Workshop Revitalisasi Pesantren sebagai Wahana Kaderisasi Ulama, 9 Oktober 2008 diselenggarakan oleh Pondok Pensantren DiniyahPasie, Candung, Agam.DR. H. Shofwan Karim Elha, MA
DISKURSUS PESANTREN WAHANA KADERISASI ULAMA
Oleh DR. H. Shofwan Karim Elha, MA
Beberapa sumber dan literatur menunjukkan bahwa secara terminologis istilah pendidikanpesantren, menurut corak dan bentuknya yang asli adalah suatu sistem pendidikan yangberasal dari India. Pesantren pada mulanya, sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia,adalah sistem pendidikan yang digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaranagama Hindu dan Budha. Oleh karena agama Hindu dan Budha lebih duluan masuk danberkembang di Nusantara, maka setelah Islam masuk dan tersebar di wilayah ini, sistemtersebut kemudian diambil oleh Islam.Istilah pesantren sendiri bukan berasal dari istilah Arab, melainkan India (Karel ASteenbrink,
1986
).
Dalam kaitan transformasi pendidikan agama ini, istilah orisinal lokalyang bukan dari istilah Arab sudah biasa digunakan seperti halnya istilah mengaji, langgar diJawa, atau surau di Minangkabau, (Silfia Hanani, 2002:68) Rangkang, Meunasah dan Dayahdi Aceh dan sebagainya.
Menurut Manfred dalam Ziemek (1986) kata pesantren berasal darikata santri yang diimbuhi awalan
pe-
dan akhiran
-an
yang berarti menunjukkan tempat, makaartinya adalah tempat para santri. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata
sant
(manusia baik) dengan suku kata
tra
(suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berartitempat pendidikan manusia baik-baik. Sedangkan menurut Geertz pengertian pesantrenditurunkan dari bahasa India Shastri yang berarti ilmuwan Hindu yang pandai menulis,maksudnya pesantren adalah tempat bagi orang-orang yang pandai membaca dan menulis. Diamenganggap bahwa pesantren dimodifikasi dari model Hindu (Wahjoetomo, 1997: 70).
Zamakhsari Zofir (Zamakhsari,1983)Sebenarnya, istilah pesantren ini menjadi populer setelah pertengahan tahun 1960-an. Boleh jadi orde baru yang mengagungkan masa lalu dan ada semacam “politik pendidikan” dansuka memakai istilah lama dalam budaya Jawa, sehingga istilah pesantren menjadi populer.Padahal sebelum tahun 60-an, pusat-pusat pendidikan tradisional di Indonesia lebihmengenal sebutan pondok, surau, rangkang, meunasah, dan dayah dan seterusnya sepertidisebut terdahulu.
Kata pondok berasal dari funduq (bahasa Arab) yang artinya ruang tidur,asrama atau wisma sederhana, karena pondok memang sebagai tempat penampungan
berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasaTamil, yang berarti Guru mengaji.
Bagaimanapun, dalam corak yang paling akhir, secara umum pondok pesantren di Indonesiaterbagi kepada 3 tipe:
Salafiyah
( yang hanya mempelajari agama saja); kombinasi (madrasahdan pondok dalam satu komplek dengan memasukkan ilmu umum, seperti madrasah secaraumum) ; dan
ashriyah, khalaf
atau moderen ( agama dan umum secara seimbang dan dikelolasecara manajemen modern). Pada sisi lain sebenarnya 3 tipe ini bisa disederhanakan menjadi 2tipe saja yaitu :
salafiyah
(yang teradisional) dan tipe
khalaf
yang moderen itu.
1
Disampaikan pada Workshop Revitalisasi Pesantren sebagai Wahana Kaderisasi Ulama, 9 Oktober2008 diselenggarakan oleh Pondok Pensantren Diniyah Pasie, Candung, Agam.
2
DR. H. Shofwan Karim Elha, MA adalah Dosen IAIN IB Padang, Rektor Universitas MuhammadiyahSumbar dan Sekretaris ICMI Orwil Sumbar serta Komisaris PTSemen Padang
Leave a Comment