Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
makalah keadilan Nursi

makalah keadilan Nursi

Ratings: (0)|Views: 1,643 |Likes:
Published by zhangwuji

More info:

Published by: zhangwuji on Jul 06, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

 
Konsep keadilan versi said an-Nursi dan relevansinya dengan kehidupan modernProlog
Apabila kita merujuk pada perkembangan pertama dimana ide keadilan ini disajikandia tas 'meja makan' kajian filsafat dan renungan akal, maka kita akan menemukan bahwabingaki umum yang menyatukan beberapa aliran dan pendapat filosof Grik adalahbanhwasanya keadilan itu menpunyai dua sisi yang saling terikat tidak bisa dipisahkan. Sisipertama adalah sisi moral, sisi ini memandang bahwasanya keadilan merupakan salah satuperhiasan jiwa manusia. Sisi kedua adalah sisi hukum, sisi ini timbul dari adaya individusebagai anggota dari sebuah masyarakat yang setiap individunya terikat seoleh hubungan,pertalian dan pola interaksi yang bervariasi
1
. Jadi si damping sebagai salah satu keutamaanmoral, keadilan juga merpaukan sebuah tuntutan hukum (perundang-undangan) yang harusdipenuhi oleh setiap masyarakat. Karena keadilan merupakan jaminan yang palingmeyakinkan untuk kelangsungan hidup dalam sebuah masyarakat, yang mana di ataspondasi keadilan tersebut hubungan dan interaksi antar indivisu dan golongan itu dibangun.
2
Di dalam agama Islam, keadilan merupakan intisari dan tujuan pokok dari syariah dania merupakan sebuah keharusan yang pasti, oleh karena itu, sifat adil dituntut adanya didalam jiwa, keluarga, dan mayarakat, baik bersama kawan maupun lawan. Karena sifat adiltersebut merupakan pondasi dasar dari keadilan.
3
Jadi sifat adil itu merupakan salah satunilai teladan dalam kehidupan dan ia merupakan sebuah ketetapan yang dituntut akaldalam stiap perilaku, tindakan dan interaksi. Oleh karena itu agama menganjurkan untukmengikutinya dan menganggapnya sebagai sebuah tujuan.
4
Tanpa keadilan masyarakat akanberubah menjadi hampa dan goyah serta dipenuhi penganiayaan dan penyimpangan.
5
 Melihat urgensitas keadilan tersebut dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakatmaupun Negara, maka di dalam makalah ini penulis ingin mencoba untuk mengkaji konsepkeadilan dan penerapannya perspektif pemikir Islam Turkey, Said an-Nursî, kemudianmengkomparasikannya dengan pendapat para pilosof barat maupun Muslim dan mengujinyaapakah konsep keadilan perspektif beliau ini relevan bagi kehidupan di era modern ini.Makalah ini juga akan menganalilsa metodologi yang beliau terapkan dalam menafsirkanayat-ayat tentang keadilan serta sedikit mengupas situasi social, politik dan ekonomi di erabeliau yang melatar belakangi penafsiran beliau akan ayat-ayat tersebut.
Latar belakang social politik ekonomi budaya yang mendasari penafsiran an-nursiMetode an-nursi dalam menafsirkan ayat-ayat keadilan
1
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar,
Falsafat al-'Adâlah 'Inda al-Ighrîq Wa Atsaruha 'Inda Fuqahâ`i ar-RûmânWa Falâsifati al-Islâm,
Maktabah al-Jalâ` al-Jadîdah, Manshoura, 1989, hal. 11.
2
 
Ibid 
., hal. 42.
3
Abdu as-Salâm at-Tuwayjî, Muassasat al-'Adâlah fi as-Syarî'ah al-Islâmiyyah, Kulliayat ad-Da'wah al-Islâmiyyah, Tharablis, cet. I, 1993, hal. 25.
4
 
Ibid 
., hal. 21.
5
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar,
op. cit.,
hal. 42.
1
 
