Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bab 14 Epilog: Pemetarencanaan dalam Perjalanan ke Depan

Bab 14 Epilog: Pemetarencanaan dalam Perjalanan ke Depan

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 6|Likes:
Published by Tatang Taufik

More info:

Published by: Tatang Taufik on Sep 29, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/30/2014

pdf

text

original

 
 
177
BAB 14
EPILOG: PEMETARENCANAANDALAM PERJALANAN KE DEPAN
14.1. PENDAHULUAN
Pemetarencanaan telah menjadi salah satu alat yang semakin luas digunakan olehberbagai kalangan dewasa ini, baik perusahaan, industri, lembaga litbang, dan kolaborasibanyak pihak yang juga melibatkan pemerintah. Patut diakui, bahwa istilah pemetarencanaandan petarencana (sebagai hasil proses pemetarencanaan) tidak/belum baku. Bila dicermati,berbagai pemetarencanaan dan petarencana yang sejauh ini berkembang menunjukkankeragaman baik tentang format dan elemennya maupun proses beserta metode/teknik yangdigunakan.
 Analog dengan “peta perjalanan,” suatu petarencana memungkinkan penggunanya
memilih di antara alternatif lintasan tindakan yang menentukan bagaimana mencapai tujuantertentu. Hakikatnya, petarencana merupakan suatu alat yang membantu memberikan(meningkatkan) pemahaman, orientasi, konteks, arah dan konsensus/kesepakatan tertentuyang sangat penting bagi pembuat dan penggunanya berstrategi, menentukan kebijakan,merencanakan tindakan dan mengimplementasikannya, serta memantau, mengevaluasi danmemperbaikinya dalam menghadapi masa depan.Seperti telah dibahas dalam buku ini, secara teknis pemetarencanaan mempunyaipengertian sebagai serangkaian proses perencanaan dalam konteks tematik bidang dan/ataulingkup (domain) kerja organisasi tertentu yang didorong oleh proyeksi kebutuhan-kebutuhanatas kondisi di masa datang yang dinilai sangat penting (menentukan).Dari beragam pengalaman praktik pemetarencanaan di tingkat perusahaan maupunkolaborasi banyak pihak yang didokumentasikan, beberapa menyebutkan faktor-faktor keberhasilan dan pelajaran yang dapat dipetik. Beberapa pelajaran tersebut antara lain adalah:
 
Nilai dari pemetarencanaan, “sebagian besar” sebenarnya ter 
letak pada prosesnyasendiri. Ini karena pemetarencanaan dapat membangkitkan pandangan atas fokus isutertentu dalam dinamika interaksi dan membantu konsensus antara partisipanpemetarencanaan dan para
stakeholder 
kunci. Komunikasi, koordinasi, dan
 
 
PEMETARENCANAAN
(ROADMAPPING)
: KONSEP, METODE DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN
178pembelajaran merupakan elemen penting yang mempengaruhi kapasitas untuk bertindakdan mengeksekusi tindakan, dalam menghasilkan keluaran/hasil yang berkualitas.
 
Petarencana yang berkualitas biasanya adalah petarencana yang “terus hidup.”
Pemetarencanaan merupakan proses iteratif, proses dan keluarannya cenderungsemakin baik sejalan dengan proses iterasi. Petarencana generasi kedua dan seterusnyauntuk topik yang sama biasanya lebih baik dibanding dengan petarencana awalnya.
Komitmen manajemen merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan baik dalampemetarencanaan suatu organisasi individual maupun pemetarencanaan kolaboratif.
Partisipan pemetarencanaan yang “mewakili” memang semestinya yang mempunyai“legitimasi” untuk memberikan pemikiran maupun menindaklanjuti
(menyampaikankepada pihak yang perlu menindaklanjuti) hasil yang diperoleh dari prosespemetarencanaan.
Pemetarencanaan pada bidang dengan perubahan kebutuhan teknologi atau faktor pendorong kunci yang relatif stabil dalam jangka panjang umumnya mempunyaikemungkinan keberhasilan lebih baik.
Banyak kebutuhan dan isu serupa yang muncul dalam beragam petarencana industriyang dilakukan secara kolaboratif. Karena itu, beberapa hasil petarencana industrikolaboratif dapat menjadi salah satu bahan yang sangat bernilai bagi prosespemetarencanaan industri kolaboratif lainnya.Di lain pihak banyak pakar mengingatkan agar dalam proses pemetarencanaan,beberapa hal perlu diwaspadai untuk dihindari atau setidaknya diminimumkan, terutama:
Partisipan pemetarencanaan seringkali memberikan pandangan atau menghasilkan
konsensus yang “terlampau konservatif, linier,” dan kecenderungan kepada inovasi
inkremental. Proses diskusi yang melibatkan banyak peserta memang sering cenderung
“menghambat” pemikiran yang “sangat berbeda” atau “radikal” yang justru seringdiperlukan untuk menghasilkan inovasi terobosan (“revolusioner”).
 
