merupakan kebutuhan primer bagi seluruh rakyat yang menjadi indikator kinerja pemerintahdalam penyelenggaraan negara dalam memenuhi standard kecukupan.Dari pertanyaan tersebut setiap manusia Indonesia dapat menilai secara kuantitatif dankualitatif terhadap ketersediaan bahan pokok, kepastian hukum, kebebasan beragama,kepastian memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan, sampai kepada jaminankeamanan dan ketertiban di dalam negeri. Sebagai ilustrasi, situasi yang sangatmemprihatinkan dapat dilihat dalam pemberitaan adanya kekurangan suplai bahan pangan danbahan bakar di daerah tertentu. Dengan berbagai dalih untuk menenangkan masyarakatdijelaskan oleh pihak pemerintah bahwa hambatan suplai bahan pokok lebih disebabkan olehhambatan teknis. Akan tetapi secara nyata dan mencolok mata terlihat bahwa prosespenyelenggaraan negara telah gagal dalam perencanaan dan pelaksanaan pengalokasiansumberdaya keuangan secara optimal dalam keadaan normal maupun mendesak. Dalam halini, kegagalan yang paling krusial adalah terbukti bahwa pemerintah tidak mampu mengkaji danmelengkapi program pembangunan dengan berbagai skenario sehingga mengakibatkankegagalan pemenuhan syarat kecukupan dalam penyelenggaraan negara.Kegagalan pemerintah dalam pembentukan skenario pembangunan yang mengakibatkanrendahnya pencapaian sasaran program pembangunan menjadi hal yang lumrah dan dapatdimaklumi oleh berbagai pihak, termasuk oleh aparat penyelenggara negara itu sendiri. Alasanklasik yang kemudian dimunculkan adalah keterbatasan keuangan negara, rendahnya
capacity building
pada masing-masing sektor, rendahnya infrastruktur, dan lain-lain yang tidak lebihhanya mengajak rakyat untuk menjadi lebih maklum terhadap situasi penyelenggaraan negara.Dalam hal ini, kegagalan pembentukan skenario pembangunan lebih mengarah kepada belumterstrukturnya program pembangunan ke dalam arsitektur program yang menggambarkanhirarki penjabaran tujuan program sampai kepada tujuan kegiatan pembangunan.Hal yang tidak masuk akal dalam pemikiran awam di dalam masyarakat adalahbagaimana mungkin suatu negara yang merupakan institusi yang memiliki organisasi danaturan main yang paling lengkap dari organisasi manapun yang berada di negara ini tidakmampu membentuk bank program dan kegiatan pembangunan yang secara historis dapatdipelajari kekurangan dan kelebihannya, sehingga dapat dijadikan sebagai masukan dalampembentukan arsitektur program pembangunan secara integral, holistik, danberkesinambungan. Luar biasa. Kalau tidak salah, ternyata selama ini rencana programpembangunan hanya berada dalam ingatan masing masing perencana dari setiap sektor danselalu dimunculkan dalam bentukan duplikasi yang telah dipoles sana-sini. Lumrah saja jikarencana pembangunan nasional secara sektoral tidak bersifat holistik, terintegrasi danbekesinambungan.
Rendahnya Tingkat Kepedulian Rakyat
Sampai di titik bahasan belum terbentuknya arsitektur program yang menggambarkanbelum terbentuknya pendekatan pembangunan secara holistik, integral, dan berkesinambunganmenunjukkan rendahnya tingkat kepedulian dari perencana pembangunan sebagaipenyelenggara negara. Mungkin tidak pernah terlintas dalam pemikiran bahwa pendekatanpembangunan secara integral, holistik, dan berkesinambungan merupakan karakterisitikinheren yang melekat dari hak rakyat untuk mendapatkan pencapaian hasil pembangunansetinggi-tingginya. Secara gamblang, apakah penyelenggara negara dapat memenuhikebutuhan rakyat untuk mendapatkan program pembangunan yang terintegrasi secara vertikaldan horizontal baik dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Selanjutnya, apakah
Private Doc. - Sitting in a dream – 6 januari 2009
2
Leave a Comment