Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah 5 Komersialisasi Hasil RUSNAS Wacana Kebijakan – Tatang A. Taufik

Makalah 5 Komersialisasi Hasil RUSNAS Wacana Kebijakan – Tatang A. Taufik

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 44|Likes:
Published by Tatang Taufik

More info:

Published by: Tatang Taufik on Sep 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2014

pdf

text

original

 
 
127
KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS:WACANA KEBIJAKAN
1. PENDAHULUAN
Program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) merupakan salah satu instrumenkebijakan
 
dari Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) yang dikembangkan denganpertimbangan bahwa masih banyaknya sektor produksi strategis yang belum dapatdikembangkan karena penguasaan teknologi yang masih lemah. Di sisi lain, kemajuanteknologi di sektor produksi yang terkait mengalami kemajuan yang cukup pesat. Dengandemikian, jika tidak ada usaha yang sistematis dan berkelanjutan dalam jangka panjanguntuk mengimbangi kemajuan teknologi tersebut dan dinamika persaingan, maka sektorproduksi tersebut akan semakin tidak memiliki daya saing.Program RUSNAS dirancang untuk memfasilitasi upaya yang komprehensif melalui
penyusunan suatu “petarencana teknologi”/
technology roadmap
(khususnya petarencanateknologi produk dan petarencana teknologi proses) dari suatu sektor produksi yang dinilaistrategis. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan penguasaan dan mendorongpemanfaatannya secara nyata ke dalam kegiatan produksi. Oleh karena itu, ProgramRUSNAS diarahkan juga untuk memperkuat klaster potensial bagi setiap bidang usaha.Salah satu isu spesifik dalam RUSNAS adalah mendorong pemanfaatan hasilpenelitian dan pengembangan (libang) yang saling menguntungkan pemasok dan penggunateknologi dalam klaster industri tertentu, sehingga agenda komersialisasi harus bersifat
“saling menguntungkan”
(mutual benefit)
. Ini tentu menjadi kunci bukan saja bagiberkembangnya
“keuntungan bisnis”
(private return)
tetapi juga dampak ekonomi
(publicreturn)
yang lebih luas terutama dalam bentuk (melalui)
 
eksternalitas, termasuk
 knowledge spillover.
Keduanya tentu penting bagi jastifikasi Program RUSNAS sebagi suatubentuk intervensi pemerintah.Tulisan ini mendiskusikan suatu tinjauan dari perspektif kebijakan tentangkomersialisasi hasil RUSNAS dalam rangka mencapai tujuan program, untuk menggalikemungkinan alternatif intervensi (instrumen kebijakan) pendukung yang perlu dilakukansebagai bahan masukan bagi pihak Manajemen Program RUSNAS (KRT). Hal ini dinilaipenting dalam rangka meningkatkan keberhasilan komersialisasi hasil RUSNAS. Yangdimaksud dengan instrumen kebijakan pendukung di sini adalah perangkat langkah atautindakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk merealisasikan kebijakan yang telahditetapkan. Dalam hal ini yang dimaksud adalah kebijakan untuk mendorong/meningkatkan komersialisasi hasil dari Program RUSNAS.
 
PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS
128
2. TINJAUAN PROGRAM RUSNAS DALAM PERSPEKTIF KEBIJAKAN
Intervensi tertentu dari pemerintah seringkali dipandang perlu manakala
“kegagalan” (terutama alasan kegagalan pasar dan distorsi pemerintah) terjadi dan adanya
upaya tertentu dinilai urgen untuk memperbaiki keadaan tersebut. Dalam kontekspengetahuan, teknologi, inovasi atau litbang, beberapa argumen umum yang munculutamanya adalah
market failure
, antara lain karena:
1
 
 
Aktivitas litbang atau pengembangan pengetahuan/teknologi bersifat
 public goods,
 walaupun adakalanya tidak sepenuhnya.
 
 
Sektor swasta yang cenderung
under-invest
dalam pengetahuan
(knowledge).
Diskusitentang ini dalam literatur antara lain menyangkut tekanan pada alternatif solusimisalnya:
 
a.
 
Solusi swasta: Di antara solusi yang dinilai penting dan secara empiris banyakberkembang adalah
Internalisasi eksternalitas.
Contoh bentuk ini misalnyapeningkatan
awareness,
perlindungan HKI
;
dan kolaborasi;b.
 
