ristinikov@gmail.com
ABSTRAK
Konflik berdarah Sambas antara etnis Melayu dengan etnis Madura tahun 1999menimbulkan masalah berkepanjangan dan trauma mendalam bagi kedua belah pihak khususnya bagi etnis Madura. Seluruh etnis Madura baik pendatang baru maupun yangsudah puluhan tahun berbaur dengan warga lokal bahkan sebagian merasa sebagai wargaKalimantan mau tidak mau harus angkat kaki dari bumi Sambas. Seiring perjalanan waktu,semakin banyak pihak yang aktif dalam proses resolusi konflik di Sambas. Para pekerjaperdamaian lokal baik dari pihak Melayu maupun Madura merupakan pihak-pihak yangsangat serius dalam upaya perdamaian di Sambas. Namun, sayangnya pihak pemerintahbaik pusat maupun daerah terkesan setengah-setengah dan kurang serius dalam upayaperdamaian di Sambas. Untuk menciptakan perdamaian di Sambas diperlukan kerja kerasdan sinergi dari berbagai pihak yang terkait mulai dari pemerintah sebagai pemegangotoritas tertinggi dan pembuat kebijakan, etnis Melayu dan etnis Madura sebagai pihak yang bertikai serta pihak-pihak yang lain yang serius dalam upaya perdamaian di Sambas.
A.
LATAR BELAKANG
Konflik antar etnis seolah-olah tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial sepanjangsejarah Kalimantan Barat. Ini disebabkan Kalimantan Barat merupakan daerah heterogen.Selain itu, daerah ini tidak memiliki budaya dominan (
dominant culture
) sebagai wadahpembauran (
melting pot
) dari masing-masing etnis yang ada (Tim ISBD UNESA : 2008,131). Konflik-konflik di Sambas dapat terbagi dua yakni konflik yang murni konflik etnis(horizontal) dan konflik yang sebenarnya konflik vertikal tapi di desain menjadi konflik horizontal (Srikujam : 2008).Kerusuhan etnis yang berlangsung di Kalimantan Barat bersumber dari adanyarivalitas antar etnis yang berlangsung sejak lama. Kerusuhan antar etnis ini sudahberlangsung semenjak tahun 1950-an, khususnya pertikaian antara suku Madura melawansuku Dayak yang nyaris tiada henti. Sementara itu, suku Melayu yang selama ini tidak pernah terlibat konflik, ketika kekerasan demi kekerasan fisik bahkan pembunuhan yangdilakukan oleh suku Madura terus menimpa suku ini, maka hal itu dapat memupuk semacam dendam. Toleransi terhadap suku Madura seakan –akan telah habis tatkala HariRaya Idul Fitri pada Januari 1999, yang dianggap sebagai hari suci umat Islam yang harusdihormati, justru orang Madura (yang juga beragama Islam) malah menodai hari tersebut
1
Leave a Comment