• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Monolog Si Kor
sebuah naskah monolog
Karya : Irvan Mulyadie
Karya : Irvan Mulyadie
 
Dipersembahkan untuk :
Monolog Si Kor
sebuah naskah monolog
Si KOR
Karya : Irvan Mulyadie
PANGGUNG GELAP. SEBUAH LEDAKAN TERDENGAR DI LUAR GEDUNGPERTUNJUKKAN. ORANG-ORANG BERTERIAK. TAK JELAS APA YANGDIUCAPKANNYA. DAN SUARA-SUARA ITU MULAI MENDEKAT. LEBIH DEKAT. DEKATSEKALI. NAMUN PERLAHAN TAPI PASTI SUARA-SUARA ITU PUN MENJAUH.BERLALU ! SUASANA MENJADI HENING KEMBALI. HINGGA SENANDUNG YANGAGAK SUMBANG ITU BERDERAI :
Musim-musim bertaruh diriPada cuaca dan arus anginBatu-batu di gigir jalanBermimpi terus menjadi bintangHari-hari jadi penuh dengan bualanTak ada lagi yang sadarBahkan bagi yang bersandarPada bayang-bayang hujanAirmata….oh….airmata
PERLAHAN SEKALI, LAMPU MERAH MENYALA TEPAT DI ATAS SEBUAH KURSI YANGBERADA TEPAT DI TENGAH-TENGAH PANGGUNG. DAN MEMBENTUK SEBUAHLINGKARAN CAHAYA DENGAN POROS KURSI TERSEBUT. SESEORANG TELAH DIAMDI ATASNYA. DUDUK TENANG. TAPI LAMPU SEMAKIN TERANG KETIKA ORANGTERSEBUT MULAI BERGERAK MEMUTAR TUBUHNYA YANG MASIH LEKAT PADAKURSI DENGAN GERAKAN YANG SANGAT DRAMATIS. LALU MENGAHADAP KEARAH PENONTON. NIKMAT SEKALI TAMPAKNYA.WAJAHNYA PENUH KHARISMATIK. SEDIKIT KUMIS. STELAN BAJU SAFARI. RAMBUTMENGKILAT SEPERTI BASAH. DAN BERSEPATU ALA COWBOY. SEBELAH KAKINYAMENUMPANG DI ATAS LUTUT KAKI YANG LAIN. DIA TERSENYUM PADA PENONTON.SENYUMAN RAMAH YANG RADA ANEH. DAN SEBELUM MULUTNYA BICARA, IAMENGANGGUK DENGAN PENUH RASA HORMAT. TAPI TAMPAK KONYOL.“Selamat datang, Saudara-Saudariku…. Selamat berjumpa. Dan apa kabar ? Senang rasanya saat inisaya dapat bertatap muka dengan anda sekalian. Tak lain, karena saya selalu rindu dan menantikansaat-saat seperti ini datang. Meskipun pada kenyataannya, sama sekali kita ini tak pernah bertemusekali pun di masa lampau. Tapi tak apa-apa. Saya tak pernah punya pikiran jelek pada siapapun.Tak terkecuali kepada anda-anda sekalian yang sedang berada disini, dan menyimak denganseksama maupun belum mencapai pada tingkat pengistilahan nilai-nilai dari seksama itu sendiri.Boleh-boleh saja. Rilek saja. Karena saya percaya, bahwa masih ada cinta yang kesasar pada pandangan pertama….he….he…he. Dan itu, suaaaaangaaat pueeentiiing sekali !““Hidup memang penuh putaran. Bahkan putarannya tak pernah dapat kita kejar meskipun denganlangkah-langkah yang strategis berbantu alat serba canggih seperti apa pun. Sebab itu adalah kodrat.Sangat alami saya bilang, kalau kita tidak mau mengatakan semua itu sebagai sebuah bentuk ‘skenario besar’ yang konon dari sang maha pencipta manusia, dunia, langit dan bumi besertaisinya. Tuhan !”“Dan bersamaan dengan waktu yang mengalir, hidup pun tak ubahnya seperti air. Mudah membeku bila kedinginan. Menguap kalau dipanaskan. Bahkan menyublim dalam kondisi-kondisi tertentusehingga akal sehat kita ini tidak lagi diberi tengat jarak dan waktu untuk bisa berpikir kembali
Karya : Irvan Mulyadie
 
Monolog Si Kor
tentang apa yang sudah terjadi. Apalagi yang belum. Ner, teu? Tapi itu sangat berguna. Setidaknyauntuk orang-orang yang tak putus asa.”“Dengan gairah cinta yang membara, tentu hidup terasa indah. Dan kita tidak perlu lagi bosanmenunggu akan datangnya hari kiamat apabila hanya ingin mendapatkan sebentuk sorga. Sorgayang sebenar-benarnya sorga yang pernah tercipta dalam setiap angan-angan kita. Kelamaan.Dengan mimpi yang benar, semua itu dapat diraih mulai sekarang. Tinggal kita mau sajamelangkahkan kaki menujunya. Juga mengekarkan genggaman tangan untuk dapatmempertahankan apa-apa yang sudah pernah kita raih. Bahkan terus mengembangkannya. Dengan badan yang sehat, pemikiran yang tepat dan disertai pemahaman yang akurat. Serta yangterpenting,….. pake siasat !”