• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Hasil Peneltian Tahun : 1999ANALISIS PELUANG DAN KENDALAPENDIRIAN ASURANSI DEPOSITO DI INDONESIA
1
Oleh: Noeroso L. WahyudiRekomendasi
Salah satu dari empat skenario pembentukan Lembaga Asuransi Deposito (LAD)yang dimungkinkan terbaik adalah mendirikan BUMN baru yang khusus bertugasmenangani penjaminan dana masyarakat di bank dengan mengambil sebagian tugasBPPN sebagai embrionya. BUMN ini harus benar-benar mendapat dukungan penuh daripemerintah, seperti ASEI dan Askrindo, karena risiko yang akan ditanggung sangatbesar sehingga membutuhkan kejelasan dan dasar hukum yang kuat.Rekomendasi ini berdasarkan pengalaman BPPN dalam mengurusi masalahkredit dan investasi bank-bank yang bermasalah juga menangani masalah penjaminanterhadap dana nasabah bank tersebut. Diharapkan kewenangan lembaga ini untukmelakukan pembinaan terhadap bank-bank yang bermasalah dapat digunakan sebagaimodal atau menjadi embrio dari Lembaga Asuransi Deposito. Sebagai konsekluensinyahanya sebagian fungsi BPPN yang berkaitan dengan penjaminan terhadap dana nasabahbank “dikeluarkan” atau “diimplementasikan” pada lembaga asuransi deposito yangakan dibentuk. Ada baiknya SDM-nya juga mengambil dari BPPN karena merekasudah mempunyai pengalaman dalam menangani permasalahan seperti ini.Mengingat dalam pendiriaan LAD atau Lembaga Penjamin Simpananmemerlukan beberapa kriteria dan persyaratan untuk dipertimbangkan lebih dahuluantara lain : dasar hukum yang jelas. Dasar hukum yang jelas ini untuk menghindaritumpang tindihnya kewenangan antara lembaga asuransi deposito dengan BPPN, harusberoperasi secara independent tanpa campur tangan dari pihak lain. Kritera lain yangperlu dipertimbangkan adalah informasi tentang tingkat kesehatan industri untukmemperhitungkan tingkat premi yang harus dibayarkan ke LAD.Langkah selanjutnya Biro Pengkajian Ekonomi dan Keuangan, Badan AnalisaKeuangan dan Moneter sebaiknya bekerja sama dengan Direktorat Asuransi, Direktorat Jendral Lembaga Keuangan, maupun dengan Bank Indonesia. Kerja sama ini khususnya.dalam melajutkan riset yang berfoklus pada ‘Mekanisme Pendirian Lembaga AsuransiDeposito’.
1
Tim Peneliti terdiri dari Noeroso L. Wahyudi SE.MA, Arti Dyah Worotamo SE dan Hapsari Widowati SE.1
 
Permasalahan, Peluang, dan Arahan
i)Permasalahan
Berbagai tanggapan dari praktisi asuransi dan perbankan yang positif maupunnegatif menjadi pertentangan yang berlarut-larut hingga saat ini. Penundaan pemikirantersebut akan menambah beban pemerintah dalam penjaminan dana nasabah sehinggamenimbulkan makin kompleksnya permasalahan ini.
ii)Peluang Pendirian dilihat dari sisi Asuransi dan Perbankan
Peluang dari sisi asuransi, antara lain: (i) Pemerintah sedang berusaha untukmenurunkan beban APBN-nya sehingga dana deposito yang selama ini dijamin olehpemerintah akan dialihkan ke industri asuransi nasional, dan (ii) Apabila jaminanpemerintah dihapus maka nasabah akan berusaha mencari fasilitas bagi keamanan danadepositonya.Peluang dari sisi perbankan, antara lain: (i) Kepercayaan masyarakat terhadapperbankan sekarang ini sedang menurun sehingga pendirian lembaga ini akan bisameningkatkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap perbankan Indonesia, dan (ii)Bisa menurunkan risiko likuiditas yang mungkin akan dialami oleh perbankan.
i)Dasar hukum, Letter of Intents, Propenas (Program Pembangunan Nasional)
Dasar hukum yang dijadikan landasan bagi pendirian asuransi deposito, adalah:
Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, dalam pasal 29 ayat1 diterangkan bahwa Bank Sentral memajukan perkembangan yang sehat dariurusan kredit dan urusan perbankan. Dalam pasal 30 diterangkan bahwadimungkinkan diadakannya suatu asuransi deposito dengan tujuan pembinaankepercayaan masyarakat terhadap perbankan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 1973 tentang JaminanSimpanan Uang Pada Bank. Pemerintah mewajibkan semua bank kecuali bank-bank asing untuk menjaminkan simpanan uang pihak ketiga.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 1996 tentangKetentuan dan Tata Cara Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan LikuidasiBank. Didalam pasal 23 diterangkan bahwa pembayaran kewajiban-kewajibanbank yang terlikuidasi bisa dilakukan dengan mendirikan suatu lembaga yangberfungsi melindungi kepentingan nasabah penyimpan dana/debitur.
Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Undang-undang ini
2
 
merupakan perubahan dari UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.Masalah asuransi deposito dijelaskan dalam UU ini dengan sebutan
LembagaPenjamin Simpanan (LPS).
Didalam pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksuddengan Lembaga Penjamin Simpanan adalah badan hukum yangmenyelenggarakan kegiatan penjaminan atas simpanan nasabah penyimpan,melalui skim asuransi, dana penyangga, atau skim lainnya. Definisi LPS inimengacu pada pasal 37 B yang menyatakan bahwa setiap bank wajib menjamindana masyarakat yeng disimpan pada bank yang bersangkutan dan untukmenjamin simpanan tersebut maka perlu dibentuk Lembaga Penjamin Simpanan(LPS). Dari pengertian LPS di pasal 1 tersebut jelas bahwa usaha asuransi berhakuntuk mengeluarkan produk asuransi deposito yang merupakan salah satuproduk dari asuransi kerugian.Dalam
Letter of Intent
antara Pemerintah RI dengan IMF tanggal 24 Juni 1998,halaman 13, diperkenalkan Skim Asuransi Deposito. Sedang dalam Propenas (ProgramPembangunan Nasional) Tahun 2000 dibahas masalah penuntasan Restrukturisasiperbankan dan pengembangan kelembagaan keuangan, dengan salah satu strategikebijaksanaannya berupa peningkatan kemampuan lembaga keuangan bukan bank agarterbentuk sektor keuangan yang kuat melalui pengembangan faktor-faktorpendukungnya.
Tujuan
Tujuan Penelitian antara lain : 1) Mengidentifikasi profil industri asuransikerugian di Indonesia, 2) Mengidentifikasi profil perbankan di Indonesia, 3)Mengidentifikasi profil asuransi deposito di berbagai negara , 4) Mengidentifikasiperkembangan kronologis program penjaminan di Indonesia, 5)Mengidentifikasipeluang dan kendala pendirian lembaga asuransi deposito
Metodologi Penelitian
 Ruang Lingkup dan Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah DKI Jakarta dan Semarang. Penentuan lokasipenelitian disesuaikan dengan kemampuan dana, waktu dan tenaga. Obyek atau sampelpenelitian adalah perusahaan asuransi kerugian yang mempunyai nilai asset yang cukupbesar dan lembaga perbankan yang dianggap solid. Lima perusahaan asuransi kerugian,
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...