SISTEM POLITIK MELALUI PENDEKATAN AGAMA
Pemikiran Cak Nur mulai menjadi isu nasional ketika ia menegaskanpentingnyasekularisasi politik sebagai paham kebangsaan. Sekularisasi berarti adapemisahanantara wilayah agama dan wilayah politik. Dalam bahasa Cak Nur, dalam kaitandenganpolitik Islam: "Islam, Yes, Partai Islam, No!" Slogan ini sebenamya dalam tanda tanya,tetapipemikiran Cak Nur sendiri mengafirmasikan pentingnya sekularisasi politik.Menurut Cak Nur,sekularisasi politik adalah solusi untuk mengembangkan paham kebangsaan di tengah pergulatanideologis keagamaan dan politik.Lontaran pemikiran Cak Nur era awal 1970-an ini memberikan pada kita renunganyangsangat penting tentang hubungan agama dan negara, yang sekarang munculkembali di eraotonomi daerah melalui munculnya banyak peraturan daerah yangbersifat keagamaan. Campur-aduk kepentingan agama dan negara, menjadikan agama ikutcampur dalam urusan negara, dansebaliknya negara juga ikut Campur dalam urusanagama. "Perselingkuhan" ini-begitu istilah yangsekarang sering dipakai-mengakibatkandampak pada ruang kebebasan beragama yang semakinsempit, dan terasa sesak diIndonesia, seperti terlihat dalam banyak kasus pelanggaran kebebasanberagamabelakangan ini. Tahun 2005-2006 boleh dikatakan sebagai tahun paling mundurdalamperlindungan kebebasan beragama di Indonesia. Keadaan ini menyuburkan apa yangCakNur sangat khawatir sejak lama, yaitu menguatnya fenomena radikalisme dalamIslam diIndonesia, yang akan merusak wajah Islam moderat dalam kehidupanmasyarakat.Cak Nur dengan pikiran yang jernih menjelaskan hubungan tak langsung antara agamadannegara, yaitu pada level etika politik. Agama memberikan dukungan keabsahan nilai-nilai politikyang membawa kepada kemasalahatan bersama. Tiga nilai etika politik yangsangat kompatibeldengan agama yang selalu Cak Nur elaborasi adalah: keadilan,keterbukaan, dan demokrasi.Karena sifat negara seharusnya netral-agama, makabahasa-bahasa etika politik itu bersifat umum.Di sini, Cak Nur menegaskan Pancasilasebagai common platform dari semua suku, ras, golongan,dan khususnya agama-agamayang ada di Indonesia. Mengelaborasi filosofi tentang Pancasila initermasuk hal yangmenjadi concern Cak Nur bertahuntahun. Walaupun seringkali dalammengelaborasiPancasila ini, Cak Nur mengaitkan dengan al-Qur'an, misalnya, tetapi pikiran-pikirannyabisa diamini oleh siapapun, tidak tergantung pada agamanya apa. Inilah sisiuniversalpemikiran Cak Nur. la memang seorang ahli Islam, tetapi begitu universal dankosmopolitkeislamannya itu, pikiran-pikirannya mempunyai pengaruh pada semua kalangan.Jenispemikiran Islam yang dalam istilah Cak Nur al-hanaft jah alsamhah-kecenderunganberagamayang terbuka dan penuh kelapangan-inilah yang terus ditegaskan sebelumbeliau sakit. Ini pulakesan kita kalau membaca bukunya Indonesia Kita, yangmerupakan manifesto Cak Nur untukreformasi.Maka sebenamya pikiran kebangsaan Cak Nur, yang pernah menjadi kontroversi besardikalangan umat Islam pada era 1970-an, merupakan suatu filosofi yang dipikirkan CakNur untukmembangun fondasi keindonesiaan, seperti Pancasila-termasuk didalamnya menempatkanperanan agama dalam politik. Cak Nur selalu menegaskan bahwaperanan agama dalarn politikada pada level moralitas, bukan politik. Khusus soal moralitasinilah Cak Nur sangat prihatin padakeadaan masyarakat Indonesia, dan lebih khusus padaumat Islam yang menupakan mayoritasbangsa Indonesia. Ada hukum yang Cak Nurkemukakan-dalam bahasa Latin coruptio optimipessima" ("kejahatan oleh orangterbaik adalah kejahatan yang terburuk," "corruption by the best isthe worst"), makapelanggaran prinsip keadilan dan keseimbangan-yang merupakan salah satupikiranetika politik yang selalu ditekankan Cak Nuroleh kaum Muslim akanmendatangkanmalapetaka berlipat ganda. Hukum yang sama sebenarnya berlaku atas parapenganut setiap agama, sebab setiap agama juga mengajarkan prinsip keadilan dankeseimbanganyang sama.Mungkin, karena Islam merupakan ajaran yang sakral dari Tuhan, Allah SWT, maka ketikadia dipertemukan dengan wacana dan kenyataan hidup per-’politik’-an, sering dianggapberbenturan. Perbenturan ini, sering dianggap untuk menjaga kesucian Islam itu sendiri.Sementara, di sisi lain ‘politik’ dianggap berwacana duniawi yang penuh intrik ‘kekotoran’,sehingga kalau dipertemukan dengan Islam, akan dapat menghilangkan kesakralan Islam itusendiri.Islam diturunkan Tuhan, Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW, ‘memang’ untukditerapkan di dalam kehidupan duniawi. Tuntunan Islam yang sangat utama, adalah menuntun
1