Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
123Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah ...

Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi Daerah ...

Ratings: (0)|Views: 6,994 |Likes:
Published by PRIYO HARI ADI

More info:

Published by: PRIYO HARI ADI on Jul 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANGPadang, 23-26 Agustus 2006
Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi…………
1
Bidang : Akuntansi Sektor PublikHUBUNGAN ANTARA PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH,BELANJA PEMBANGUNAN DAN PENDAPATAN ASLI DAERAH
(Studi pada Kabupaten dan Kota se Jawa-Bali)
Priyo Hari AdiUniversitas Kristen Satya Wacana Salatiga
Abstracts
Fiscal decentralization brings more advantages for regions to manage their own fiscalcapacities. Regions governments have opportunity to increase economic efficiency because the governments have informational advantages concerning resource allocation.The governments are in the better position to provide the kind of public goods andservices that closely meets the local needs.This study tends to examine the impact of the changes of expenditure structure both to theeconomics growth and also to the regional own revenue. It is also intended to examinethe direct and indirect effect the changes of capital expenditure to the regional ownrevenueIn relation with the changes of expenditure structure, the research finds that itsignificantly influences both regional economics growth and regional own revenue It alsofinds that the government’s decision to alocate the greater capital expenditure to thesupported economic growth infrastructures wiil brings more regional own revenue.
Key Words : Fiscal decentralization, economic growth,, capital expenditure, regionalown revenue
K-ASPP 03
 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANGPadang, 23-26 Agustus 2006
Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi…………
2
LATAR BELAKANG MASALAH
Pengelolaan pemerintah daerah, baik ditingkat propinsi maupun tingkatkabupaten dan kota memasuki era baru sejalan dengan dikeluarkannya UU No 22tahun 1999 dan UU no. 25 tahun 1999 yang mengatur tentang otonomi daerah dandesentralisasi fiskal. Dalam perkembangannya kebijakan ini diperbaharui dengandikeluarkannya UU No. 32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004. Kedua UU inimengatur tentang
Pemerintahan Daerah
dan
Perimbangan Keuangan antaraPemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
Kebijakan ini merupakan tantangandan peluang bagi pemerintah daerah (pemda) dikarenakan pemda memilikikewenangan lebih besar untuk mengelola sumber daya yang dimiliki secara efisiendan efektif.Kebijakan desentralisasi ditujukan untuk mewujudkan kemandirian daerah.Pemerintah daerah otonom mempunyai kewenangan untuk mengatur dan menguruskepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasar aspirasimasyarakat (UU No. 32 tahun 2004). Inti hakekat otonomi adalah adanyakewenangan daerah, bukan pendelegasian (Saragih, 2003).Kebijakan pelaksanaan desentralisasi fiskal dilakukan pada saat kurangtepat mengingat hampir seluruh daerah sedang berupaya untuk melepaskan diri darikrisis ekonomi yang dimulai pertengahan 1997 (Saragih, 2003). Akibatnyakebijakan ini memunculkan kesiapan (fiskal) daerah yang berbeda satu dengan yanglain. Kebijakan ini justru dilakukan pada saat terjadi disparitas pertumbuhan(ekonomi) yang tinggi.Tuntutan untuk mengubah struktur belanja menjadi semakin kuat, khususnya pada daerah-daerah yang mengalami kapasitas fiskal rendah (Halim, 2001). Daerah-daerah yang kapasitas fiskalnya rendah, cenderung mengalami tekanan fiskal yangkuat. Rendahnya kapasitas ini mengindikasikan tingkat kemandirian daerah yangrendah. Daerah dituntut untuk mengotimalkan potensi pendapatan yang dimiliki dansalah satunya dengan memberikan porsi belanja daerah yang lebih besar untuk sektor-sektor produktif.Pergeseran komposisi belanja merupakan upaya logis yang dilakukan pemerintah daerah (pemda) setempat dalam rangka meningkatkan tingkatkepercayaan publik. Pergesaran ini ditujukan untuk peningkatan investasi modal.
K-ASPP 03
 
SIMPOSIUM NASIONAL AKUNTANSI 9 PADANGPadang, 23-26 Agustus 2006
Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi…………
3Semakin tinggi tingkat investasi modal diharapkan mampu meningkatkan kualitaslayanan publik dan pada gilirannya mampu meningkatkan tingkat partisipasi(kontribusi) publik terhadap pembangunan yang tercermin dari adanya peningkatanPAD (Mardiasmo, 2002). Kesinambungan pembangunan daerah relatif lebihterjamin ketika publik memberikan tingkat dukungan yang tinggi.Perubahan alokasi belanja ini juga ditujukan untuk pembangunan berbagaifasilitas modal. Pemerintah perlu memfasilitasi berbagai aktivitas peningkatan perekonomian, salah satunya dengan membuka kesempatan berinvestasi.Pembangunan infrastruktur dan pemberian berbagai fasilitas kemudahan dilakukanuntuk meningkatkan daya tarik investasi ini. Wong (2004) menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur industri mempunyai dampak yang nyata terhadapkenaikan pajak daerah. Dengan kata lain, pembangunan berbagai fasilitas ini akan berujung pada peningkatan kemandirian daerah.
MASALAH PENELITIAN
Berdasarkan uraian yang melatarbelakangi penelitian ini, maka penulis merumuskan berbagai permasalahan sebagai berikut :1.
 
Bagaimanakah dampak belanja pembangunan terhadap pertumbuhan ekonomidan peningkatan kemandirian daerah ?2.
 
Bagaimanakah dampak pertumbuhan ekonomi terhadap kemandirian daerah
TELAAH TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
PERANAN BELANJA PEMBANGUNAN DALAM DESENTRALISASIFISKAL
Optimalisasi penerimaan PAD hendaknya didukung dengan upaya pemdameningkatkan kualitas layanan publik. Ekploitasi PAD yang berlebihan justru akansemakin membebani masyarakat, menjadi disinsentif bagi daerah dan mengancam perekonomian secara makro (Mardiasmo, 2002). Tidak efektifnya berbagai perda baru (terkait dengan retribusi dan pajak) selama tahun 2001 bisa jadi menunjukkantidak adanya relasi positif antara berbagai pungutan baru itu dengan kesungguhan pemda dalam meningkatkan mutu layanan publik (Lewis, 2003). Wurzel (1999)menegaskan meskipun mempunyai kewenangan untuk menarik pajak dan retribusi(
charge
), kewenangan ini perlu dipertimbangkan untung-ruginya (
cost and benefit 
),misal dalam penentuan tarif layanan publik. Keengganan masyarakat untuk 
K-ASPP 03

Activity (123)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Fatha Rachmana liked this
Yekti Astuti liked this
Yekti Astuti liked this
Yekti Astuti liked this
Yekti Astuti liked this
Yekti Astuti liked this
Yekti Astuti liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->