Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kespro; Proyek Liberalisasi Di Bidang Kesehatan

Kespro; Proyek Liberalisasi Di Bidang Kesehatan

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 1,434 |Likes:
Published by faizatul rosyidah
sebuah artikel yang mencoba menunjukkan betapa liberalisasi telah merambah seluruh sektor di negeri ini. termasuk bidang kesehatan. Dan salah satu pintu masuk yang digunakan untuk melakukan liberalisasi di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui isu kesehatan reproduksi (kespro), dengan menjadikan remaja dan perempuan sebagai sasaran tembaknya.
sebuah artikel yang mencoba menunjukkan betapa liberalisasi telah merambah seluruh sektor di negeri ini. termasuk bidang kesehatan. Dan salah satu pintu masuk yang digunakan untuk melakukan liberalisasi di bidang kesehatan, diantaranya adalah melalui isu kesehatan reproduksi (kespro), dengan menjadikan remaja dan perempuan sebagai sasaran tembaknya.

More info:

Published by: faizatul rosyidah on Jul 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/24/2012

pdf

text

original

 
‘Kespro’: Proyek Liberalisasi di Bidang Kesehatan
”Kolonialisme lama hanya merampas tanah, sedangkan kolonialisasi baru merampas seluruhkehidupan.” (Vandana Shiva)
Berbeda dengan kolonialisme Eropa sebelum Perang Dunia I yang hanya merampas tanah dan bahan baku industri, kolonialisme gaya baru yang dipromotori para kapitalis neoliberal merampasseluruh kehidupan umat manusia. Di Indonesia liberalisasi masuk ke seluruh aspek kehidupan melalui pintu-pintu sistem politik dan pemerintahan, perundang-undangan, pendidikan serta media massa.Liberalisasi politik berlangsung massif sejak reformasi bergulir tahun 1998. Pemilihan umumyang biasanya hanya diikuti oleh tiga kontestan Pemilu sejak tahun 1971 berubah. Orang denganmudah membuat partai politik. Partai politik yang dulu eksis di era Orde Baru pun pecah. Partai-partai politik baru tumbuh bak jamur di musim hujan. Mereka menikmati euforia reformasi. Pemilu pertamadi era reformasi tahun 1999 diikuti oleh 48 partai politik. Pujian demi pujian pun datang dari AmerikaSerikat dan negara-negara Eropa.Liberalisasi ekonomi terjadi ketika UUD 1945 yang baru membuka kran seluas-luasnya bagimasuknya investor asing. Tak mengherankan jika kemudian lahir UU Migas, UU Kelistrikan, UUSumber Daya Air, dan UU Penanaman Modal sebagai turunan dari UUD 1945 hasil amandemen.Asing boleh menguasai sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak.Tak cukup hanya bidang politik dan ekonomi, liberalisasi pun merambah di bidang sosial. Initampak dari penentangan terhadap Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi (APP).Lebih dari 7 tahun RUU itu tak berhasil disetujui dan disahkan menjadi UU. Kalangan liberal tidak menginginkan Indonesia lebih baik. Mereka berharap Indonesia bebas sehingga semua produk  pornografi dan pornoaksi bisa masuk ke Indonesia dengan leluasa. Perlu diingat, produk inimerupakan salah satu barang/jasa yang paling besar keuntungannya di dunia. Bahkan survei yangdilakukan oleh kantor berita Associate Press (AP) menunjukkan, bahwa Indonesia berada di urutankedua setelah Rusia yang menjadi surga bagi pornografi.Satu hal lagi yang kini digencarkan kaum liberal di Indonesia, yakni liberalisasi agama,khususnya Islam. Berbagai upaya dilakukan agar Islam bisa menerima penafsiran baru yang datangdari luar Islam. Mereka menggiring Islam ke arah ‘Islam moderat’, yakni Islam yang lebih pro-Baratdan tercerabut dari akar pemahaman Islam yang sebenarnya. Munculnya aliran-aliran sesat, sepertiAhmadiyah merupakan salah satu jalan untuk menggerogoti pemahaman Islam. Dengan berbagai cara,kaum liberal mendukung keberadaan aliran sesat ini, termasuk aliran sesat lainnya seperti Salamullah(Lia Eden), Bahai, dan Al-Qiyadah (Mosadeq). Ini adalah proyek besar. Jika Ahmadiyah diakuisebagai bagian dari Islam, maka ini menjadi pintu masuk untuk merusak bagian-bagian Islam lainnya.Bidang kesehatan pun tak luput dari bidikan liberalisasi ini. Atas nama kesehatan reproduksi,mengalirlah pemikiran-pemikiran (liberal) berbahaya ke tengah-tengah masyarakat.
’Membaca’ dengan Jernih Kespro
Kesehatan reproduksi (kespro) diartikan sebagai
 suatu keadaan utuh secara fisik, mental, dan sosial dari penyakit dan kecacatan dalam semua hal yang berhubungan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi
.
2
Sehat secara fisik, mental, dan sosial suatu masyarakat tentu saja dipengaruhi olehsudut pandang kehidupan (ideologi). Pada ideologi Barat, aborsi dipandang sebagai satu upaya untuk mewujudkan kesehatan secara mental dan sosial. Mengapa demikian? Sebab, seorang perempuan yangmengalami kehamilan tidak diinginkan (KTD) merasakan ketidaknyamanan dalam hidupnya. Apalagi jika perempuan merasa bersalah dan tertekan akibat pandangan negatif masyarakat kepadanya. Olehkarena itu, KTD harus dihilangkan dengan jalan aborsi yang legal dan aman. Akibatnya, legalisasi1
 