Keadilan dalam konsep filosof barat dan perspektif an-Nursi
Di dunia filsafat, di Eropa khususnya, Plato dianggap sebagai orang pertama yangmengkonsep tentang keadilan secara apik dan menyeluruh di dalam bukunya "Jumhuriyyah"dimana dia tidak hanya membicarakan masalah keadilan dari sisi moral (individu) saja akantetapi ia telah melangkah pada pembahasan keadilan dalam lingkup yang lebih luas yaitubernegara atau sebagaimana yang ia istilahkan dengan 'pandangan keadilan dengan hurufbesar'
6
. Walaupun sebelum Plato sudah banyak para filosof yang membahas tentang keadilanseperti Socrates, Phytagoras, Glokon, Olymarchus, akan tetapi pembahasan mereka tidakseapik yang disodorkan oleh Plato.Timbulnya teori keadilan versi Plato ini bertolak dari pandangannya terhadapkerusakan pemikiran, plolitik, moral dan sosial pada masa itu
7
dan juga bertolak daripertanyaan sederhana yang terlontar dari Socrates tentang esensi keadilan.
8
Jadi filsafatkeadilan Plato bukanlah filsafat teori dan ilusi belaka, akan tetapi filsafat tersebut lahirdari kerusakan dan kesewenamg-wenangan yang ia saksikan di dunia nyata. Di sana ada duaaliran politik yang selalu bersinggungan, yaitu ariktokrasi
9
dan demokrasi yang kedua-duanya tidak ada yang ia percaya
.Plato menolak untuk mengambil keadilan natural yang menunjukkan padakecenderungan manusia kepada kekuatan (baca: potensi) dan keunggulan (prestsi), karenaprestasi dan potensi tersebut akan dimenangkan oleh para penipu dan ahli makar, walaupunstandartnya adalah kecerdasan, sebab kecerdasan itu hanya mendorong manusia untukmemimpin orang lain dan menjauhkannya. Begitu juga ia menolak sistem keadilan yangdibangun atas dasar kemaslahatan yang kuat dan menghalangi yang lemah untukmendapatkan haknya
. Akan tetapi keadilan hakiki menurutnya adalah fenomenakemanusiaan yang alami yang muncul dari lubuk esensitas manusia tersebut sebagai mediaurgen untuk merealisasikan esensitas manusia baik secara individu maupun social
.Plato membatasi perkembangan keadilan itu berdasarkan perkembangan masyarakat.Di zaman Purba (kuno) ketaka jumlah manusia masih sedikit dan kehidupannya masih sangatsederhana, mereka hidup secara berkelompok karena setiap individu tidak akan mampuuntuk memenuhi segala kebutuhannya, oelh karena itu mereka bekerja sama hidup secaragotong royong dalam keadaan tenang dan tenteram tanpa ada persengketaan. Akan tetapiseiring pesatnya petumbuhan jumlah masyarakat, muncullah tuntutan-tuntutan baru danketika pendapatan suatu masyarakat tidak mampu memenuhi tuntutan hidupnya, merekamulai berani untuk menindas masyarakat lain. lalu masyarakat yang teraniaya merasa butuhuntuk membela dirinya dan meraka menunjuk beberapa anggotanya untuk melindunginya,dari situ timbullah dua tingkatan (strata) sosial dalam mayarakat tersebut; stratapengrajin/produsen, petani dan nelayan dan strata pelindung (tentara). Ketika kepentingandua strata ini berbenturan, maka secara pasti mereka butuh orang yang mampu
6
Jamâl al-Bannâ,
Nazhariyyat al-'Adl fi al-Fikr al-Ûrubî wa al-Fikr al-Islâmî 
, Dâr al-Fikr al-Islâmî, Cairo, 1995,hal. 12.
7
Dr. Ridhâ Sa'âdah,
al-Falsafah wa Musykilât al-Insân
, Dâr al-Fikr al-Lubnânî, Beirut, cet. I, 1990, hal. 102.
8
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar,
op. cit.,
hal. 64 dan Dr. Ridhâ Sa'âdah,
op. cit.,
hal. 105.
9
Aristokrasi adalah suatu bentuk pemerintahan dimana kekuasaan ada di tangan para bangsawan. SedangkanDemokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana kekuasaan ada di tangan rakyat. (Daryanto S. S.,
KamusBahasa Indonesia Lengkap,
Apollo, Surabaya, 1997, hal. 56 dan 161).
10
Dr. Ridhâ Sa'âdah,
op. cit.,
hal. 102.
11
 
