Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
BAB IPENDAHULUANA.LATAR BELAKANG
Menurut Sabandar (2008), dekubitus juga terjadi dengan frekuensiyang cukup tinggi pada pasien-pasien neurologis oleh karena imobilisasiyang lama dan berkurangnya kemampuan sensorik. Dan Feigin (2007), jugamengatakan bahwa salah satu penyebab utama kematian setelah stroketanpa pencegahan yang memadai, pada 10-20% pasien mengalamidekubitus dengan atau tanpa disertai infeksi.Dekubitus merupakan kerusakan/kematian kulit sampai jaringandibawah kulit, bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibatadanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehinggamengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. Dekubitus atau lukatekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karenaadanya kompressi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (
bony  prominence
) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama.Kompressi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah padadaerah yang tertekan. Apabila ini berlangsung lama, hal ini dapatmenyebabkan insufisiensi aliran darah, anoksia atau iskemi jaringan danakhirnya dapat mengakibatkan kematian sel (Sutanto, 2008).
1
 
1
 
Dekubitus merupakan masalah yang dihadapi oleh pasien-pasiendengan penyakit kronis, pasien yang sangat lemah, dan pasien lumpuhdalam waktu lama, bahkan saat ini merupakan suatu penderitaan sekunder yang banyak dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit(Morison, 2003).Angka prevalensi yang dilaporkan berbeda direntang antara 3%-11%(Allman, 1989), 11% (Meehan, 1994), 14% (Langemo dkk, 1989), dan 20%(Lashem dan Skelskey, 1994). Angka prevalensi pada tempat perawatan danperawatan jangka panjang berada pada rentang dari 3,5% (Leshem danSkelskey, 1994), 5% (Survey McKnight, 1992) sampai 23% (Langemo dkk,1989; Young, 1989). Prevalensi dekubitus pada individu yang dirawat dirumah tanpa sepervisi atau dengan bantuan tenaga professional tidak begitu jelas (AHCPR, 1994). Keadaan perawatan rumah, angka prevalensi telahdilaporkan menjadi 12,9% (Hentzen, Bargstrom, dan Pazelh, 1993) dan 19%(Hanson dkk, 1993) (Potter, Perry, 2005).Dalam sebuah studi dari 132 rumah sakit di Inggris, David (1983)menemukan tingkat prevalensi dekubitus sejumlah 6,7%. Nuggist et al(1987), mempelajari otoritas kesehatan Nottingham, menemukan sebuahgambaran prevalensi dekubitus sebanyak 5,8%. Lindsay (1989), mempelajari
Leeds Western District 
, melaporkan gambaran prevalensi dekubitussebanyak 4,8%. Preston (1989), menemukan tingkat prevalansi dekubituskomunitas sebanyak 9,4% (Basford, Slevin, 2006).
2
 
Menurut Sabandar (2008), hasil penelitian di Amerika Serikatmenunjukkan bahwa pasien yang dirawat di Rumah sakit menderitadekubitus 3-10%, dan 2,7% berpeluang terbentuk dekubitus baru. Dari hasilpenelitian diatas bahwa peningkatan dekubitus terus terjadi hingga 7,7-26,9%. Lalu Mukti (2005) menambahkan bahwa prevalensi terjadinya lukadekubitus di Amerika Serikat cukup tinggi sehingga mendapatkan perhatiandari kalangan tenaga kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensiluka dekabitus bervariasi, tetapi secara umum dilaporkan bahwa 5-11%terjadi di tatanan perawatan akut (
acute care)
, 15-25% di tatanan perawatan jangka panjang (
longterm care)
, dan 7-12% di tatanan perawatan rumah(
home health care
).Insidens di RS. Cipto Mangunkusumo yang tepat penderita ulkusdekubitus sulit diketahui. Penyelidikan menunjukkan bahwa kira-kira 28%penderita di rumah sakit mungkin terkena. Penderita dengan trauma medulaspinalis, insidensnya 25 - 85% dengan angka kematian antara 7-8% (Hidayatdkk, 2000).Menurut Potter, Perry (2005), ada tiga area intervensi keperawatanutama mencegah terjadinya dekubitus yaitu: pertama perawatan kulit, yangmeliputi higienis dan perawatan kulit topikal. kedua pencegahan mekanik danpendukung untuk permukaan, yang meliputi pemberian posisi, penggunaantempat tidur dan kasur terapeutik:. Dan yang ketiga pendidikan yang mana
3
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more