 
Proses pemetarencanaan seringkali terlampau "didominasi” oleh pakar teknis
(engineer)
 dan kurang memberi kesempatan yang memadai kepada para pemimpin bisnis.
Aspek ekonomi, sosial dan bisnis sering terabaikan didiskusikan/dikaji.
14.2. MASA DEPAN PEMETARENCANAAN
Para pakar umumnya setuju bahwa masa depan pemetarencanaan sebagai alatperencanaan bagi organisasi individual maupun upaya kolaborasi, terutama yang berkaitandengan perkembangan bisnis/industri dan kemajuan teknologi, sangatlah baik. Beragam kisahkeberhasilan dari upaya pemetarencanaan baik yang spesifik perusahaan maupun industri dankesadaran semakin pentingnya pengetahuan, inovasi, dan aliansi strategis turut mendorong
 
BAB 14EPILOG: PEMETARENCANAAN DALAM PERJALANAN KE DEPAN
179semakin meluasnya praktik pemetarencanaan di kalangan bisnis dan kolaborasi industri-pemerintah.Untuk petarencana spesifik industri yang dilaksanakan secara kolaboratif, penekananumumnya diberikan antara lain pada:
Keterkaitan teknologi dengan kebutuhan industri jangka panjang;
Kebutuhan/persyaratan teknologi yang secara umum relevan dengan beragam industri;
Prioritas, kesenjangan, biaya litbang, dan
Return on Investment 
(ROI);
Perspektif internasional.Petarencana yang spesifik perusahaan dan spesifik produk semakin penting terutamabagi perusahaan-perusahaan yang intensif menggunakan (berbasis) teknologi
(technology intensive firms)
.Selain itu pengembangan metode pemetarencanaan diperkirakan merupakan bidangyang san
gat penting dan “terbuka” bagi penelitian di masa datang. Termasuk di antaranya
adalah pengembangan pemetarencanaan secara digital. Untuk menyikapi hal ini, KementerianRiset dan Teknologi beserta lembaga pemerintah non departemen (LPND) yangdikoordinasikannya dan perguruan tinggi seyogyanya memberi perhatian pada hal inimengingat kebutuhan akan hal ini bagi Indonesia di masa datang diperkirakan akan sangatmeluas.Untuk meningkatkan peluang kemitraan antara pemasok dengan pengguna teknologi,
knowledge pool 
seperti lembaga litbang dan perguruan tinggi perlu memperbaiki:
Antarmuka
(interface)
pelayanan teknologinya. Mekanisme pelayanan yang
multifacet 
seperti pada umumnya terjadi di lembaga litbang atau perguruan tinggi sejauh ini,walaupun dapat membantu, namun seringkali membuat pengguna (calon pengguna)
merasa “kebingungan” bagaimana berhubungan dengan, dan memanfaatkan layanan
tersebut. Selain itu, mekanisme pelayanannya sering dikeluhkan oleh kalangan bisnis
masih terlampau “berbelit/birokratis” atau belum berorientasi “pelayanan bisnis.”
 
Informasi, baik yang bersifat
tacit 
maupun terdokumentasi. Informasi yang
tacit 
misalnyamenyangkut keahlian
(expertise)
dan personil kontak yang tepat beserta pelayananrujukan
(referral service)
. Sementara yang terdokumentasi misalnya seperti tentangtingkat kesiapan/kematangan teknologi/TKT
(technology readiness level/TRL)
hasilpengembangannya (lihat contoh pada bagian lampiran).Pemetarencanaan di Indonesia relatif baru dimulai dan masih pada masa sangat awal.Upaya-upaya pemetarencanaan perlu terus didorong terutama di kalangan industri.Keterlambatan dalam memanfaatkan metode yang terkesan sederhana ini boleh jadi bisaberakibat semakin tertinggalnya industri Indonesia dalam dinamika persaingan bisnis masadepan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->