 Ibid.,
hal. 106.
12
 
 Ibid.,
hal. 106.
2
 
menyelesaikan persengketaan mereka dan mampu menyatukan visi, dari sinilah timbulstrata masyarakat ketiga yaitu hakim (para filosof).
Oleh karena itu, meurut Plato perluadanya pembagian bidang kerja untuk memenuhi segala kebutuhan primer masyarakattersebut
.Keadilan social perspektif Plato ialah spesialisasi bidang kerja setiap individu sesuaidengan keahliannya yang alami
. Yakni setiap kelompok masyarakat harus menunaikantugasnya sesuai dengan spesialisasinya, dia hanya berhak untuk melakukan satu jenispekerjaan saja, ia tidak boleh melakukan intervensi terhadap keahlian strata yang lain
.Jadi, Keadilan ini terpusat pada tiga asas; persamaan, perserikatan (isytirâkî/ sosiali-komun) dan kelayakan, tiga asas ini tidak dapat dipisah satu sama lainnya.
Persamaan,
pesamaan menurut Plato bentuknya seperti bentuk persamaan padamasyarakat demokrasi modern. Persamaan ini mengabaikan perbedaan strata, jenis,keturunan dan memberikan setiap penduduk kecakapan untuk mengembangkan skill danprofesionalitas mereka serta memberikan hak untuk bisa mencapai status social, budayadan politk yang mereka pantas mendapatkannya. Jadi, fungsi dari pembagian masyarakatpada tiga kelompok tersebut hanyalah untuk membedakan keahlian mereka.
Perserikatan
,
 
perseriaktan merupakan syarat yang paling urgen untuk merealisasikankeadilan dan persamaan. Perserrikatan ini tidak mutlak akan tetapi bersifat relative sesuaidengan tingkatan- tingkatan tadi. Plato tidak mengharuskan pada para pengrajin (produsen,petani) untuk melakukan perserikatan secara penuh, karena kepemilikan mereka tidakmembuat perbedaan yang terlalu mencolok dalam hal kekayaan. Sedangkan para tentaradan hakim itu diharuskan untuk melakukan perrserikatan secara penuh
. Adapun cara untukmencapai perserikatan ini yaitu dengan pembagian tanah, pembebasan hutang danmenciptakan persamaan.
Kelayakan
,
selayaknya yang dicalonkan untuk menjadi hakim ialah orang yangpantas (
Capable
) untuk itu. Yang layak untuk jabatan itu —menurut Plato— hanyalah parafilosof, karena pada diri mereka terdapat dua potensi: potensi filsafat dan politik
.
Komentar
, jika kita perhatikan konsep keadilan perspektif Plato ini, maka kita akanmendapati bahwa keonsep ini tidak menyentuh esensi keadilan secara umum sebagaimanayang difahami oleh masyarakat, konsep ini tidak mencakup problem perbenturan antarkeinginan dan juga tidak meletakkan benag pemisah atau standar jelas yang bisa dijadxikanpegangan untuk menetapkan hak dan kewajiban secara hokum dan melindungi setipa hakdan kewajiban tersebut dalam naungan hokum. Dengan tidak adanya ide ini, maka kita bisamengatakan bahwa keadilan yang dibicarakan oleh Plato ini secara hakikatnya adalahsebuah ungkapan tentang keutamaan social (
 fadhîlah ijtimâiyyah
). Juga definisi keadilanVesi Plato ini bertentangan dengan mayoritas definisi keadilan di era klasik maupun
13
Strata pengrajin dilambangkan sebagai besi sebagai wujud dari nafsu syahwat manusia karena tugas mereka untuk memenuhi kebutuhan materi, sedangkan strata pelindung dilambagkan sebagai perak sebagai wujud dari nafsu angkaramanusia karena mereka mempunyai sifat pemberani dan siap menjadi pelindung, adapun strata hakim dilambangkan sebagaiemas sebagai wujud dari nafsu rasio manusia karena hanya merekalah yang mempunyai hikmah dan pengetahuan. (lihat.
Dr.Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar,
op. cit.,
hal. 66-73 dan Dr. Ridhâ Sa'âdah,
op. cit.,
hal. 106-107)
14
Dr. Amîrah Hilmî Mathar,
 Jumhuriyyah Aflâthûn
, Maktabah al-Usrah, Cairo, 1994, hal. 21-22.
15
 
Ridhâ Sa'âdah,
op. cit.,
hal. 107.
16
 
Dr. Mushthafâ Sayyid Ahmad Shaqar,
op. cit.,
hal. 76 dan
Dr. Amîrah Hilmî Mathar,
op. cit.,
hal. 24-25
.
17
Lihat,
Ridhâ Sa'âdah,
op. cit.,
hal. 107-108.
18
 
 Ibid.,
hal. 109-110.
19
Lihat
Ibid.,
hal. 107-109
.
3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
irsanbarakati liked this
Muhammad Khoiri liked this
Raxcvbn Raul liked this
nanadzilaini liked this
andry amkers liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->