Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tantangan Ghazwul Fikri Bagi Aktivis Dakwah Kampus

Tantangan Ghazwul Fikri Bagi Aktivis Dakwah Kampus

Ratings: (0)|Views: 1|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Sep 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/24/2014

pdf

text

original

 
TANTANGAN GHAZWUL FIKRI BAGI AKTIVIS DAKWAH KAMPUS*Oleh : M. Shiddiq al-Jawi**PengantarTulisan ini bertujuan menjelaskan tiga hal. Pertama, menerangkan bagaimana petakampus di Indonesia dalam tinjauan ideologi, sekaligus menjelaskan bagaimana perangpemikiran (Ghazwul Fikri) berlangsung atas dasar peta ideologi tersebut. Kedua,menerangkan bagaimana sikap yang harus diambil mahasiswa menghadapi beratnyatantangan perang pemikiran. Ketiga, menerangkan bagaimana mahasiswa muslimmempersiapkan diri agar mampu terjun dalam perang pemikiran ini.Peta Kampus dalam Ghazwul FikriPerang pemikiran (al-ghazw al-fikriy) merupakan keniscayaan bagi umat Islam. Sebab
Islam memang agama perjuangan (diin shira‘) sejak Rasulullah SAW diutus sebagai
nabi hingga Hari Kiamat nanti. Perang pemikiran itu intinya adalah pertarungan antaraide Islam (mafahim al-islam) melawan ide kufur (mafahim al-kufr), meski pun bentuk kekufuran itu bisa jadi berbeda-beda pada setiap zaman. (Hatmiyah al-
Shira‘ al
-Hadharat, 2002, hal. 24).Dalam tinjauan ideologis, dewasa ini terdapat tiga ideologi (mabda`) yang ada di dunia, yaitu : Islam, demokrasi-kapitalisme (sekularisme), dan sosialisme (termasuk didalamnya komunisme). Maka dalam arena perang pemikiran kontemporer, ide kufur(mafahim al-kufr) yang menjadi musuh Islam tersebut saat ini ada dua ideologi, yaitudemokrasi-kapitalisme dan sosialisme. (Hizb al-Tahrir (al-
Ta‘rif), 2010, hal. 60).
 Dalam sejarah Indonesia, pertarungan tiga ideologi itu nampak jelas sejak paruhpertama abad ke-20 hingga saat ini. Ketiga ideologi itu dikenal dengan sebutan :
nasionalis, agama (Islam), dan komunis (ingat istilah ―nasakom‖). Ideologi Islam dianut
oleh gerakan-gerakan Islam seperti Sarekat Dagang Islam (berdiri 1905) yang lalu
 
