• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
MAKALAH SISTEM SOSIAL INDONESIA
“MENGURAI PROSES PENYELESAIAN KONFLIK SAMBAS MELALUI RESOLUSI KONFLIK” 
DISUSUN OLEH :
ANDRY RISTIAWAN (084674049)
PRODI ILMU ADMINISTRASI NEGARAJURUSAN PMP-KNFAKULTAS ILMU SOSIALUNIVERSITAS NEGERI SURABAYA2009
 
ristinikov@gmail.com
ABSTRAK
Konflik berdarah Sambas antara etnis Melayu dengan etnis Madura tahun 1999menimbulkan masalah berkepanjangan dan trauma mendalam bagi kedua belah pihak khususnya bagi etnis Madura. Seluruh etnis Madura baik pendatang baru maupun yangsudah puluhan tahun berbaur dengan warga lokal bahkan sebagian merasa sebagai wargaKalimantan mau tidak mau harus angkat kaki dari bumi Sambas. Seiring perjalanan waktu,semakin banyak pihak yang aktif dalam proses resolusi konflik di Sambas. Para pekerjaperdamaian lokal baik dari pihak Melayu maupun Madura merupakan pihak-pihak yangsangat serius dalam upaya perdamaian di Sambas. Namun, sayangnya pihak pemerintahbaik pusat maupun daerah terkesan setengah-setengah dan kurang serius dalam upayaperdamaian di Sambas. Untuk menciptakan perdamaian di Sambas diperlukan kerja kerasdan sinergi dari berbagai pihak yang terkait mulai dari pemerintah sebagai pemegangotoritas tertinggi dan pembuat kebijakan, etnis Melayu dan etnis Madura sebagai pihak yang bertikai serta pihak-pihak yang lain yang serius dalam upaya perdamaian di Sambas.
A.
 
LATAR BELAKANG
Konflik antar etnis seolah-olah tidak dapat dilepaskan dari realitas sosial sepanjangsejarah Kalimantan Barat. Ini disebabkan Kalimantan Barat merupakan daerah heterogen.Selain itu, daerah ini tidak memiliki budaya dominan (
dominant culture
) sebagai wadahpembauran (
melting pot 
) dari masing-masing etnis yang ada (Tim ISBD UNESA : 2008,131). Konflik-konflik di Sambas dapat terbagi dua yakni konflik yang murni konflik etnis(horizontal) dan konflik yang sebenarnya konflik vertikal tapi di desain menjadi konflik horizontal (Srikujam : 2008).Kerusuhan etnis yang berlangsung di Kalimantan Barat bersumber dari adanyarivalitas antar etnis yang berlangsung sejak lama. Kerusuhan antar etnis ini sudahberlangsung semenjak tahun 1950-an, khususnya pertikaian antara suku Madura melawansuku Dayak yang nyaris tiada henti. Sementara itu, suku Melayu yang selama ini tidak pernah terlibat konflik, ketika kekerasan demi kekerasan fisik bahkan pembunuhan yangdilakukan oleh suku Madura terus menimpa suku ini, maka hal itu dapat memupuk semacam dendam. Toleransi terhadap suku Madura seakan –akan telah habis tatkala HariRaya Idul Fitri pada Januari 1999, yang dianggap sebagai hari suci umat Islam yang harusdihormati, justru orang Madura (yang juga beragama Islam) malah menodai hari tersebut
1
 
ristinikov@gmail.com
dengan melakukan pembunuhan terhadap orang dari suku Melayu yang juga beragamaIslam.Hubungan antar suku di wilayah Kalimantan Barat pada umumnya tidak dapatberlangsung dengan baik dan harmonis, khususnya antara suku pendatang Madura danpenduduk asli, Dayak dan Melayu. Sedangkan warga Cina perantauan kendati tidak pernah berani berkonfrontasi secara langsung juga menyimpan perasaan kurang senangterhadap perilaku etnis Madura, yang kerap mempraktikkan budaya kekerasan dan maumenang sendiri. Selama berpuluh-puluh tahun hubungan antara suku-suku yang berkonflik gagal menghasilkan proses adaptasi yang sehat. Konflik lebih mengemuka dibandingkerjasama, dan integrasi gagal terwujud. Antara suku-suku yang bertikai jarang adakerjasama dalam berbagai aktivitas sosial seperti gotong royong dan sebagainya. Integrasidan kerjasama tidak terwujud karena adanya konflik kultural (akibat perangai orangMadura yang tidak diterima oleh suku-suku yang lain) maupun pola pemukiman yangtersegregrasi secara eksklusif. Kondisi ini diperparah oleh daya dukung lingkungan yangsemakin menurun akibat kerusakan lingkungan, dan aparat keamanan tidak mampumenjalankan fungsinya sebagai aparat penegak hukum.
B.
 
KAJIAN TEORI
Menurut Ridwan (2009) dan Widjajanto (2004)
 
resolusi konflik mempunyai empattahapan, yaitu :
1)
 
De-eskalasi konflik.
Tahap ini masih didominasi oleh strategi militer yang berupaya untuk mengendalikan kekerasan bersenjata yang terjadi.
2)
 
Intervensi kemanusiaan dan negosiasi politik.
Tahap ini dimulai dengan penerapan intervensi kemanusiaan untuk meringankan beban penderitaan korban-korban konflik Intervensi kemanusiaantersebut dapat dilakukan bersamaan dengan usaha untuk membuka peluangdiadakannya negosiasi antar elit politik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwatahap ini kental dengan orientasi politik yang bertujuan untuk mencarikesepakatan politik (
 political settlement 
) antara aktor konflik.
2
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...