• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Stop KRR:Jerumuskan Remaja pada Gaul Bebas!
Pengantar
Kesehatan Reproduksi (Kespro) digagas pada
 International Conference Population Development 
(ICPD) tahun 1994 di Kairo. Indonesia sebagai salah satu peserta konferensi, diwajibkan (baca: dipaksa) menerapkan konsep itu. Termasuk gagasan Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), elemen Kespro yang diharapkanmencegah remaja dari seks pranikah dan berbagai masalah reproduksi.Maka, sejak 1994 hingga kini program itu terus digulirkan. Artinya, udahhampir 15 tahun diimplementasikan melalui Departemen Kesehatan, BKKBN,Departemen Pendidikan Nasional dan berbagai instansi terkait, termasuk LSM dalamdan luar negeri.Hasilnya? Jangankan mencegah seks pranikah, justru menjerumuskan remaja pada gaul bebas. Seks bebas yang jadi pangkal masalah kesehatan reproduksi remaja, justru makin lekat dengan kehidupan mereka. Buktinya, pelaku seks pranikah dikalangan remaja meningkat tajam, justru setelah ada program KRR.Berdasar penelitian YKB di 12 kota besar di Indonesia pada 1992 --sebelumada program KRR-- pelaku seks pranikah 10-31%. Hasil penelitian Komisi NasionalPerlindungan Anak (KPA) di 33 provinsi pada 2008, atau setelah 14 tahun KRR diterapkan, pelaku seks pranikah malah naik jadi 62,7%. Artinya, 26,23 juta remajahidup bergelimang syahwat.Lebih menyesakkan dada lagi, dari 97% remaja SMP dan SMA yang disurveiini, pernah nonton film porno dan 93,7% diantaranya pernah ciuman, melakukanstimulasi genital dan oral sex.
 Na’udzubillahi min dzalik.
Masih berdasar survei KPA 2008 itu, 25% atau sekitar 7 juta remaja yangmelakukan seks pranikah dan hamil, memilih aborsi. Angka itu meroket lebih dari 50 persen dibanding 2002 –sebelum ada KRR--, dimana janin yang diaborsi “baru” 3 juta kasus (Media Indonesia, 2/10/02).Sementara itu, karena seks bebas sebagai media penularan penyakit menular seksual, mulai dari yang ringan hingga yang mematikan (HIV/AIDS), maka penderitaIMS juga pasti meningkat. Diperkirakan 10-20 juta jiwa penduduk Indonesia rawantertular HIV (Republika, 27 Mei 2007). Dan, 81,87% penderita AIDS tersebut adalahremaja (Anonim, 2008).Ditambah penyalahgunaan narkoba yang pada 2004 menurut data BNN ada2,3 juta, tentu jumlah yang rawan tertular HIV/AIDS udah melewati 20 juta. Belumlagi kasus kanker serviks (Ca-cerviks) pada remaja yang kini jadi pembunuh utama diIndonesia.Ini jelas serius karena berdampak buruk bagi kualitas generasi. Karena itu, penting ditelaah secara mendalam bahaya KRR ala ICPD yang kini masidisosialisasikan ke remaja muslim. Juga, bagaimana seharusnya Islam mengatur masalah kesehatan reproduksi remaja agar mereka nggak terjerumus dalam perilakumenyimpang.1
1
 
Mengokohkan Seks Bebas
KRR digagas Barat karena remaja dianggap kurang paham soal seks dankespro, sehingga cenderung melakukan seks bebas. Remaja dianggap belumterpenuhi hak-hak reproduksinya, seperti hak mendapatkan informasi dan pendidikankespro dan belum terwujudnya keadilan dan kesetaraan gender yang menginginkanreproduksi nggak harus dalam bingkai keluarga (Mohamad, 2004).KRR digagas dengan landasan paham kebebasan, yaitu organ reproduksiharus dikendalikan sesuai keinginan masing-masing individu. Reproduksi sehat alaICPD berbunyi “Setiap individu harus memegang kendali atas tubuhnya sendirimelalui pilihan-pilihan yang dipahami dan bertanggung jawab dalam hubunganseksual. Ini membawa ke tingkat seksualitas yang sehat yang merupakan bagian penting dari kespro” (Depkes, 2003).Tak heran bila konten KRR berupa penjelasan tentang perubahan fisik dan psikis remaja; alat kelamin (organ reproduksi), baik anatomis maupun fungsifisiologis berikut bagaimana proses reproduksi terjadi; kehamilan dan cara pencegahan kehamilan tak diinginkan (KTD) dan aborsi “aman”; homo dan lesbiharus diakui sebagai suatu identitas seksual; seks bebas yang “aman”; dan infotentang berbagai penyakit menular seksual serta cara pencegahannya (Budiharsana,2002).Soal “seks aman”, dalam KRR digagas konsep ABCD (Budiharsana, 2004).A: abstinence, yaitu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks, B: befaithfull atau setia pada pasangan, C: condom, yaitu pakai kondom biar nggak kena penyakit menular dan nggak hamil.Konsep ABCD diartikan, kalo remaja mau sehat kespronya, jangan