Hingga tahun delapan-puluh-an, penelitian PMIPA,seperti juga penelitian di bidang pendidikan yang lain, sangatkental diwarnai oleh penelitian kuantitatif yang diadopsi dari penelitian psikologi. Pada akhir tahun 80-an, di beberapanegara mulai mencoba mengembang penelitian yang berpusat pada konsepsi siswa tentang berbagai kejadian atau fenomenaalam di sekitarnya yang dikenal dengan istilah penelitiantentang konsepsi alternatif. Kelompok ini menggunakan penelitian naturalistis yang dikembangkan oleh para antropologdan sosiolog. Penelitian ini sangat berwarna kualitatif.Belakangan, di awal tahun 90-an, sekelompok peneiliti bidang pendidikan MIPA mulai mengembangkan penelitian yangsering digunakan para aktivis LSM, yaitu penelitian yangmemberdayakan subjek yang diteliti-penelitian partisipatif.Penelitian ini dalam lingkungan pendidikan dikenal sebagai penelitian tindakan. Berikut disajikan tiga paradigma penelitian, yaitu: kuantitatif, kualitatif dan partisipatif.
1 Paradigma Penelitian Kuantitatif 1.1 Pandangan dasar
Penelitian kuantitatif dalam pendidikan diwarnai oleh paham positivisme yang berkembang di negara-negara barat.Pandangan kelompok ini didasarkan pada anggapan bahwa pengetahuan ‘positif’ mampu menyelesaikan segalanya.Mereka berpendapat bahwa hanya dengan pengukuran yangseksama dan dengan percobaan-percobaan yang cermat, sepertidalam ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan dapatditumbuh-kembangkan
Philip C. Candy (1989).
Sebenarnya banyak versi dari paham ini, tetapi adasejumlah sifat yang mirip. Di antaranya adalah: (1) komitmen pada sikap objektif dalam pencarian ‘kebenaran ilmiah’; (2)keyakinan bahwa teori bersifat universal; (3) generalisasi,semacam hukum atau teori, tidak terikat pada suatu konteks
Asumsi-asumsi paradigmakuantitatif
Leave a Comment