aborsi menjadi satu bahasan penting dalam isu kespro. Mereka cenderung mengabaikan faktor  penyebab timbulnya KTD, yang sebagian besar disebabkan oleh seks bebas. Seks bebas sendiri yangmenjadi penyebab KTD tidak diurusi karena telah menjadi gaya hidup dan bagian dari kebebasan berperilaku yang mereka anut.Definisi kespro tersebut pertama kali diluncurkan pada tahun 1994 dalam sebuah konferensiinternasional yang membahas populasi penduduk dunia dan pembangunan di Kairo, Mesir. Dalamrencana aksi konferensi tersebut dan juga dalam rencana aksi Konferensi Dunia tentang Perempuan IVsatu tahun kemudian (Beijing, 1995), perempuan diakui memiliki empat macam hak dasar:
3
1.Hak untuk mendapatkan standar tertinggi kesehatan reproduksi dan seksual.2.Hak untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan kebebasan reproduksi yang bebasdari paksaan, diskriminasi, dan kekerasan.3.Hak untuk bebas memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak-anak serta hak untumemperoleh informasi sekaligus sarananya.4.Hak untuk mendapatkan kepuasan dan keamanan hubungan seks.Keempat hak tersebut dirumuskan di atas landasan pemikiran feminis yang lahir dari idesekular-liberal. Dengan prinsip dasar hak asasi individu, hak untuk menentukan nasib sendiri, sertaintegritas dan kepemilikan tubuhnya sendiri, perempuan bebas mengambil keputusan untumelakukan apapun yang terkait dengan reproduksi seksualnya. Ketika perempuan memilih untuk melakukan hubungan seksual dengan siapapun tanpa ikatan perkawinan, misalnya, hal itu dianggapsah-sah saja karena ia sendiri yang menentukan pilihannya. Hubungan ini diakui karena dilakukantidak atas dasar paksaan, diskriminasi, dan kekerasan; asalkan mereka bertanggung jawab atas pilihannya. Agar hubungan ilegal ini aman (bebas dari infeksi HIV/AIDS), pelaku seks bebas(umumnya remaja) diberi akses besar terhadap alat kontrasepsi. Pemberian akses ini pada hakikatnyamemberi ruang yang lebih luas bagi perilaku seks bebas.Jika seks bebas telah menjadi pilihan, manusia tidak lagi memilih ikatan perkawinan sebagaisarana menyalurkan keinginan seksual. Ikatan perkawinan dianggap beban karena laki-laki dan perempuan memiliki tanggung jawab besar terhadap anak. Dalam seks bebas tidak ada konsekuensi perempuan untuk hamil, melahirkan, menyusui, dan mendidik anaknya. Kalaupun hamil, agar sehatsecara mental ia boleh melakukan aborsi.Di sisi lain, dalam suasana kehidupan kapitalis, perempuan didorong untuk meraih materidengan bekerja. Rumah tangga dan seluk-beluknya dianggap menjadi rintangan untuk meraih suksesdalam karir. Akibatnya, perempuan memilih tidak menikah dan untuk menyalurkan keinginanseksualnya ia melakukan hubungan seks tanpa ikatan perkawinan.Begitupun laki-laki, dengan seks bebas ia tidak terikat untuk membiayai kehidupan istri dananaknya. Ia bisa beralih pada perempuan manapun saat ia bosan dengan satu perempuan. Kondisi inisudah terjadi pada masyarakat Barat yang menganut ideologi sekular-liberal. Saat ini mereka terancamkepunahan generasi akibat masyarakatnya enggan untuk menikah, hamil, dan berketurunan. Inilahdampak dari adanya seks bebas: institusi keluarga terancam hancur, generasi akan punah, dan yangtersisa adalah generasi pesakitan yang sedang menanti datangnya ajal. Di beberapa negera Eropaseperti Prancis, Jerman, dan Swiss, pemerintah mereka memberi penghargaan kepada pasangan yangmenikah dan melahirkan anak, karena jumlah pertumbuhan penduduk mereka mengalami penurunanyang signifikan.Dari uraian di atas tampak jelas bahwa konsep kespro dimaksudkan untuk melegalkan seks bebas yang akan menghancurkan institusi keluarga dan mengancam lestarinya generasi manusia.Kondisi seperti inilah yang mereka (Barat) hendak berlakukan terhadap negeri-negeri kaum Muslimmelalui konsep kespro, yang digagas pada pertemuan kependudukan dan pembangunan tingkat duniadi Kairo.2
 
