Sangat jelas, even ini penuh dengan konspirasi menghancurkan negeri-negeri Muslim. Initerihat dari perubahan paradigma pendekatan demografi yang berkedok menyelesaikan persoalanledakan penduduk (baca: KB) ke pendekatan kesehatan reproduksi (baca: seks bebas) yang dikemasdengan slogan kesehatan perempuan. Alih-alih meningkatkan derajat kesehatan perempuan, yangterjadi adalah semakin banyaknya masalah kesehatan yang menimpa masyarakat.
Kespro: Menuju Liberalisasi
Aroma liberalisasi jelas tercium pada gagasan ini. Hal ini bisa disimpulkan dengan mengamatirencana kerja ICPD dalam menjelaskan kerangka bagi 4 tujuan status kesehatan reproduksi yang lebih baik, yaitu: tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yangdipahami dan bertanggung jawab;
setiap tindakan seks terbebas dari infeksi; setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan; serta setiap kehamilan dan persalinan harus aman.Elemen-elemen kespro di Indonesia menurut Departemen Kesehatan tahun 1995 adalahkeluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) danHIV/AIDS, serta kesehatan reproduksi remaja. Dengan membawa semangat ICPD dan melandasinyadengan tujuan dan rencana kerja yang ada, elemen kespro tersebut diterjemahkan dengan persepsi atausudut pandang liberal yang mengagung-agungkan hak reproduksi perempuan.
Pada elemen keluarga berencana
, misalnya, dengan pemahaman dasar bahwa perempuan berhak untuk menentukan kapan dia akan bereproduksi atau tidak, maka seseorang bisa kapan sajamemakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. Seorang istri bisa memakai alat kontrasepsi, sekalipuntanpa izin dari suami, saat ia tidak menginginkan kehamilannya. Atas nama hak reproduksi, seorang perempuan yang belum menikah pun boleh memakai alat kontrasepsi jika suatu ketika diamenginginkan atau membutuhkannya.Pemikiran liberal juga tampak saat
gagasan kespro berusaha meningkatkan kesehatan ibudan anak
. Angka kematian ibu yang tinggi hanya disoroti dari sisi banyaknya kehamilan yang tidak diinginkan. Seorang ibu yang khawatir, tertekan, dan merasa tidak bisa menerima kehamilannyakarena kegagalan alat kontrasepsi dapat saja dianggap tidak sehat secara mental dan sosial. Lalukondisinya dapat dianggap sebagai kegawatan medis yang membolehkan tindak aborsi. Demikian pula bagi seorang perempuan yang merasa khawatir, tertekan, dan gelisah karena hamil akibat perselingkuhan, hubungan pra nikah atau bahkan perkosaan dan
incest
; ia dapat dianggap tidak sehatsecara mental dan sosial sehingga dibolehkan melakukan tindak aborsi.Demikian halnya dengan pemikiran yang dikembangkan gagasan kespro
saat harusmenanggulangi ISR dan HIV/AIDS
. Adanya jargon, “
Jauhi AIDS, Jangan Orangnya,”
mengajarikita untuk toleran dengan orang-orang yang hobi berganti-ganti pasangan. Atas nama hak reproduksi perempuan, solusi untuk permasalahan ini adalah kampanye penggunaan kondom, pendidikan seksdan kespro bagi remaja agar mampu melakukan hubungan seks secara sehat dan tidak berisiko,mendorong para remaja untuk melakukan KB (KB pra merital) dengan suntikan anti hamil, dan yangsemisalnya. Kalaupun hubungan seks bebas ini berisiko menghasilkan janin, tidak perlu khawatir,karena aborsi telah dilegalkan.Yang dimaksud dengan pendidikan seks dan kespro bagi remaja pun ternyata hanya sebatasupaya untuk mewujudkan perilaku seksual yang 1.
’sehat’: yakni
agar remaja kita
tidak tertular penyakit menular seksual / IMS, 2.’aman’: dalam arti tidak sampai mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, 3. ’bertanggung jawab’: dalam arti asalkan remaja tahu resiko free sex yang mereka lakukan dan mereka siap menanggungnya (misal KTD, aborsi, menjadi ODHA) makamasalah dianggap selesai;
sembari membiarkan perilaku seksual mereka yang jelas-jelas telahmelanggar nilai-nilai dan norma agama (halal-haram). Sehingga, bukannya semakin berkurang, perilaku seksual bebas remaja kita semakin menjadi-jadi. Terlebih, sistem hidup bernuansa kapitalistik yang mengagung-agungkan hedonisme menjadi kondisi yang sangat kondusif bagi hal tersebut.3
Leave a Comment