dalamrangka pemberdayaan masyarakat – termasuk di dalamnya mendirikan RumahSakit, Sekolah dan seluruh bentuk amal usaha Muhammadiyah. Hanya saja kinipersoalannya adalah bagaimana upaya pemberdayaan itu difahami sebagaiwujud atau bentuk dari dakwah bil hal, maka akan dapat kita lihat sebagaiberikut ;
B. Definisi Pengembangan Masyarakat Islam
 Sidi Gazalba, mendifinisikan masyarakat Islam sebagai sekelompok manusiadimana mereka hidup dalam jaringan kebudayaan Islam
1
yang diamalkan olehkelompok itu sebagai kebudayaannya. Nanih Machendrawati dan Agus AhmadSafei, mengadopsi definisi dari sosiolog, Gillin & Gillin, mengatakan bahwamasyarakat Islam adalah kelompok manusia yang mempunyai tradisi, sikap danperasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan agama, yakni agama Islam.
2
 
 
Sebagai bahan kajian dalam perkuliahan Komunikasi Dalam Perspektif Islam di FISIPUHAMKA
1
Kebudayaan Islam menurut Sidi Gazalba ialah cara berpikir dan cara merasa taqwa, yangmenyatakan diri dalam seluruh ruang dalam suatu waktu
2
Nanih Machendrawti dan Agus Ahmad Safei,
Pengembangan Masyarakat Islam,
bandung PTRosdakarya, h.5
 
 
Salah satu ahli sosiologi yang banyak mendefinisikan konsep kelompokadalah Robert K. Merton. Merton (1965: 285) mendefinisikan kelompok dengansejumlah orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan.Merton (265 ; 285-286) menyebutkan tiga kriteria obyektif bagi suatu kelompok.
Pertama,
kelompok ditandai oleh seringnya terjadi interaksi
Kedua,
pihak yang berinteraksi mendefinisikan diri mereka sebagai anggota.
Ketiga,
pihak yang berinteraksi didefinikan oleh orang lain sebagai anggotakelompok.Berbeda dengan Merton tokoh sosiologi lainnya Znaniecki atau Parsons men-definisikan kelompok, yaitu sejumlah orang yang mempunyai solidaritas atasdasar nilai bersama yang dimiliki serta adanya rasa kewajiban moral untukmenjalankan peran yang diharapkan Kalau dilihat dari pengertian kelompoktersebut, maka pengertian kelompok dalam konsep Islam dapat dipadankandengan konsep jama'ah. Jamaah dalam konteks sosiologis masyarakat Indonesiadikaitkan dengan kelembagaan Islam. Misalnya, jamaah majelis taklim x , jamaahmesjid y.Apakah setiap kelompok itu masyarakat ? Marion Levi (lihat Inkeles, 1965)dalam Kamanto (2000) mengemukakan empat kriteria yang harus dipenuhi agarsuatu kelompok dapat disebut dengan masyarakat, yaitu :(1) kemampuan berta-han melebihi masa hidup seo-rang individu;(2) rekrutmen seluruh atau sebagian anggota melalui reproduksi(3) kesetiaan pada suatu “sistem tindakan utama bersama”,(4) adanya sistem tindakan utama yang bersifat "swasembada".Bila merujuk pada
difinisi
tersebut, maka tidak semua kelom-pok itu dikata-kan masyarakat. Dengan demikian, bila mengacu pada penjelasan tersebut, makatidak setiap jamaah majelis taklim atau masjid dapat dikatakan sebagai ''masya-rakat Islam'". Tidak setiap anggota jamaah adalah bagian atau anggota masyara-kat Islam.Pengertian masyarakat Islam dapat dipadankan dengan konsep ummat.Mengenai ummat Riaz Hassan dalam bukunya K
eragaman Iman
(2001 : 91)mengungkapkan bahwa istilah umat muncul
64 kali
dalam al-Qur'an. Akar kataini masih diperdebatkan. Banyak yang mengatakan bahwa kata ini berasal dari
'umm'
yang berarti ibu, atau dari kata kerja
"amma'
. Ada juga yang mengatakanistilah
'umma'
dengan kata
imam
' atau pemimpin. Sebagian lagi mengatakan bah-wa kata umat berasal dari bahasa Ibrani “
umma”
atau aramik (
umm tha).
Sebagianlagi merujuk pada
'perkumpulan suku-suku Arab
". Sebelum Islam datang, kata umatdipakai dalam syair Arab yang berarti
“komunitas agama
", namun hal ini jarangdigunakan. Dewasa ini umat menjadi symbol dan perwujudan gagasan ma-
 