 bertransformasi menjadi Sarekat Islam (berdiri 11 Nopember 1912), Muhammadiyah(berdiri 18 Nopember 1912), Persatuan Islam (Persis) (berdiri awal 1920-an), danNahdlatul Ulama (berdiri 31 Januari 1926).Ideologi nasionalis (baca : sekuler) dianut misalnya oleh Boedi Utomo (berdiri 20 Mei1908) dan Partai Nasional Indonesia (berdiri tahun 1927). Sementara ideologisosialis/komunis dianut oleh PKI (berdiri 23 Mei 1920), sebagai transformasi ISDP(Indische Sociaal Democratische Vereniging) yang juga peralihan dari ISDV (IndischeSociaal Democratische Partij). (Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, hal. 138 dan 243).Sejak proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 hingga saat ini, ketiga ideologitersebut dapat dikatakan masih eksis, tentu dengan dominasi di tangan kaum nasionalis(sekuler) yang memenangkan persaingan ideologi ini. Sedang dua ideologi lain, Islamdan komunis, telah mengalami proses deideologisasi, yaitu proses perlucutan danpenjinakan sebagai ideologi bernegara, sebagai akibat penggunaan strategi penggunaansenjata untuk merebut kekuasaan. (DII/TII tahun 1950-an, dan G 30 S/PKI tahun1965). Jadi DII/TII dan PKI dilarang di Indonesia sebenarnya bukan karenaideologinya, tapi lebih karena mengadopsi strategi penggunaan senjata untuk memperoleh kekuasaan.Dari sinilah, maka kita akan dapat melihat peta kampus Indonesia dalam Ghazwul Fikrimenurut perspektif ideologi. Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat,maka kondisi kampus dapat dikatakan adalah potret mini dari masyarakat luas. Jika dimasyarakat eksis tiga ideologi besar dunia, maka demikian pula realitas di kampus.Tentu saja kampus memiliki perbedaan dengan kondisi masyarakat di luar kampus,karena kampus merupakan masyarakat ilmiah sebagai wahana intelektual danpendidikan.Sebuah survei membuktikan eksisnya tiga ideologi tersebut. Pada tahun 2006 dilakukansurvei oleh sebuah gerakan nasionalis terhadap para mahasiswa dari lima perguruantinggi terkemuka di Indonesia (UI, ITB, UGM, UNAIR, dan UNIBRAW). Merekaditanya apa pilihan pandangan hidup berbangsa dan bernegara yang paling layak untuk Indonesia. Hasilnya, yang memilih Syariah (Islam) sebanyak 80 %, yang memilihSosialisme 14,5%, dan yang memilih Pancasila hanya 4,5% (Kompas, 4 Maret 2008).
 
 Terlepas dari besar kecilnya persentase, survei tersebut dengan jelas menunjukkaneksistensi tiga ideologi yang ada di kampus. Namun meski yang memilih Islam berjumlah mayoritas, bukan berarti dalam peta Ghazwul Fikri mahasiswa Islamdominan mewarnai kehidupan kampus. Secara umum mahasiswa Islam masih menjadipihak pecundang dan terjajah oleh ideologi asing. Sebab perlu diingat, kampus itusendiri itu adalah bagian dari sistem pendidikan yang tetap mengacu kepada ideologisekularisme.Dalam kaitan ini, Nasim Butt dalam bukunya Sains dan Masyarakat Islam menegaskan bahwa kurikulum pendidikan di sebagian besar di negeri-negeri Islam saat ini adalahproduk kolonial murni, yaitu sistem pendidikan yang didasarkan pada sekularisme yangmendikotomikan antara agama dan negara. (Nasim Butt, Sains dan Masyarakat Islam,1996, hal. 22 dan 129).Dengan uraian ini, jelaslah siapa saja pihak yang menjadi lawan mahasiswa Islam dalamGhazwul Fikri di lingkungan kampus. Pertama, adalah kelompok-kelompok dari duaideologi lain, yaitu sosialisme dan sekularisme. Kedua, adalah sistem pendidikan dikampus itu sendiri yang mendasarkan kurikulumnya pada sekularisme.Kelompok sosialis jumlahnya lebih sedikit daripada kelompok sekuler, meski mungkinmereka lebih militan. Sedikitnya kelompok sosialis itu mungkin karena dampak hancurnya Uni Soviet awal tahun 1990-an yang membuat orang tak percaya lagi padasosialisme. Namun kepedulian mereka kepada rakyat kecil masih menyisakan dayatarik, apalagi di tengah penerapan neoliberalisme saat ini yang terus menerus membuatrakyat menderita. Anak muda yang bersemangat tapi awam ideologi masih dapattertarik dengan propaganda murahan mereka yang terkesan pro-rakyat.Eksistensi kelompok sosialis ini dapat ditengarai dengan beberapa indikasi. Misalnyaaksi-aksi demo tertentu yang khas gaya kaum kiri, yaitu selalu mencoba membenturkanpemerintah dan rakyat. Juga adanya buku-buku tertentu yang terindikasi dari golongankiri. Misalnya, buku berjudul Lekra Tak Membakar Buku, dengan editor Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan (Yogyakarta : Merakesumba, 2008). Muhidin M.Dahlan yang dikenal dekat dengan Pramoedya Ananta Toer ini pernah menulis buku

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->