Sangat jelas, even ini penuh dengan konspirasi menghancurkan negeri-negeri Muslim. Initerihat dari perubahan paradigma pendekatan demografi yang berkedok menyelesaikan persoalanledakan penduduk (baca: KB) ke pendekatan kesehatan reproduksi (baca: seks bebas) yang dikemasdengan slogan kesehatan perempuan. Alih-alih meningkatkan derajat kesehatan perempuan, yangterjadi adalah semakin banyaknya masalah kesehatan yang menimpa masyarakat.
Kespro: Menuju Liberalisasi
Aroma liberalisasi jelas tercium pada gagasan ini. Hal ini bisa disimpulkan dengan mengamatirencana kerja ICPD dalam menjelaskan kerangka bagi 4 tujuan status kesehatan reproduksi yang lebih baik, yaitu: tujuan agar setiap kegiatan seks harus bebas dari paksaan serta berdasarkan pilihan yangdipahami dan bertanggung jawab;
 
setiap tindakan seks terbebas dari infeksi; setiap kehamilan dan persalinan harus diinginkan; serta setiap kehamilan dan persalinan harus aman.Elemen-elemen kespro di Indonesia menurut Departemen Kesehatan tahun 1995 adalahkeluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR) danHIV/AIDS, serta kesehatan reproduksi remaja. Dengan membawa semangat ICPD dan melandasinyadengan tujuan dan rencana kerja yang ada, elemen kespro tersebut diterjemahkan dengan persepsi atausudut pandang liberal yang mengagung-agungkan hak reproduksi perempuan.
Pada elemen keluarga berencana
, misalnya, dengan pemahaman dasar bahwa perempuan berhak untuk menentukan kapan dia akan bereproduksi atau tidak, maka seseorang bisa kapan sajamemakai atau tidak memakai alat kontrasepsi. Seorang istri bisa memakai alat kontrasepsi, sekalipuntanpa izin dari suami, saat ia tidak menginginkan kehamilannya. Atas nama hak reproduksi, seorang perempuan yang belum menikah pun boleh memakai alat kontrasepsi jika suatu ketika diamenginginkan atau membutuhkannya.Pemikiran liberal juga tampak saat
gagasan kespro berusaha meningkatkan kesehatan ibudan anak 
. Angka kematian ibu yang tinggi hanya disoroti dari sisi banyaknya kehamilan yang tidak diinginkan. Seorang ibu yang khawatir, tertekan, dan merasa tidak bisa menerima kehamilannyakarena kegagalan alat kontrasepsi dapat saja dianggap tidak sehat secara mental dan sosial. Lalukondisinya dapat dianggap sebagai kegawatan medis yang membolehkan tindak aborsi. Demikian pula bagi seorang perempuan yang merasa khawatir, tertekan, dan gelisah karena hamil akibat perselingkuhan, hubungan pra nikah atau bahkan perkosaan dan
incest 
; ia dapat dianggap tidak sehatsecara mental dan sosial sehingga dibolehkan melakukan tindak aborsi.Demikian halnya dengan pemikiran yang dikembangkan gagasan kespro
saat harusmenanggulangi ISR dan HIV/AIDS
. Adanya jargon, “
 Jauhi AIDS, Jangan Orangnya,”
mengajarikita untuk toleran dengan orang-orang yang hobi berganti-ganti pasangan. Atas nama hak reproduksi perempuan, solusi untuk permasalahan ini adalah kampanye penggunaan kondom, pendidikan seksdan kespro bagi remaja agar mampu melakukan hubungan seks secara sehat dan tidak berisiko,mendorong para remaja untuk melakukan KB (KB pra merital) dengan suntikan anti hamil, dan yangsemisalnya. Kalaupun hubungan seks bebas ini berisiko menghasilkan janin, tidak perlu khawatir,karena aborsi telah dilegalkan.Yang dimaksud dengan pendidikan seks dan kespro bagi remaja pun ternyata hanya sebatasupaya untuk mewujudkan perilaku seksual yang 1.
sehat’: yakni 
agar remaja kita
tidak tertular  penyakit menular seksual / IMS, 2.’aman’: dalam arti tidak sampai mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, 3. ’bertanggung jawab’: dalam arti asalkan remaja tahu resiko free sex yang mereka lakukan dan mereka siap menanggungnya (misal KTD, aborsi, menjadi ODHA) makamasalah dianggap selesai;
sembari membiarkan perilaku seksual mereka yang jelas-jelas telahmelanggar nilai-nilai dan norma agama (halal-haram). Sehingga, bukannya semakin berkurang, perilaku seksual bebas remaja kita semakin menjadi-jadi. Terlebih, sistem hidup bernuansa kapitalistik yang mengagung-agungkan hedonisme menjadi kondisi yang sangat kondusif bagi hal tersebut.3

Activity (9)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ngah Adnan liked this
cantikaannisa liked this
Siti Khopsoh liked this
Shafina Azzahara liked this
hadiahkokok liked this
mzacky liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->