• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Nama : M. Rizalli RakhmanNIM : A1E 307704MENINGKATAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA TENTANGPERKALIAN BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARANKOOPERATIF LEARNING TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENTDIVISIONS (STAD) DI KELAS V SDN 2 BARABAI TIMUR HULU SUNGAI TENGAHBAB IPENDAHULUAN
.A.Latar BelakangPendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia(SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Kegiatan tersebut diselenggarakan padasemua jenjang pendidikan sekolah dasar sembilan tahun, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Didalam undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003tentang sistem pendidikan Nasional Bab II tentang dasar, fungsi dan tujuan pendidikan Pasal 3 berisi ”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkankemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalamrangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi pesertadidikagarmenjadimanusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadiwarga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Untuk mencapai haltersebut bukan hanya terletak pada kecanggihan kurikulum atau kelengkapan fasilitassekolah, melainkan melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalammengatur dan memanfaatkan mediator yang ada di dalam kelas.Guru sebagai tenaga pendidik harus mempunyai tujuan utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah yaitu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan,dapat menarik minat dan antusias siswa serta dapat memotivasi siswa untuk senantiasa belajar dengan baik dan semangat, sebab dengan suasana belajar yang
 
menyenangkanakan akan berdampak positif dalam pencapaian hasil belajar yangoptimal. Dalam upaya pencapaian hasil belajar yang optimal dapat dilihat darikeberhasilan siswa dalam memahami suatu materi pelajaran.Matematika sering kali dianggap pelajaran yang paling sulit, padahalmatematika merupakan mata pelajaran yang terdapat dalam kurikulum di sekolahyang diniliai cukup memegang peranan penting, baik pola pikirnya maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang harus dapat dikuasai para siswasedini mungkin.Hudoyo (1990) dalam Pahaji (2007; online) berpendapat bahwa “salah satuaspek penting dalam pengajaran matematika adalah agar siswa mampumengaplikasikan konsep-konsep matematika dalam berbagai keterampilan sertamampu menggunakan berbagai strategi untuk memecahkan masalah”. Sedangkanmenurut Sujono (Hamzah, 2001:8) matematika perlu diajarkan di sekolah karenamatematika menyiapkan siswa menjadi pemikir dan penemu, matematikamenyiapkan siswa menjadi warga negara yang hemat, cermat dan efisien danmatematika membantu siswa mengembangkan karakternya.
(
 
)
Pendapat yang lain adalah pendapat Stanic (Hamzah, 2001:8) menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk meningkatkankemampuan berfikir siswa, peningkatan sifat kreativitas dan kritis. Berdasar beberapa pendapat di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika di sekolahmerupakan hal yang penting untuk meningkatkan kecerdasan siswa.Dewan Nasional Guru-Guru Matematika dalam Suryadi Nomi dan AmiKumadin, SF (2002:43) menyarankan : “Pembelajaran seharusnya menggunakankedua potensi siswa, baik intelektual mupun fisik. Mereka harus menjadi pelajar yangaktif, ditantang untuk menerapkan pengetahuan utama dan pengalaman baru merekaserta makin bertambahnya situasi-situasi yang lebih sulit. Berbagai pendekatan pembelajaran harus mengajak siswa-siswa dalam proses pembelajaran daripadasekedar mengirimkan informasi kepada mereka untuk diterimanya”. Dalam hal iniDewan Nasional Guru-Guru Matematika menekankan agar mengubah sikap siswayang tradisional dari pasif menjadi pelajar aktif.
 
Sering ditemui di sekolah-sekolah yang menunjukkan bahwa sebagian besar  pengajaran matematika diberikan secara klasikal yang melalui metode ceramah tanpa banyak melihat kemungkinan penerapan metode lain yang sesuai dengan jenis materi, bahan dan alat yang tersedia. Sehingga, para siswa kurang berminat mengikuti proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, membuat siswa merasa bosan dan tidak tertarik dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar sehingga tidak ada motivasi daridalam diri siswa untuk berusaha memahami apa yang di ajarkan oleh guru. Peristiwayang sangat menonjol adalah siswa kurang kreatif, kurang terlibat langsung, dan pertanyaan jaranag muncul dari siswa ketika proses pembelajaran. Hal ini di dukungoleh pendapat Jenning dan Dunne (1999:13), dalam Pahaji (2007; online), “Dalam pengajaran matematika, penyampaian guru cenderung bersifat monoton, hampir tanpavariasi kreatif, kalau saja siswa ditanya ada saja alasan yang mereka kemukakanseperti matematika sulit, tidak mampu menjawab, takut disuruh guru ke depan dansebagainya, sehingga menimbulkan adanya gejala matematika phobia (ketakutan anak terhadap matematika) yang melanda sebagian besar siswa. Guru dalam pembelajarannya dikelas tidak mengaitkan dengan skema yang telah dimiliki olehsiswa dan siswa kurang diberikan kesempatan untuk menemukan kembali danmengkonstruksi sendiri ide-ide matematika.
(
 
)
Kenyataan demikian juga terjadi di SDN 2 Barabai Timur. Pada saat melakukanobservasi berupa pengamatan langsung di kelas V terlihat pada saat menyajikanmateri guru lebih dominan menerapkan beberapa metode yaitu ceramah, diskusi,tugas dan tanya jawab saja yang tidak secara keseluruhan menarik minat, motivasidan antusias siswa untuk belajar matematika. Suasana dalam proses pembelajarandemikian cenderung membuat siswa diam dan pasif ditempat duduk mendengarkandan menerima materi dari guru. Ketika siswa mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran, siswa pada umumnya merasa takut untuk bertanya kepada guru apalagi bagi siswa yang berkemampuan rendah mereka cenderung diam dan enggan dalammengemukakan pertanyaan atau pendapat.
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...