nge-seks.Tapi kalo nggak kuat nahan nafsu juga, boleh nge-seks asal dengan pasangan setia(pastinya bukan pasangan nikah, karena nikah dini dianggap buruk oleh KRR). Kalonggak bisa setia gimana? Tenang, pakai aja kondom, dijamin aman nggak bakal hamildan tertular pengakit menular seks.Faktanya, dari ABCD itu, konsep C paling gencar dipromosikan. Sejak dicanangkan 100% kondom oleh KPAI, kondom dan alat kontrasepsi lain makinmudah didapat di toko-toko obat dan apotik dengan harga murah (Rini, Susrini danWaraharini, 2008). Bahkan pernah setelah diberi pendidikan seks di suatu fakultaskesehatan masyarakat di salah satu PTN ternama di negeri ini, dibagikan kondom pada mahasiswanya. Di berbagai kota juga ada ATM kondom aneka rasa. Selain itu, juga dibagikan di mal-mal dan disediakan di laci-laci kamar hotel. Jelas, ini upatamenjerumuskan masyarakat pada seks bebas.Konsep berikutnya yang digagas KRR adalah “aborsi aman”. Artinya, kaloseks bebas berakibat KTD, remaja berhak aborsi demi terwujudnya mental yangsehat, sebagaimana definisi sehat reproduksi ala ICPD. Maka remaja difasilitasiuntuk mengakhiri hasil perzinahannya itu dengan aborsi yang “aman”.Praktik aborsi kerap dikaburkan dengan istilah induksi kehamilan. Padahalyang dimaksud adalah
abortion provokatus criminalis
, aborsi yang terkategorikriminal. Saat aborsi itu, pasangan zinah kerap mengisi formulir persetujuan denganmengaku-aku suami istri. Seperti di salah satu klinik aborsi di Jakarta (htt://effect2
2
 
matrix.com). Ini menjadi dalih pejuang proaborsi bahwa pelaku aborsi kebanyakan pasangan nikah, akibat gagal KB atau alasan lain. Makanya, diupayakan agar aborsidilegalkan melalui amandemen UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.Meski upaya ini belum gol, tapi aborsi diam-diam diwujudkan melaluirencana strategis Keluarga Berencana Internasional (IPPF). Berdasarkan catatantahun 2005, PKBI telah mendirikan sembilan klinik kespro terpadu dan 40 klinik sederhana yang tersebar di lebih dari 25 provinsi di Indonesia. Selain itu PKBI jugamemiliki pusat pelayanan sahabat remaja di beberapa provinsi di Indonesia (BPFA,2005).Untuk melatih keterampilan aborsi “aman” buat para medis, udah diuji coba penggunaan AVM (Aspirasi Vakum Manual) di beberapa sentra pendidikankebidanan, puskesmas-puskesmas dan praktik aborsi di 8 rumah sakit pendidikan diIndonesia (Kesuma, 2004). Walhasil, kalo aborsi dibolehkan, remaja makin santaimelakukan seks bebas. Termasuk seks dengan sejenis yang menurut versi KRR alaICDP dianggap sebagai identitas seksual, bukan kelainan yang harus dikutuk.Selanjutnya, kalo dicermati, isi dan ilustrasi KRR nggak beda sama tayangan porno. Nggak layak dijelaskan pada remaja SMP-SMA dan seusianya yang belum
married 
. Wajar kalo ada yang komentar “ini sama saja menyuruh remaja berseks bebas”. Ya, bagi remaja normal, setelah mendapat penjelasan KRR dijamin bakalterbentuk persepsi seksual yang justru merangsang nafsu seksnya (
 sexual disire
).Apalagi, saat ini remaja dipapari berbagai fakta seksual yang memudahkan bangkitnya syahwat. Seperti perempuan berpakaian minim; adegan mesum; konten porno di majalah, koran, buku-buku, video, game, handphone, acara TV dan film.Termasuk internet, remaja mana saja mudah mengakses gambar-gambar panas.Hasrat seksual remaja pun nggak terbendung. Apalagi lingkungan mendukung remaja buat melampiaskan hasrat seksnya yang kadung bergelora. Seperti di rumah (saat ortunggak ada), di kost, tempat hiburan, hotel, dalam mobil bahkan di kampus atau kelas(http://varfin.wordpress.com/2008/06/12).Liberalisasi seks makin merebak, ketika pemenuhan seks yang halal dihalang-halangai, bahkan ditutup. Misal mencap pernikahan usia muda yang disunahkandengan citra negatif karena dituduh membahayakan kesehatan (penyebab kanker serviks), melanggar hak anak, mengakibatkan penderitaan, kemelaratan, menurunkankualitas remaja dan masa depan remaja nggak menentu. Lalu dipopulerkan istilahmematangkan usia nikah. Bahkan dalam KRR ICPD larangan nikah dini mendapat porsi khusus (Triyulianti, 2009; Halijah, 2008). Walhasil, remaja digiring untuk lebihmemilih seks bebas daripada nikah dini.Kesimpulan dari semua itu, gagasan dan tindak aksi KRR-ICPD hanyalahmengeksiskan liberalisasi seks (Gambar 1).3
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...