 
syarakat Islam. Dengan demikian bila digambarkan maka konteks dan tingkatandalam masyarakat Islam sebagai berikut :Pada perkembangannya, pemakaian istilah masyarakat Islam ini menurutpenulis tidak hanya seperti yang diungkapkan Sidi Gozala, dan Abdulah Nasheef(1992:116).
3
Makna masyarakat Islam menjadi luas, tidak hanya untuk orang-orang yang kehidupannya berasaskan kebudayaan Islam. Tetapi juga mempunyaimakna secara umum yang luas. masyarakat Islam adalah orang - orang Islam(
muslim-muslimat atau muslimun-muslimaat).
Bahkan orang yang hanya ber-KTPIslam saja, juga dapat dikatakan anggota masyarakat Islam. Makna masyarakattidak hanya bermakna masyarakat yang islami, tetapi juga meliputi masyarakatyang beragama Islam. Konsep masyarakat Islam sendiri belum ada yang membe-rikan definisi yang jelas. Muktamar Muhammadiyah ke-45 telah menjelaskantentang ciri masyarakat Islam, tetapi batasannya belum begitu jelas.
4
Apakah bilayang ada hanya sebagian ciri dapat dikatakan sudah masyarakat Islam atau be-lum tidak diungkapkan secara jelas. Oleh karena itu, menurut penulis makna"masyarakat islam" dikaitkan dengan "tujuan' dapat dijelaskan sebagai berikut:
Makna lama
Masyarakat beragama Islam = Masyarakat Islam atauMasyarakat beragama Islam Masyarakat islam atau islami(dibina agar menjadi)
Makna Sekarang 
 Masyarakat beragama Islam = Masyarakat IslamMasyarakat Islam Masyarakat Islami atauMasyarakat MadaniMerujuk pada pemaknaan tersebut, penulis mendefinisikan "masyarakatIslam menjadi dua, yaitu:
 pertama.
masyarakat Islam dalam arti sempit " sekelom-pok orang Islam yang tinggal (menetap) dan berinteraksi di lokal atau wilayahtertentu misalnya di desa, kelurahan, atau Rt/Rw atau sekelompok orang Islamyang tinggal (menetap) di sekitar mesjid atau majelis taklim tertentu berinteraksi
3
Menurut Abdulllah Nasheef dalam Nannih (2001) "
ummah 
" dipandang sebagai komunitas orang yang 
 
percaya kepada Tuhan yang menciptakan mereka, memelihara mereka. membahagiakan mcrcka, dan nieiiibcri
 
mcrcka tuntunan dim kebuluhan mereka. Singkatnya ummat adalah komunitas Islam yang harus hidup menurut
 
Islam. Hidupnya belum menurul islam tidak dikatakan ummat
.
 
4
 
Muktamar Muhammadiyah kc-45 telah menjelaskan tentang ciri masyarakat Islam yaitu : 1. Merupakan
 
 wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang mcmiliki corak tengahan
(ummatan 
 
wasatho)
yang berkemajuan. baik dalam wujud sistim nilai sosial-budaya. sistem sosial maupun lingkungan fisik 
 
yang dibangunnya; 2. Memiliki keseimbangan antara kehidupan
lahiriyyah 
dan
bathimyyah.
rasionalitas dan
 
spitualilas. aqidah dan muammaiah. individual dan sosial. duniwi dan ukhowi; 3. Mengamalkan nilai-nilai
 
kebajikan. seperti kcadilan. kcjujuran. kesejahteraan. kcrjasama. kerja keras. kedisiplinan dan keunggulan dalam
 
segala lapangan kehidupan; 4. Bersedia bekerjasama dan becrlomba-lomba dalam segala lapangan kehidupan;
 
mcmiliki kesaimaan karaktcr dengan masyarakat madani. yaitu masyarakal kewargaan
(civil society)
yang memiliki
 
keyakinan yang menjiwai nilai-nilai ilahiyah. demokratis. berkeadilan, otonom. berkemajuan dan berakhlak mulia
 
(al akhlaqul karimah): 
dan 6. Berperan sebagai
syhacla 'alan nas 
ditengah - tengah masyarakat.

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
D'iwir liked this
Indah Julaika liked this
Heni Muna liked this
Yuda Achdiyani liked this
Yousave Moslem liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->