Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebijakan Khilafah Dalam Mengatasi Kelangkaan Pangan

Kebijakan Khilafah Dalam Mengatasi Kelangkaan Pangan

Ratings: (0)|Views: 3 |Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Oct 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/09/2014

pdf

text

original

 
02/10/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Kebijakan Khilafah dalam Mengatasi Kelangkaan Panganm.hizbut-tahrir.or.id/2013/10/01/kebijakan-khilafah-dalam-mengatasi-kelangkaan-pangan/1/5
HOME BERITA TERBARU TENTANG KAMI FAQ DEKSTOP
Kebijakan Khilafah dalam Mengatasi Kelangkaan Pangan
October 1st, 2013 by kafi
Oleh: Abu Muhtadi
Negeri subur ternyata tidakselamanya makmur. Kebijakanpertanian dan perdagangan yangamburadul terbukti telah membuatIndonesia sebagai negara agraris initerus menerus dihantui krisiskelangkaan pangan. Rakyat kembali jadi korban, terutama mereka paraperajin dan pemilik industri kecil,sebagaimana terjadi dalam kasus tempe-tahu belakangan ini. Jika ini terus terjadi dalam jangkapanjang, tentu akan memengaruhi pertumbuhan dan kualitas hidup rakyat.Salah urus pemerintah dalam sektor pangan ini tampak dalam rendahnya pasokan dalam negeriserta ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga kestabilan harga. Program swasembadahanyalah isapan jempol semata.Sementara permainan kartel benar-benar telah membuat hargaterus melambung tinggi, meski harga internasional menurun.
Mewujudkan Swasembada
Islam dengan serangkaian hukumnya mampu merealisasikan swasembada pangan. Secaraumum hal ini tampak dalam politik pertanian yang akan dijalankan oleh Khilafah sebagai berikut:
Pertama:
kebijakan di sektor hulu yaitu kebijakan untuk meningkatkan produksi pertanian melaluiintensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi ditempuh dengan jalan penggunaan sarana produksipertanian yang lebih baik. Untuk itu, khilafah akan menerapkan kebijakan pemberian subsidi
VIDEO FOTO KEGIATAN
 
02/10/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Kebijakan Khilafah dalam Mengatasi Kelangkaan Panganm.hizbut-tahrir.or.id/2013/10/01/kebijakan-khilafah-dalam-mengatasi-kelangkaan-pangan/2/5
untuk keperluan sarana produksi pertanian. Keberadaan
diwan ‘atho
(biro subsidi) dalam
baitul mal 
akan mampu menjamin keperluan-keperluan para petani menjadi prioritas pengeluaran
baitul mal 
. Kepada para petani diberikan berbagai bantuan, dukungan dan fasilitas dalam berbagaibentuk; baik modal, peralatan, benih, teknologi, teknik budidaya, obat-obatan,
research
,pemasaran, informasi, dsb; baik secara langsung atau semacam subsidi. Maka seluruh lahanyang ada akan produktif. Negara juga akan membangun infrastruktur pertanian, jalan, komunikasi,dsb, sehingga arus distribusi lancar.Ekstensifikasi pertanian dilakukan untuk meningkatkan luasan lahan pertanian yang diolah. Untukitu negara akan menerapkan kebijakan yang dapat mendukung terciptanya perluasan lahanpertanian tersebut. Di antaranya adalah bahwa negara akan menjamin kepemilikan lahanpertanian yang diperoleh dengan jalan menghidupkan lahan mati (
ihya’ul mawat 
) dan pemagaran(
tahjîr 
) bila para petani tidak menggarapnya secara langsung. Negara juga dapat memberikantanah pertanian (
iqtha’ 
) yang dimiliki negara kepada siapa saja yang mampu mengolahnya.Persoalan keterbatasan lahan juga dapat diselesaikan dengan pembukaan lahan baru, sepertimengeringkan rawa dan merekayasanya menjadi lahan pertanian lalu dibagikan kepada rakyatyang mampu mengolahnya, seperti yang dilakukan masa Umar bin Khaththab di Irak.Selain itu, negara akan menerapkan kebijakan yang dapat mencegah proses alih fungsi lahanpertanian menjadi lahan non pertanian. Hanya daerah yang kurang subur yang diperbolehkanmenjadi area perumahan dan perindustrian. Di samping itu, negara juga tidak akan membiarkanlahan-lahan tidur, yaitu lahan-lahan produktif yang tidak ditanami oleh pemiliknya. Jika lahantersebut dibiarkan selama tiga tahun maka lahan tersebut dirampas oleh negara untuk diberikankepada mereka yang mampu mengolahnya. Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang mempunyai sebidang tanah, hendaknya dia menanaminya, atau hendaknya diberikan kepada saudaranya. Apabila dia mengabaikannya, maka hendaknya tanahnya diambil” (HR. Bukhari).
Kedua
: Kebijakan di sektor industri pertanian. Negara hanya akan mendorong berkembangnyasektor riil saja, sedangkan sektor non riil yang diharamkan seperti bank riba dan pasar modaltidak akan diizinkan untuk melakukan aktivitas. Dengan kebijakan seperti ini maka masyarakatatau para investor akan terpaksa ataupun atas kesadaran sendiri akan berinvestasi pada sektor riil baik industri, perdagangan ataupun pertanian. Karena itu sektor riil akan tumbuh danberkembang secara sehat sehingga akan menggerakkan roda-roda perekonomian.
Menjaga Kestabilan HargaKhilafah akan menjaga kestabilan harga
dengan dua cara:
Pertama:
menghilangkan distorsimekanisme pasar syariah yang sehat seperti penimbunan, intervensi harga, dsb. Islam tidakmembenarkan penimbunan dengan menahan stok agar harganya naik. Abu Umamah al-Bahiliberkata: “
Rasulullah SAW melarang penimbunan makanan” 
(HR al-Hakim dan al-Baihaqi).
Jika pedagang, importir atau siapapun menimbun, ia dipaksa untuk mengeluarkan barang danmemasukkannya ke pasar. Jika efeknya besar, maka pelakunya juga bisa dijatuhi sanksi
 