“Intinya adalah strategi. Tentu, bagi orang-orang yang belum terlatih, semua itu akan mustahildiwujudkan. Sebuah sorga tak hanya dibangun atas dasar pemikiran yang kerdil, melainkan darisebuah cita-cita besar yang konsisten diperjuangkan. Apalagi kalau ditempuh dengan kaki yangtelanjang. Sebab jalannya penuh rintangan. Onak dan duri telah tersebar dimana-mana. Dansewaktu-waktu bisa dengan mudah menggores telapak kaki anda yang tidak hati-hati melaluinya. Nah, apalagi jika tangan anda juga hampa. Kosong. Tak membawa apa-apa pun sebagai bekal di perjalanan. Ya sudah, mati saja.”“Ini soal perjuangan, Saudara. Perjuangan! Jadi jangan main-main. Hidup dan mati kita sudah kita pertaruhkan disini. Dan tentunya, tak penting lagi menggunjingkan tentang seberapa banyak  pengorbanan harta-benda serta keluarga apabila dibandingkan dengan suksesi yang akan nanti kitadapatkan. Semua itu kecil….. Ya, seperti hukum ekonomi saja. Membeli atau menjual. Dibeli ataudijual, gitu. Politik pun demikian. Dengan modal seminim mungkin, kita raih keuntungan sebesar- besarnya. Tidak apa keluar sejumlah uang kita guna mendapatkan banyak dukungan dalamkampanye. Toh kalau berhasil, kan kita juga yang menikmatinya. Sebarkan saja berbagai jala gunamenangkap pundi-pundi suara. Tebar pesona dimana-mana. Mulai tunjukan jasa-jasa kita walau punkecil dan sangat kita sadari semuanya itu tak begitu berarti. Bikin pernyataan-pernyataankontroversial. Pancing semua lawan politik anda supaya supaya mau berkonfrontasi secara terbuka.Kalah banyak dukungan kagak apa-apa. Yang penting kita angkat suara. Yang penting konflik. Yang penting populer. Dan persetan dengan setan.”“Oya, sebagai orang politik, tentu saja kita juga mesti tahu beberapa rumus basi namun masihsering dipakai sehingga kini. Kalau yang kita kejar hanya duit, ikuti saja berbagai bursa pencalonanuntuk suatu kedudukan dalam politik. Lebih kecil resikonya. Toh bila ada orang yang benar-benar ngotot ingin mencalonkan dirinya, maka ia akan menyumpal mulut anda dengan gula-gula. Buatdiri anda supaya tetap terlihat meyakinkan; bahwa anda punya pendukung begitu banyak dan hebat-hebat. Kalau gak punya, buat saja kebohongan besar. Ada banyak LSM-LSM gurem yang terbiasamemanfaatkan keruhnya situasi dan kondisi bangsa ini”“Kunjungi fakir miskin di daerah-daerah yang diperkirakan merupakan kantong-kantong suara yangcukup dominan. Beri saja sedekah. Gak perlu semua, yang penting ada publikasinya di mediamassa. Kunjungi beberapa orang penting di negeri ini supaya kita kelihatan banyak kenalan.Kunjungi pesantren dan pengajian serta rumah-rumah ibadah lainnya. Ambil hati para pemukaagamanya. Beri sedikit ocehan gombal dengan sebagai uang muka: kiriman semen dan batu batauntuk merehab bangunan yang rusak. Kalau semua masih bagus, anggap seperti sudah rusak. Bilangsaja catnya luntur. Lalu catut nama mereka dalam setiap obrolan dan kesempatan supaya publik punyakin bahwa kita ini benar-benar orang penting yang terpenting juga sangat dipentingkan. Jadi, jangan ragu dengan memasang embel-embel agama dalam kampanye. Jangan? Kenapa? Ah, sok suci anda ini. Dosa? Kata siapa….. This is just a game. Ini hanya permainan. Dalam politik kansah-sah saja. Apa ada yang marah? Ya, terserah. Ini kan kenyataan.”“Nah, untuk lebih memperbesar wacana, di atas sudah saya singgung sebelumnya. Yakni gunamemuluskan jalan anda mencapai tampuk kekuasaan, salah satunya adalah anda juga harus punyasatu dekengan lagi. Aparat keamanan? Bukan, sudah terlalu klise itu. Memang, asal punya duitcukup kita sudah bisa membeli perangkat penegak hukum di negeri ini. Preman? Itu sih gampang.
Karya : Irvan Mulyadie
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...