Dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasiendengan penyakit kronis, pasien yang sangat lemah, dan pasien lumpuhdalam waktu lama, bahkan saat ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit(Morison, 2003).Angka prevalensi yang dilaporkan berbeda direntang antara 3%-11%(Allman, 1989), 11% (Meehan, 1994), 14% (Langemo dkk, 1989), dan 20%(Lashem dan Skelskey, 1994). Angka prevalensi pada tempat perawatan danperawatan jangka panjang berada pada rentang dari 3,5% (Leshem danSkelskey, 1994), 5% (Survey McKnight, 1992) sampai 23% (Langemo dkk,1989; Young, 1989). Prevalensi dekubitus pada individu yang dirawat dirumah tanpa sepervisi atau dengan bantuan tenaga professional tidak begitu jelas (AHCPR, 1994). Keadaan perawatan rumah, angka prevalensi telahdilaporkan menjadi 12,9% (Hentzen, Bargstrom, dan Pazelh, 1993) dan 19%(Hanson dkk, 1993) (Potter, Perry, 2005).Dalam sebuah studi dari 132 rumah sakit di Inggris, David (1983)menemukan tingkat prevalensi dekubitus sejumlah 6,7%. Nuggist et al(1987), mempelajari otoritas kesehatan Nottingham, menemukan sebuahgambaran prevalensi dekubitus sebanyak 5,8%. Lindsay (1989), mempelajari
Leeds Western District
, melaporkan gambaran prevalensi dekubitussebanyak 4,8%. Preston (1989), menemukan tingkat prevalansi dekubituskomunitas sebanyak 9,4% (Basford, Slevin, 2006).
2