02/10/13Hizbut Tahrir Indonesia » Blog Archive » Kebijakan Khilafah dalam Mengatasi Kelangkaan Panganm.hizbut-tahrir.or.id/2013/10/01/kebijakan-khilafah-dalam-mengatasi-kelangkaan-pangan/3/5
tambahan sesuai dengan kebijakan khalifah dengan mempertimbangkan dampak dari kejahatanyang dilakukannya. Di samping itu Islam tidak membenarkan adanya intervensi terhadap harga.Rasul bersabda: “
Siapa saja yang melakukan intervensi pada sesuatu dari harga-harga kaumMuslimin untuk menaikkan harga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untumendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada Hari Kiamat kelak 
(HR Ahmad, al-Hakim, al-Baihaqi)
 Adanya asosiasi importir, pedagang, dsb, jika itu menghasilkan kesepakatan harga, maka itutermasuk intervensi dan dilarang.
Kedua:
menjaga keseimbangan
supply 
dan
demand 
.Jika terjadi ketidakseimbangan supply dan demand (harga naik/turun drastis), negara melaluilembaga pengendali seperti Bulog, segera menyeimbangkannya dengan mendatangkan barangbaik dari daerah lain. Inilah yang dilakukan Umar Ibnu al-Khatab ketika di Madinah terjadi musimpaceklik. Ia mengirim surat kepada Abu Musa Radhiyallahu ‘anhu di Bashrah yang isinya:
Bantulah umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ! Mereka hampir binasa.” 
Setelah ituia juga mengirim surat yang sama kepada ‘Amru bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu di Mesir. Keduagubernur ini mengirimkan bantuan ke Madinah dalam jumlah besar, terdiri dari makanan danbahan pokok berupa gandum. Bantuan ‘Amru Radhiyallahu ‘anhu dibawa melalui laut hinggasampai ke Jeddah, kemudian dari sana baru dibawa ke Mekah
(Lihat: At-Thabaqâtul-Kubrakarya Ibnu Sa’ad, juz 3 hal. 310-317).
Ibn Syabbah meriwayatkan dari Al-Walîd bin Muslim Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
“Aku telahdiberitahukan oleh Abdurahmân bin Zaid bin Aslam Radhiyallahu ‘anhu dari ayahnya dari kakeknya bahwa Umar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkan ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuuntuk mengirim makanan dari Mesir ke Madinah melalui laut Ailah pada tahun paceklik 
(Lihat: Akhbârul-Madînah, Karya Abu Zaid Umar Ibnu Syabbh, Juz 2, hal 745).
Dalam riwayat lain, AbuUbaidah Radhiyallahu ‘anhu pernah datang ke Madinah membawa 4.000 hewan tunggangan yangdipenuhi makanan. Umar Radhiyallahu ‘anhu memerintahkannya untuk membagi-bagikannya diperkampungan sekitar Madinah.
(Lihat Târîkhul Umam wal Muluk, Karya Imam ath-Thobariy,Juz 4, hal. 100).
 Apabila pasokan dari daerah lain juga tidak mencukupi maka bisa diselesaikan dengankebijakan impor. Impor hukumnya mubah. Ia masuk dalam keumuman kebolehan melakukanaktivitas jual beli. Allah SWT berfirman:
“Allah membolehkan jual beli dan mengharamkan riba(TQS Al-Baqarah: 275)
. Ayat ini umum, menyangkut perdagangan dalam negeri dan luar negeri.Karenanya, impor bisa cepat dilakukan tanpa harus dikungkung dengan persoalan kuota. Disamping itu, semua warga negara diperbolehkan melakukan impor dan ekspor (kecualikomoditas yang dilarang karena kemaslahatan umat dan negara). Perajin tempe secara individuatau berkelompok bisa langsung mengimpor kedelai. Dengan begitu, tidak akan terjadi kartelimportir.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->