Latar Belakang
Para kolonialis dengan segala ambisinya sebagai penjajah telah merancangberbagai strategi untuk tetap menjadikan bangsa jajahannya sebagai masyarakat yangbodoh, tertinggal, terbelakang dan tidak memiliki harkat dan martabat. Salah satu caraefektif yang dilakukannya adalah dengan memanipulasi sejarah bangsa yangdijajahnya, memisahkannya dari pengetahuan generasi muda sebagaimana dinyatakanProf. Ismail R. Faruqi. Peninggalan-peninggalan agung nenek moyang mereka dibawakabur, dirampok bahkan dihancurkan agar generasi muda tidak memiliki jati diri lagi.Itulah sebabnya bangsa-bangsa penjajah, baik Inggris, Pertogis maupun Belanda telahmembawa semua bukti peninggalan kegemilangan Islam di Asia Tenggara ke Eropadengan alasan pengembangan pengetahuan. Bangsa yang tidak mengetahui masalalunya, maka tidak akan memiliki masa depan, seperti ungkapan TS. Elliot, ”masalalu dan masa kini akan menjadi kelanjutan masa depan”.Dengan program tersistematis para penjajah dengan perangkatnya telahberupaya menghapuskan tapak-tapak kegemilangan sejarah kaum Muslimin masalalu, termasuk para menghilangkan jejak para penggerak perubahan yang telahmenciptakan kegemilangan peradaban berdasarkan ajaran Islam. Contoh terdekatadalah seperti yang dilakukan penjajah Belanda terhadap pusat pemerintahanKerajaan Islam Pasai yang diketahui pernah menjadi pusat gerakan Islamisasi di AsiaTenggara yang telah melahirkan Kerajaan Islam dari Campa, Patani, Kelantan, Malaka,Palembang, Demak, Cirebon, Banten, Makassar, Bugis, Borneo, Sulu, Mindanaosampai Maluku dan Fak-Fak di Papua. Setelah menguasai Aceh, penjajah Belandamerubah Pusat Kerajaan Pasai di sekitar daerah Geudong Aceh Utara menjadi pusatpembuangan dan penampungan penderita penyakit menular seperti lepra. Secaraotomatis wilayah ini ditinggalkan penduduk dan menjadi kota mati, yangmengakibatkan punahnya peninggalan sejarah akibat tidak terawat.Pada saat yang sama para cendekiawan penjajah Belanda seperti Snouckmengadakan penelitian mendalam terhadap sejarah dan budaya Aceh sampai ke Mesirdan Mekkah dengan tujuan utama membalikkan fakta dan menyembunyikankebesaran kerajaan-kerajaan Islam, baik di Jeumpa, Perlak maupun Pasai. Denganpengetahuannya yang mendalam tentang Islam dan sejarahnya, Snouck telahmengeluarkan sebuah teori Islamisasi di sekitar Aceh, yang dikatakannya bermulapada abad ke 12 dan 13 M. Dengan teorinya ini seakan-akan Snouck ingin menyatakanbahwa Islamisasi di Nusantara bermula seratus tahun sebelum ketibaan penjajah Baratyang membawa agama Kristen. Padahal fakta menyatakan bahwa sejak awal abad ke 8M, Islam telah bertapak dan memiliki sebuah Kerajaan Islam di Jeumpa (Bireuen Aceh)pada tahun 770 M yang dipimpin salah seorang keturunan Arab kelahiran Parsiabernama Shahrianshah Salman al-Farisi. Sementara bukti terkini menyebutkan bahwasebelum Islam tiba, para pedagang Arab telah bermukim di sepanjang pantai utarapulau Sumatra dan ketika Islam dibawa oleh Nabi Muhammad langsung tersebar dikalangan pedagang Arab yang sudah hilir mudik selama lebih 500 tahun sebelum
2