Intervensi pemerintah: di antara beberapa bentuk umum yang dikenalmisalnya subsidi dan insentif finansial lain (misalnya pajak) bagi eksternalitasposiitif;
 
 
Persaingan pasar yang umumnya tidak sempurna
(imperfect)
;
 
Sifat
increasing returns
dari pengetahuan/teknologi;
 
Eksternalitas
 
(misalnya:
knowledge spill-over 
)
 
sehingga intervensi yang tepatdiharapkan dapat meningkatkan
rate of return
dari investasi litbang dan orientasiekonomi pada perencanaan dan pelaksanaan litbang akan menguat.Eksternalitas berpotensi mengakibatkan alokasi sumber daya yang dilakukan pasartidak efisien. Dalam hal ini, maka pemerintah dapat melakukan salah satu dari dua pilihantindakan yang ada. Pilihan pertama adalah menerapkan kebijakan-kebijakan atau
pendekatan “komando dan kontrol” (
command-and-control policies).
Pilihan kedua adalahmenerapkan kebijakan-
kebijakan berdasarkan “pendekatan pasar” (
market-based  policies
). Bagi para ekonom, pilihan kedua lebih baik, karena kebijakan berdasarkanpendekatan pasar diharapkan akan mendorong para pembuat keputusan di pasar swasta,untuk secara sukarela memilih mengatasi masalahnya sendiri.Dalam kerangka
supply-demand 
, seringkali dibutuhkan instrumen kebijakan yangditujukan untuk mempengaruhi salah satu sisi, keduanya dan/atau keterkaitan antarkeduanya. Dalam kebijakan inovasi teknologi, ini umumnya diperlukan untuk tujuanseperti berikut:
 
Demand side policy 
diperlukan untuk menumbuhkan iklim bisnis yangmenstimulasi perkembangan kemampuan inovasi.
 
Supply side policy 
diperlukan untuk memperkuat daya dukung teknologi(
technology supply chain
).
1
Isu/argumen tersebut sebenarnya merupakan hal yang saling terkait satu dengan lainnya.
 
 KOMERSIALISASI HASIL RUSNAS: WACANA KEBIJAKAN
129
P2KDT
DB PKT
 
Linkage policy 
diperlukan untuk meningkatkan komplementaritas danmengurangi hambatan transaksi antar industri, baik dalam hubungan vertikaldengan industri penunjang maupun dalam hubungan horisontal dengan industrilain yang terkait, serta membentuk keterkaitan dengan lembaga litbang danperguruan tinggi.Upaya meningkatkan aliran inovasi/teknologi dari pengembang kepada pengguna daninteraksi antar pihak merupakan agenda umum semua negara. Dalam tataran nasional, diantara landasan legal bagi hal ini juga tertuang dalam UU No. 18/2002 (SISNAS P3 Iptek),Pasal 16, Ayat (1).Beragam kajian teori dan empiris mengungkapkan bahwa proses inovasi dan difusiteknologi pada umumnya bukan merupakan proses yang terisolasi, melainkan terjadimelalui interaksi sejumlah pelaku yang terlibat dalam proses pertambahan nilai produksi,serta berakar pada kombinasi kemampuan sejumlah badan usaha, lembaga penelitian,perguruan tinggi, serta lembaga-lembaga penunjang secara komplementatif.Dengan menggunakan kerangka analisis Porter (1990) tentang determinankeunggulan daya saing, maka perkembangan kemampuan inovasi dan difusi teknologi(dalam konteks peningkatan keunggulan daya saing) pada dasarnya dipengaruhi olehsejumlah determinan seperti kondisi faktor
(factor conditions),
kondisi permintaan
(demand conditions),
strategi perusahaan dan
 
persaingan antar perusahaan
(competitive/rivalry conditions),
dan kondisi klaster
(cluster conditions).
Melalui kebijakan insentif, peraturan perundang-undangan, dan inisiatif kelembagaan, pemerintah diharapkan dapat mengembangkan inisiatif untuk membentuklingkungan usaha yang inovatif, membentuk komplementaritas dan mereduksi berbagaibentuk hambatan interaksi dan transaksi antara para aktor, serta memperbesar
knowledgeexternalities.
Mekanisme perubahan yang dikembangkan oleh pemerintah diarahkan untukmemperkecil berbagai kesenjangan (
 gaps
) yang mempengaruhi kondisi dan interaksikeempat determinan tersebut. Penyikapan atas hal ini dari perspektif KRT secara ringkasdapat dilihat pada KRT (2000).Di antara beberapa instrumen kebijakan dalam mempengaruhi keristekan di
Indonesia yang dikeluarkan oleh KRT adalah “program
-
program unggulan” seperti RUSNAS.Dalam kaitan ini, tekanan Program RUSNAS utamanya adalah pada “pengembangan
techno-industrial cluster 
” yang tujuan utamanya adalah “m
eningkatkan komplementaritas dantransaksi antar industri, lembaga litbang dan perguruan tinggi untuk memperkuatpembentukan
techno-industrial cluster,
” dan pada "
peningkatan daya dukung iptek" yangbertujuan "memperkuat daya dukung teknologi."Program Riset Unggulan Strategis Nasional (RUSNAS) dikembangkan denganpertimbangan sebagai berikut:
 
Banyak sektor produksi yang strategis kurang dapat berkembang karenalemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkait.
 
Di pihak lain bidang-bidang teknologi yang terkait dengan suatu sektorproduksi yang strategis juga mengalami kemajuan-kemajuan yang semakincepat, sehingga tanpa usaha yang ekstensif dan berjangka panjang untukmenguasai kemajuan teknologi-teknologi tersebut perkembangan sektorproduksi itu akan semakin tertinggal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->