Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah 3 Prakarsa Kolaboratif Pengembangan Obat Bahan Alam Indonesia Kasus Obat Diabetes dari Mahkota Dewa dan Pare – Tatang A. Taufik

Makalah 3 Prakarsa Kolaboratif Pengembangan Obat Bahan Alam Indonesia Kasus Obat Diabetes dari Mahkota Dewa dan Pare – Tatang A. Taufik

Ratings: (0)|Views: 658|Likes:
Published by Tatang Taufik

More info:

Published by: Tatang Taufik on Sep 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/15/2014

pdf

text

original

 
 
51
PRAKARSA KOLABORATIFPENGEMBANGANOBAT BAHAN ALAM INDONESIA:KASUS OBAT DIABETESDARI MAHKOTA DEWA DAN PARE
1
 
1. PENDAHULUAN
Indonesia dikenal sebagai
mega center 
keanekaragaman hayati. Diperkirakan bahwasekitar 17% spesies yang ada di dunia, hidup di wilayah Indonesia dan jumlah tersebutlebih besar dari seluruh spesies yang hidup di Benua Afrika. Keanekaragaman hayatiIndonesia ini diperkirakan terkaya kedua di dunia setelah Brazil.Dari potensi alamiah tersebut
(natural endowments)
, maka pemanfaatan sumberdaya hayati terbesar adalah untuk obat-obatan. Ini tidak terlampau mengherankanmengingat bahwa penggunaan tumbuhan alam untuk mempertahankan kesehatan danpengobatan penyakit diperkirakan telah menjadi bagian sejarah lama budaya manusia dantelah dilakukan sejak sekitar 5.000 tahun lalu, dengan kurang lebih 1.500 jenis ekstraktumbuhan.Pada masa modern, tumbuhan yang masih dimanfaatkan diperkirakan hanya tigaratusan jenis. Beberapa sumber menyebutkan bahwa berbagai jenis ekstrak tumbuhan itu
telah mendapat sertifikasi dari “Food and Drug A
dministration
(FDA)”
- Amerika Serikat.Dari jumlah itu, 40 jenis ekstrak tumbuhan berasal dari Indonesia." Indonesia sendirimemiliki sekitar 30.000 jenis tumbuhan, 7.000 jenis di antaranya berkhasiat sebagai obat.Jumlah tersebut juga merupakan 90% jenis tanaman obat di Asia.Belakangan, pengembangan obat bahan alam
2
cenderung meningkat cukup pesat,tidak saja di belahan negara berkembang tetapi juga di negara-negara industri maju.Fenomena ini nampaknya didorong oleh kecenderungan kuat tentang cara pengobatan
backto nature
di tingkat global. Untuk negara berkembang saja, WHO memperkirakan bahwa80% penduduk negara berkembang masih mengandalkan pemeliharaan kesehatan pada
1
Sebagian dari tulisan ini diambil dan/atau disarikan dari beragam sumber, termasuk dokumen dan hasilserangkaian diskusi/
workshop
yang telah diselenggarakan. Untuk itu penulis menyampaikan penghargaandan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dan berkontribusi serta sangat kooperatifdalam mendorong upaya kolaboratif ini.Tulisan ini disiapkan oleh penulis sebagai bagian/bahan laporan pelaksanaan pemetarencanaan obatbahan alam Indonesia bagi BPPT, muatannya bersifat tentatif dan sebagai satu satu bahan masukan bagidiskusi selanjutnya.
2
Pengertian obat bahan alam mencakup: tumbuhan, tanaman dan hewan, termasuk fitofarmaka danbiofarmaka. Obat tradisional menurut UU No. 23/1992 tentang Kesehatan adalah bahan atau ramuanbahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) ataucampuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkanpengalaman.
 
PENYEDIAAN TEKNOLOGI, KOMERSIALISASI HASIL LITBANG DAN ALIANSI STRATEGIS
52pengobatan tradisional yang dalam praktiknya menggunakan atau melibatkan tumbuh-tumbuhan.Selain karunia tanaman bagi obat bahan alam yang melimpah, Indonesia sendiridinilai kaya akan pengetahuan/teknologi masyarakat (
indigenous knowledge/technology 
)mengenai obat tradisional yang berasal dari sumber daya hayati. Karena itu sangat kuatuntuk beralasan bahwa bagi Indonesia, fenomena ini semestinya dipandang sebagaiperkembangan positif yang dapat menguak cakrawala prospek pengembangan obat bahanalam Indonesia sebagai industri yang berkeunggulan kompetitif di tingkat global.Di sisi lain, pengembangan obat bahan alam di Indonesia sejauh ini masihmenghadapi berbagai hambatan/persoalan dan tantangan. Beberapa di antaranya yangmenonjol adalah seperti berikut:
3
 
 
Kendala penggunaan obat bahan alam dalam sistem pelayanan kesehatan formal:
4
 
 
Belum teruji secara klinis.
 
Aturan penggunaannya belum dirumuskan dengan jelas.
 
Belum ada informasi lengkap tentang obat bahan alam dan pedoman tegaspenggunaannya.
5
 
 
Belum menjadi kebiasaan dalam praktik pengobatan formal.
 
Obat bahan alam harus memenuhi persyaratan: mutu, aman dan berkhasiat.
 
Masalah dan tantangan dalam pengembangan obat bahan alam:
 
Budidaya sumber daya hayati.
 
