Monolog Si Kor
tentang apa yang sudah terjadi. Apalagi yang belum. Ner, teu? Tapi itu sangat berguna. Setidaknyauntuk orang-orang yang tak putus asa.”“Dengan gairah cinta yang membara, tentu hidup terasa indah. Dan kita tidak perlu lagi bosanmenunggu akan datangnya hari kiamat apabila hanya ingin mendapatkan sebentuk sorga. Sorgayang sebenar-benarnya sorga yang pernah tercipta dalam setiap angan-angan kita. Kelamaan.Dengan mimpi yang benar, semua itu dapat diraih mulai sekarang. Tinggal kita mau sajamelangkahkan kaki menujunya. Juga mengekarkan genggaman tangan untuk dapatmempertahankan apa-apa yang sudah pernah kita raih. Bahkan terus mengembangkannya. Dengan badan yang sehat, pemikiran yang tepat dan disertai pemahaman yang akurat. Serta yangterpenting,….. pake siasat !”“Intinya adalah strategi. Tentu, bagi orang-orang yang belum terlatih, semua itu akan mustahildiwujudkan. Sebuah sorga tak hanya dibangun atas dasar pemikiran yang kerdil, melainkan darisebuah cita-cita besar yang konsisten diperjuangkan. Apalagi kalau ditempuh dengan kaki yangtelanjang. Sebab jalannya penuh rintangan. Onak dan duri telah tersebar dimana-mana. Dansewaktu-waktu bisa dengan mudah menggores telapak kaki anda yang tidak hati-hati melaluinya. Nah, apalagi jika tangan anda juga hampa. Kosong. Tak membawa apa-apa pun sebagai bekal di perjalanan. Ya sudah, mati saja.”“Ini soal perjuangan, Saudara. Perjuangan! Jadi jangan main-main. Hidup dan mati kita sudah kita pertaruhkan disini. Dan tentunya, tak penting lagi menggunjingkan tentang seberapa banyak pengorbanan harta-benda serta keluarga apabila dibandingkan dengan suksesi yang akan nanti kitadapatkan. Semua itu kecil….. Ya, seperti hukum ekonomi saja. Membeli atau menjual. Dibeli ataudijual, gitu. Politik pun demikian. Dengan modal seminim mungkin, kita raih keuntungan sebesar- besarnya. Tidak apa keluar sejumlah uang kita guna mendapatkan banyak dukungan dalamkampanye. Toh kalau berhasil, kan kita juga yang menikmatinya. Sebarkan saja berbagai jala gunamenangkap pundi-pundi suara. Tebar pesona dimana-mana. Mulai tunjukan jasa-jasa kita walau punkecil dan sangat kita sadari semuanya itu tak begitu berarti. Bikin pernyataan-pernyataankontroversial. Pancing semua lawan politik anda supaya supaya mau berkonfrontasi secara terbuka.Kalah banyak dukungan kagak apa-apa. Yang penting kita angkat suara. Yang penting konflik. Yang penting populer. Dan persetan dengan setan.”“Oya, sebagai orang politik, tentu saja kita juga mesti tahu beberapa rumus basi namun masihsering dipakai sehingga kini. Kalau yang kita kejar hanya duit, ikuti saja berbagai bursa pencalonanuntuk suatu kedudukan dalam politik. Lebih kecil resikonya. Toh bila ada orang yang benar-benar ngotot ingin mencalonkan dirinya, maka ia akan menyumpal mulut anda dengan gula-gula. Buatdiri anda supaya tetap terlihat meyakinkan; bahwa anda punya pendukung begitu banyak dan hebat-hebat. Kalau gak punya, buat saja kebohongan besar. Ada banyak LSM-LSM gurem yang terbiasamemanfaatkan keruhnya situasi dan kondisi bangsa ini”“Kunjungi fakir miskin di daerah-daerah yang diperkirakan merupakan kantong-kantong suara yangcukup dominan. Beri saja sedekah. Gak perlu semua, yang penting ada publikasinya di mediamassa. Kunjungi beberapa orang penting di negeri ini supaya kita kelihatan banyak kenalan.Kunjungi pesantren dan pengajian serta rumah-rumah ibadah lainnya. Ambil hati para pemukaagamanya. Beri sedikit ocehan gombal dengan sebagai uang muka: kiriman semen dan batu batauntuk merehab bangunan yang rusak. Kalau semua masih bagus, anggap seperti sudah rusak. Bilangsaja catnya luntur. Lalu catut nama mereka dalam setiap obrolan dan kesempatan supaya publik punyakin bahwa kita ini benar-benar orang penting yang terpenting juga sangat dipentingkan. Jadi, jangan ragu dengan memasang embel-embel agama dalam kampanye. Jangan? Kenapa? Ah, sok suci anda ini. Dosa? Kata siapa….. This is just a game. Ini hanya permainan. Dalam politik kansah-sah saja. Apa ada yang marah? Ya, terserah. Ini kan kenyataan.”“Nah, untuk lebih memperbesar wacana, di atas sudah saya singgung sebelumnya. Yakni gunamemuluskan jalan anda mencapai tampuk kekuasaan, salah satunya adalah anda juga harus punyasatu dekengan lagi. Aparat keamanan? Bukan, sudah terlalu klise itu. Memang, asal punya duitcukup kita sudah bisa membeli perangkat penegak hukum di negeri ini. Preman? Itu sih gampang.
Karya : Irvan Mulyadie
Leave a Comment