Standarisasi mutu proses dan produk.
6
 
 
Peraturan perundang-undangan.
 
Jaringan penelitian dan aplikasi hasil penelitian.
 
Komersialisasi/sinkronisasi kebutuhan pasar, tren pola penyakit danpengembangan obat bahan alam, terutama dikaitkan dengan konservasi.
3
Lihat misalnya Anggadiredja (2001).
4
Indonesia pada dasarnya menganut sistem
tolerant
.
5
UU No.23/1992 tentang Kesehatan, antara lain:
 
Pasal 40 ayat(2): Sediaan farmasi yang berupa obat tradisional dan kosmetika serta alat kesehatanharus memenuhi standar atau persyaratan yang ditentukan;
 
Pasal 41 ayat(1): Sediaan farmasi dan alat kesehatan hanya dapat diedarkan setelah mendapat ijinedar;
 
Pasal 41 ayat(2): Penandaan dan informasi sediaan farmasi dan alat kesehatan harus memenuhipersyaratan objektifitas dan kelengkapan serta tidak menyesatkan.
6
 
Standarisasi “obat tradisional” pada dasarnya meliputi bahan atau simplisia, produk ja
di dan prosespembuatan. Sejauh ini standar produk obat tradisional baru terbatas pada aspek mutu dan keamanan,belum mencakup pada aspek khasiat/kemanfaatan. Untuk standar proses pembuatan, telah ditetapkan
dalam bentuk “Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOTB).” Walaupun begitu, sebagian besar industri obattradisonal terutama “Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT)” belum melaksanakan CPOTB. Sementara itu,
untuk jamu gendong, dalam proses pembuatannya juga belum sepenuhnya memperhatikan aspekkebersihan dan pemilihan bahan/simplisia yang berkualitas.
 
PRAKARSA KOLABORATIF PENGEMBANGAN OBAT BAHAN ALAM ALAM INDONESIA:KASUS OBAT DIABETES DARI MAHKOTA DEWA DAN PARE
53
P2KDT
DB PKT
Isu-isu tersebut merupakan hambatan dan isu/persoalan yang sangat menantang,yang diperkirakan tidak mungkin diselesaikan oleh satu pihak (khususnya industri) dan
diserahkan begitu saja kepada “mekanisme pasar.”
Sehubungan dengan itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT
(cq. P2KT PUDPKM)
memprakarsai upaya kolaboratif strategis pengembangan obat bahan alamIndonesia. Hal ini dlakukan dengan menyelenggarakan serangkaian diskusi dan
workshop
 terbatas
7
dan menginisiasi upaya pemetarencanaan
(roadmapping)
pengembangan obatbahan alam Indonesia, dan memulainya dengan fokus, sebagai hasil konsensus forum, padatanaman mahkota dewa
8
dan pare.
9
 Tulisan ini membahas beberapa isu penting langkah strategis pengembangan obatbahan alam Indonesia beserta hasil awal yang dicapai sebagai upaya bersama, dengan
pendekatan pengembangan “peme
tarencanaan
(roadmapping)
 
kolaboratif.” Dalam proses
diskusi, prakarsa ini berfokus pada pengembangan obat anti diabetes dari mahkota dewa
dan pare dalam konteks pengembangan “kelompok produk antara” dalam bentuk bahan
jamu (simplisia standar), herbal/ekstrak terstandar, dan sediaan akhir fitofarmaka.
2. ARAH STRATEGIS
Pemetarencanaan kolaboratif dikembangkan mengingat beberapa alasan khususberikut:
 
Industri berbasis obat bahan alam Indonesia yang sebenarnya potensial bagiperekonomian daerah dan nasional serta sangat strategis dinilai kurang dapatberkembang karena lemahnya penguasaan berbagai bidang teknologi yang terkaitdan lemahnya penyediaan
(supply)
bahan yang bermutu tinggi.
 
Di sisi lain, bidang-bidang teknologi yang terkait dengan sektor produksi/industriobat mengalami kemajuan-kemajuan yang semakin cepat, terutama untuk produkobat modern dari bahan sintetis. Sementara itu, kekayaan pengetahuan/teknologimasyarakat (
indigenous knowledge/technology 
) terkait yang berkembang diIndonesia belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baikuntuk mampu menjadi aset intelektual, baik bagi kemajuan ekonomi maupunperkembangan iptek di Indonesia. Karena itu, tanpa usaha yang terarah, sinergis,intensif dan ekstensif, serta berjangka panjang untuk menguasai kemajuanteknologi-teknologi tersebut, maka perkembangan sektor produksi di bidang obatbahan alam Indonesia diperkirakan berisiko akan semakin tertinggal.
7
Dua
workshop
telah diselenggarakan di Gedung BPPT - Jakarta pada tanggal 24 September 2003 dan 21Oktober 2003.
8
Mahkota dewa
(Phaleria macrocarpa (scheff) boerl,
atau
Phaleria papuana Warb. var. Wichannii (Val.)Back Phaleria macrocarpa warb. var. wichanii (val) back)
berasal dari Papua. Tumbuhan berfamili
Thymelaeceae
ini dikenal bangsa asing dengan nama
The Crown of God 
.
9
Pare
(momordica charantia,
atau
Momordica chinensis, M. elegans, M. indica, M. operculata, M. sinensis,Sicyos fauriei)
berkembang di daerah tropik. Tumbuhan berfamili
Cucurbitaceae
ini dikenal juga dengannama
bitter melon
.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->